TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Mimpi Korban Banjir Semarang Jadi Kenyataan Berkat BTN

Dari musibah menjadi berkah

Suasana rumah subsidi BTN di kompleks Perumahan Graha Raya 3, Kelurahan Kliris, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Bulan Februari menjadi momentum yang tak pernah dilupakan oleh warga Kota Semarang. Tepatnya tanggal 5 Februari 2021 atau setahun yang lalu warga Ibukota Jateng itu dikejutkan dengan banjir bandang akibat hujan deras yang mengguyur hanya dalam hitungan jam. 


Warga Semarang yang sejak bertahun-tahun sudah akrab dengan banjir, pada Sabtu (6/2/2021) benar-benar dibuat tak berdaya. Jantung kota lumpuh. Simpul-simpul jalan yang menghubungkan antar kampung dan perumahan elite pun tak luput dari terjangan banjir. 


Hampir seluruh kecamatan terendam banjir bandang. Bandara Ahmad Yani, Stasiun Tawang dan Stasiun Poncol ditutup sementara karena terendam banjir setinggi dada orang dewasa. 


Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mencatat ada 10 kecamatan ditambah sekitar 76 kelurahan yang kala itu terendam banjir. 10 kecamatan yang dimaksud adalah Kecamatan Tugu, Kecamatan Semarang Utara, Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan Semarang Tengah, Kecamatan Semarang Timur, Kecamatan Semarang Selatan, Pedurungan, Gayamsari, Ngaliyan dan Genuk. 

 

Baca Juga: Beli Rumah Pakai KPR BTN Bisa Angsur Suka-Suka, Millennial Merapat!

Banjir bandang melanda Semarang pada Februari 2021

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Nur Kasanah menceritakan ketika banjir bandang melanda Semarang, dirinya sedang perjalanan pulang ke rumah. Rumah yang ada di Kecamatan Semarang Utara menjadi wilayah yang terdampak cukup parah. 


"Rumah saya kemasukan banjir sampai setinggi paha. Semua perabotan basah. Sampai-sampai saya musti menginap ke rumah kerabat yang masih satu kampung. Rumah kerabat saya itu kebetulan tidak kebanjiran, jadinya bisa numpang tidur," kata Nur saat berbincang dengan IDN Times sembari mengenang banjir yang melumpuhkan aktivitas warga Semarang tersebut, Jumat (18/2/2022). 


Keesokan harinya saat banjir mulai surut, Nur harus bekerja keras untuk membersihkan kotoran dan lumpur yang masuk ke rumahnya. Berada di dekat bantaran Kali Semarang, rumah Nur di Kelurahan Kuningan menjadi lokasi yang terdampak banjir lumayan parah. 


"Sejak 15 tahun terakhir, baru sekarang ini muncul banjir besar," imbuh Imam, warga Kelurahan Kuningan lainnya. 


Nur mengaku setelah membersihkan sisa-sisa banjir, ternyata kejadian yang sama terulang kembali. Hanya selang dua minggu tepatnya di tanggal 23 Februari 2021 Kota Semarang kembali kebanjiran. Bahkan banjirnya lebih tinggi ketimbang kejadian awal Februari. 


Sontak ia yang pulang kerja menjelang Maghrib, langsung terkulai lemas saat melihat rumahnya kembali kebanjiran. "Yang awalnya sudah susah-susah dibersihin, eh malah kebanjiran lagi. Yang banjir kedua kalinya lebih tinggi karena hujannya tidak kunjung berhenti," katanya. 

Ratusan ribu arga Semarang jadi korban banjir

Ilustrasi banjir (IDN Times/Mardya Shakti)

Pihak BPBD Kota Semarang mencatat secara keseluruhan, rumah yang terendam banjir selama bulan Februari 2021 berjumlah 77.834 unit. Sebarannya pun merata. 


Sekretaris BPBD Kota Semarang, Winarsono mengatakan yang paling parah di tiga kecamatan. Seperti di Pedurungan ada rumah yang kebanjiran sebanyak 31.607 unit, di Semarang Utara ada 10.962 rumah dan Genuk ada 20.736 rumah. 


BPBD juga mencatat adapun korban jiwa akibat bencana banjir mencapai 247.158 orang. Nur yang jadi korban banjir dua kali dalam sebulan harus terkuras pikiran dan tenaganya untuk bisa kembali bangkit. 


"Setelah saya rembugan dengan suami, akhirnya saya putuskan untuk mencari rumah baru. Setelah banyak pertimbangan, terus diputuskan untuk mencari kreditan rumah," akunya. 


Hunting lokasi pun dilakukan. Berbekal sejumlah informasi dari media sosial, ia mencoba menyambangi wilayah Boja, Kendal. Tempat yang dituju adalah sebuah proyek pembangunan Perumahan Graha Raya 3 yang terletak di Kelurahan Kliris. 


"Karena saya lihat jaraknya masih terjangkau dari tempat saya kerja di Semarang bawah, ya Bismillah saya coba mengakses kredit rumah di Kliris. Pengembang menawarkan down payment (DP) Rp1 juta. Lalu saya lengkapi semua dokumennya," terangnya. 


Dokumen yang dilengkapi oleh Nur berupa slip gaji tiga bulan, surat pernyataan dari kelurahan, surat pernyataan dari kantornya, alamat rumah asal dan mengisi pendaftaran melalui Bank BTN Cabang Peterongan Semarang. 


"Di bank, dokumen saya diteliti lagi. Dicek BI Checkingnya dan lain-lain. Sambil menunggu panggilan dari BTN, setiap hari saya berdoa, bermunajat kepada Allah supaya impian saya punya rumah bisa dikabulkan,".

Berharap mukjizat di tengah bencana

Penampakan salah satu rumah subsidi BTN yang terletak di kompleks Perumahan Graha Raya 3, Kelurahan Kliris, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Menurut Nur, doa yang dipanjatkan terus-menerus akan menjadi sebuah mukjizat. Mukjizat itu pun tiba tepat pada bulan Maret 2021.


Ia yang memantau tahapan demi tahapan pencairan kredit rumahnya melalui aplikasi resmi milik Kementerian PUPR, Sikasep kemudian membuahkan hasil yang manis. Pengajuan kredit rumahnya berjalan mulus. Doanya terkabul. Impiannya memiliki rumah yang bebas banjir bisa terwujud. 


"Itu benar-benar momen yang sulit dipercaya. Sebuah mukjizat datang pada saat yang tepat. Ketika saya butuh rumah untuk masa depan saya dan suami, akhirnya terwujud juga. Paling tidak rumah subsidi dari BTN bisa memberikan kenyamanan buat saya dan keluarga," ujarnya. 

Memutuskan mencari hunian baru

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Seorang pekerja bangunan tampak sibuk merampungkan pembangunan rumah subsidi type 30 di Kompleks Blok X Perumahan Puri Delta Asri 7, Kelurahan Magelung, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Berdasarkan keputusan BTN, Nur melakukan pembayaran akad kredit sebesar Rp24 juta. Rumah subsidi yang ia beli totalnya seharga Rp137 juta dengan cicilan Rp924 ribu per bulan selama 20 tahun. 


Keputusan Nur memilih rumah subsidi di Kliris Boja merupakan pilihan yang tepat. Selain tempatnya masih asri dan sejuk, Desa Kliris yang menjadi lokasi Perumahan Graha Raya 3 mudah dijangkau dari jalan raya yang menghubungkan Mijen dan Gunungpati maupun Kecamatan Boja. 


Menurut Branch Manager BTN Cabang Peterongan Semarang Dony Dwiantoro, kawasan Kecamatan Boja memang menjadi priotas dalam pembiayaan BTN untuk sektor kredit perumahan subsidi. Selain bebas dari bencana banjir dan longsor, Boja dianggap juga menjadi lokasi perbukitan yang ideal untuk dibangun sebuah perumahan. 


"Daerah atas yang berbatasan dengan Semarang seperi Kecamatan Boja di Kendal merupakan salah satu prioritas kami untuk melakukan pembiayaan kredit perumahan. Kami cenderung bekerja sama dengan pengembang untuk membangun ke arah tengah atau di dekat perbukitan. Karena kita telah memetakan mana kawasan yang rawan banjir dan longsor. Kita sudah kerjasama dengan dinas terkait, untuk daerah tertentu yang rawan longsor, terjal dan langganan banjir, maka BTN tidak akan melakukan pembiayaan di lokasi tersebut," terangnya kepada IDN Times. 

BTN Semarang targetkan kredit perumahan tumbuh 10-15 persen

Deretan rumah bersubsidi yang sedang dibangun di Kompleks Blok X, Perumahan Puri Delta Asri 7, Magelung, Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Pihaknya setiap tahunnya sangat berkomitmen menjaga kepercayaan masyarakat untuk mendapatkan kredit rumah yang terjangkau. Pihaknya terus berusaha meningkatkan optimisme dan penuh keyakinan untuk tetap bisa menggenjot pembiayaan kredit perumahan subsidi maupun non subsidi. 


Harga rumah subsidi dari BTN kurang lebih Rp150 juta. Sedangkan harga rumah non subsidi BTN dibanderol mulai seharga Rp200 juta sampai miliaran rupiah. 


"Untuk tahun 2022 target pertumbuhan kredit perumahan yang dicanangkan dari kantor pusat mencapai 10-15 persen. Target tersebut berlaku pula untuk wilayah kami di Kota Semarang dan Kendal," tegasnya. 

Himperra bidik 50 persen pembangunan rumah subsidi di Semarang Raya

Data Grafis Himpunan Pengusaha Pemukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Jawa Tengah (IDN Times/Aditya Pratama)

Sementara itu, Ketua Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Jawa Tengah, Sugiyatno mencatat bahwa realisasi pembangunan rumah subsidi untuk wilayah Jawa Tengah selama 2021 telah berkontribusi sekitar 8.0000 unit dari total capaian secara nasional. 


Pembangunan rumah subsidi selama ini sebarannya hampir merata di seluruh Jawa Tengah. "Dan target terbesarnya harus mampu mencapai 50 persen di area Semarang Raya," ungkapnya saat dikontak IDN Times. 


Adapun target yang dipasang selama tahun 2022, pihaknya membidik pembangunan rumah subsidi sebanyak 8.000-9.000 unit. 


Untuk merealisasikan target sebesar itu, pihaknya berharap adanya peran aktif pemerintah guna segera mempercepat proses perizinan Online Single Submission (OSS) dan Perizinan Bangunan Gedung (PBG). Adanya percepatan untuk dokumen perizinan PBG menjadi harapan nyata agar pengembang bisa memperoleh dokumen pengganti IMB. 


"Dengan percepatan OSS dan PBG, kita sebagai pengembang bisa segera memperluas proyeknya. Karena banyak pengembang yang proyek sudah mulai tapi belum bisa melakukan proses perizinannya. Dampaknya pengajuan OSS dan PBG sejak bulan Agustus 2021 sampai sekarang masih banyak kabupaten kota yang belum berjalan maksimal," kata Sugiyatno. 

Baca Juga: Mantap! Laba BTN Meroket 48,3 Persen Sepanjang 2021

Berita Terkini Lainnya