Comscore Tracker

Kisah Sopir Cewek Ambulans Jenazah Virus Corona Melawan Rasa Takut

Ika satu-satunya relawan perempuan sopir ambulans

Jakarta, IDN Times - Angka kasus virus corona (COVID-19) di Indonesia semakin hari semakin meningkat. Kondisi tersebut membuat tenaga medis ataupun nonmedis yang terjun langsung untuk menangani pasien, harus bekerja ekstra.

Siapapun terpanggil untuk menjadi relawan karena personel tambahan begitu dibutuhkan dalam situasi tersebut. Salah satunya Ika Dewi Maharani, yang memberikan sumbangsih dalam penanganan virus corona. Ia merupakan relawan satu-satunya sopir ambulans untuk jenazah COVID-19.

Baca Juga: Curhat Sopir Ambulans: Sedih Setiap Hari Lihat Jenazah COVID-19 

1. Punya kemampuan menyetir, Ika terpanggil untuk melayani masyarakat

Kisah Sopir Cewek Ambulans Jenazah Virus Corona Melawan Rasa TakutIka Dewi Maharani, satu-satunya sukarelawan medis perempuan di bawah naungan Relawan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Dok. BNPB

Ika berkata, bermodalkan kemampuan menyetir, ia ingin melayani masyarakat di saat pandemi ini. Ia mengaku menjadi suka rela karena panggilan hati.

"Saya basic perawat, jadi pas saya sesuai dengan panggilan hati, dengan kemampuan yang saya punya, saya harus melayani," ujar Ika dalam konferensi pers live streaming di channel BNPB Indonesia, Jakarta, Kamis (16/4).

2. Ika bertugas sebagai sopir ambulans di RS Universitas Indonesia

Kisah Sopir Cewek Ambulans Jenazah Virus Corona Melawan Rasa Takutilustrasi ambulans dan tenaga medis. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Ika sebenarnya adalah warga Maluku Utara yang kuliah di Surabaya. Ia tergabung dalam asosiasi profesi perawat, Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI).

Saat ini, Ika bertugas menjadi sopir ambulans di Rumah Sakit (RS) Universitas Indonesia. Selama bertugas, ia tinggal di mes yang disediakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Baca Juga: Tragis! Positif Corona, Dokter RS Kariadi Semarang Dapat Stigma Sosial

3. Ternyata menjadi sopir ambulans bukan hal mudah, banyak orang tidak peka

Kisah Sopir Cewek Ambulans Jenazah Virus Corona Melawan Rasa TakutIlustrasi ambulans dan tenaga medis. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Sebagai orang yang memiliki basic perawat, menangani pasien di rumah sakit menjadi hal biasa baginya. Namun, lain halnya dengan peran sebagai sopir ambulans yang harus mengantarkan pasien ke rumah sakit.

Dia mengaku, menjadi sopir ambulans merupakan pengalaman pertama dalam hidupnya.

"Untuk ambulans baru pertama kali di dalam hidup saya, tapi ya gitu, ternyata di ambulans tidak semudah yang kita bayangin," kata Ika.

Misal saja, lanjutnya, saat dia sedang berada di perjalanan menjemput atau mengantar pasien, orang-orang di jalan cenderung tidak peka untuk memberikan jalan. Padahal, suara sirine yang kencang meraung-raung.

"Ya untung ada orang dengan kesadaran memberikan jalan, jadi kita tetap dengan cepat membawa pasien ke tempat yang dirujuk," dia melanjutkan.

4. Cemas dan takut terinfeksi COVID-19 selalu membayangi, tapi dilawan demi kemanusiaan

Kisah Sopir Cewek Ambulans Jenazah Virus Corona Melawan Rasa TakutPemakaman jenazah COVID-19 di TPU Tegal Alur, Senin 6 April 2020. IDN Times/Uni Lubis

Tidak dapat dipungkiri, tugasnya menjadi sopir ambulans COVID-19 memiliki risiko tersendiri. Salah satunya risiko terinfeksi COVID-19 saat mengantarkan pasien dalam pengawasan (PDP) atau pun pasien positif.

Untuk itu, keamanan adalah kunci utama dalam menjalankan tugas. Menggunakan alat perlindungan diri (APD) menjadi wajib baginya sebelum berangkat bertugas. Itu dilakukan agar orang yang berada di dalam ambulans aman.

Tapi meski telah menggunakan APD, ia bercerita, masih ada perasaan takut di dalam dirinya. Namun, rasa cemas dan takut berusaha ia halau dengan mengutamakan semangat kemanusiaan. Itulah yang terus menjadi motivasinya untuk menjalankan tugas.

"Rasa takut ada pasti, cuma ini harus kita lihat lagi, ini adalah tugas bagi kita sebagai relawan medis, kita harus menangani pasien dari awal sampai akhir pasien itu kita harus tangani," ujar dia.

5. Ika menjalani waktu kerja selama 12 jam sehari

Kisah Sopir Cewek Ambulans Jenazah Virus Corona Melawan Rasa TakutIka Dewi Maharani, satu-satunya sukarelawan medis perempuan di bawah naungan Relawan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Dok. BNPB

Ika menjalankan tugas dalam waktu 12 jam sehari. Guna menjaga imunitas tubuh untuk melawan virus corona, ia selalu menyempatkan diri makan teratur dan istirahat yang cukup.

"Shift pagi dari jam 7 sampai jam 7 malam, itu pertama harus makan dulu. Selesai absen kita makan, ada panggilan untuk kita rujuk, setelah itu selesai, baru kita makan, yang penting makan harus sehari tiga kali, multivitamin, dan susu," kata dia.

Dengan usaha terbaiknya mengabdikan diri sebagai rewalan COVID-19, Ika berharap pandemi virus corona tersebut dapat segera berakhir.

"Dengan kita mengabdikan diri sebagai relawan kita harap penanggulangannya ini semakin cepat, jadi bencana ini cepat akan berakhir," ujar Ika.

Baca Juga: Kisah Pilu Diisolasi, Dokter di Semarang Jalani Ramadan Tanpa Keluarga

Topic:

  • Dhana Kencana

Berita Terkini Lainnya