Comscore Tracker

Nasib Transpuan Kala Pandemik: Adaptasi Profesi agar Ekonomi gak Mati

Transpuan menjadi kelompok rentan segalanya

Sudah lebih dari satu tahun pandemik COVID-19 melanda Indonesia. Situasi tersebut meningkatkan angka kemiskinan dan pengangguran sehingga bertambah tajam. 

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2020 menyebutkan jumlah angka pengangguran di Tanah Air meningkat 2,67 juta orang. Secara keseluruhan, jumlah pekerja yang terdampak selama pandemik virus corona mencapai 29,12 juta orang. Jumlah itu setara dengan 14,28 persen dari keseluruhan populasi penduduk usia kerja yang mencapai 203,97 juta orang.

Secara spesifik mereka diantaranya 2,56 juta orang pengangguran akibat COVID-19 dan 0,76 juta orang bukan angkatan kerja karena pandemik. Sedangkan yang tidak bekerja karena efek COVID-19 mencapai 1,77 juta orang dan yang bekerja tapi mengalami pengurangan jam kerja sebanyak 24, 03 juta orang.

Adapun, masih dari BPS, data kemiskinan di Indonesia berdasarkan Survei Ekonomi Nasional jumlah penduduk miskin pada September 2020 sebesar 27,55 juta orang, meningkat 1,13 juta orang dari bulan Maret 2020 dan meningkat 2,76 juta orang secara year on year (yoy) September 2019.

Guna mengurangi imbas dari pengangguran dan kemiskinan yang dialami masyarakat, pemerintah menggelontorkan miliaran dana bantuan sosial dalam beberapa bentuk. Mulai dari Bantuan Sosial Tunai dalam bentuk uang serta sembako, Bantuan Langsung Tunai (BLT) dana desa hingga kartu pra kerja. Sayangnya, niat baik tersebut tak berujung manis karena tidak semua warga yang merasakan bantuan itu. Salah satunya dialami para transpuan di sejumlah daerah di Indonesia.

1. Transpuan tidak bisa mendapatkan Bansos karena terkendala KTP

Nasib Transpuan Kala Pandemik:
Adaptasi Profesi agar Ekonomi gak MatiIlustrasi KTP (IDN Times/Umi Kalsum)

Bak peribahasa bagai pungguk merindukan bulan, transpuan di Sumatera Utara hingga Jumat (27/2/2021) tidak juga mendapatkan bantuan-bantuan dari pemerintah.

Koordinator Divisi Advokasi Persatuan Transpuan Sumatera Utara (Petrasu) Lala menyebut mereka mengandalkan bantuan melalui komunitas dan organisasi yang didapat pada masa pandemik COVID-19 karena masih sulit mengakses bantuan sosial secara langsung dari pemerintah.

"Yang pertama kebanyakan teman transpuan keluar dari rumahnya tidak memiliki identitas (KTP) sehingga mereka kesulitan mendapat bantuan dari pemerintah. Dan yang kedua melihat ekspresi teman-teman transpuan itu, bantuan diabaikan. Dialihkan ke orang lain," katanya kepada IDN Times.

Hal senada dirasakan para anggota Sanggar Seroja, sebuah komunitas yang menaungi para transpuan di Jakarta Barat dan Tangerang dalam bidang kesenian.

"Syarat (mendapatkan) Bansos harus punya KTP dan Kartu Keluarga (KK) yang tinggal di wilayah tersebut. Tapi di periode kedua, teman-teman Kampung Duri yang punya KTP berusaha melobi agar bisa didata. Beberapa sudah tercatat petugas RT/RW tapi belum dapat Bansos juga," ucap salah satu pengurus, Rikky MF.

Baca Juga: Pandemik, Transpuan Tulungagung Banting Setir Jadi ART

2. Komunitas transpuan baru terima bantuan sekali

Nasib Transpuan Kala Pandemik:
Adaptasi Profesi agar Ekonomi gak MatiKomunitas waria diajak untuk menulis dan berinteraksi dengan publik, Yogyakarta, 22 Januari 2020. IDN Times/Pito Agustin Rudiana

Fenomena tersebut rupanya turut terjadi di Yogyakarta. Sejak Mei 2020, Ketua Pondok Pesantren Waria Al Fattah, Shinta Ratri menyatakan ada 184 transpuan yang separuhnya tidak memiliki KTP.

“Tak banyak transpuan punya KTP Yogyakarta. Yang punya KTP Yogyakarta saja tak dapat (Bansos) apalagi luar daerah. mereka yang beruntung mempunyai jejaring luas melalui organisasi lokal hingga nasional yang membantu hidup transpuan. Namun sampai kapan transpuan bertahan hidup mengandalkan solidaritas ditengah pandemik yang tak pasti kapan usainya?” aku Shinta.

Rupanya mendapatkan Bansos melalui komunitas juga tidak semulus yang dibayangkan. Para transpuan di Semarang, Jawa Tengah baru menerima satu kali bantuan dari pemerintah, sehingga tidak sedikit dari para transpuan harus memutar otak mencari tambahan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan harian.

"Bantuannya cuma dikasih sekali sama Satgas COVID-19 Semarang. Itu pun pas awal pandemik. Setelah itu kita mesti pontang-panting cari sumber penghasilan lain agar bisa bertahan hidup saat pandemik," ujar Silvi Mutiari, Ketua Persatuan Waria Semarang (Perwaris) Satu Hati secara khusus kepada IDN Times.

3. Beralih profesi menjadi pilihan untuk bertahan hidup kala pandemik COVID-19

Nasib Transpuan Kala Pandemik:
Adaptasi Profesi agar Ekonomi gak Mati(Ilustrasi pegawai salon di era pandemik) www.instagram.com/@rudyhadisuwarno.school

Agar tetap bisa hidup saat pandemik, tidak sedikit transpuan beradaptasi dengan beralih profesi. Salah satunya di Ibu Kota Jawa Tengah, Ria Ardana yang kini bekerja di salon sebagai perias wajah. Hal itu dilakukan karena pandemik merampas pekerjannya sebagai pekerja salon.

‘’Dulu sebelum pandemik saya bekerja di salon yang berlokasi di lokalisasi Sunan Kuning. Namun karena ada COVID-19, salon menjadi sepi. Pelanggan jadi takut datang ke salon, selain itu dana mereka juga mepet kalau mau nyalon,’’ tuturnya saat ditemui secara virtual, Jumat (26/2/2021). 

Meski jauh dari pendapatan sebelum pandemik, Ria mengaku cukup bersyukur dengan pemasukan yang ada. Jika biasanya sebulan dia bisa mengantongi sekitar Rp4 juta sampai Rp5 juta dari bekerja di salon dan sebagai penyanyi lepas. Kini maksimal pendapatannya per bulan maksimal Rp300 ribu.

Pendapatan yang mepet dari perias wajah tersebut memaksa dirinya terjun menjadi pekerja seks daring. Jalan hitam itu terpaksa dilakukan Ria lantaran himpitan ekonomi efek pandemik COVID-19.

‘’Gara-gara pandemik, ya akhirnya saya menyambi menjajakan diri. Namun, itu pun tidak dengan cara mangkal di jalanan, tapi secara online. Sebab, kalau mangkal nanti takut kena razia atau premanisme. Lha kita mau kerja di sektor formal seperti kerja kantoran saja tidak diterima. Misalkan mau kerja pabrik, di sana kita dipaksa harus menjadi laki-laki, hai itu tentu saja membuat tidak nyaman dan tidak bisa mengekspresikan diri,’’ ungkap Ria yang hanya mengenyam pendidikan sampai jenjang SMA saja.

Beralih profesi menjadi pilihan yang jamak dilakukan transpuan sebagai bagian adaptasi bertahan hidup saat pandemik. Pun hal itu dilakukan sebagai kuli bangunan.

Tariska, transpuan yang tinggal di Bali mengaku temannya tidak segan mengambil pekerjaan sebagai kuli bangunan meski sudah melakukan operasi payudara.

Senada, Ketua Apresiasi Waria dan Priawan Kota Tulungagung (Aprikot), Jossie Wilson menuturkan adanya pembatasan kegiatan seperti hajatan pernikahan dan karnaval membuat transpuan yang bekerja sebagai perias kehilangan pemasukan. Pendapatan mereka turun 60 persen sehingga banyak berubah bekerja sampai menjadi asisten rumah tangga (ART). 

Baca Juga: Nestapa Pengamen Transpuan di Tengah Pandemik

4. Tapi ada juga yang mengirit uang sampai meminjam ke keluarga dekat

Nasib Transpuan Kala Pandemik:
Adaptasi Profesi agar Ekonomi gak MatiMeghan Kimoralez salah satu Queer Transpuan yang bergelut dihiburan (Meghan Kimoralez)

Cara lain yang bisa dilakukan adalah mengatur keuangan sedemikian rupa agar cukup untuk keseharian.

Seorang Queer Transgender Perempuan (Transpuan) asal Kabupaten Jembrana, Bali yang terkenal dengan nama panggung Meghan Kimoralez harus mengirit uang untuk makan sehari-hari.

Kimora harus pandai mengatur keuangan rumah tangganya. Gaji Rp2,9 juta per bulan yang diterimanya saat ini hanya cukup untuk membayar indekos, uang makan, dan keperluan anak juga istrinya.

“Di keluarga Kimora sih masih cukup. Cuma kalau dibilang kurang ya masih kurang. Cuman dicukup-cukupin gitu. Sekarang ditata banget tuh uang makan, agak dikurang-kurangin gitu. Sekarang gak sering nyemilnya. Pokoknya ditata supaya gak berlebihan. Ditata supaya cukup,” jelasnya.

Persoalan transpuan di Tangerang bertambah pelik ketika bencana alam turut melanda. Mereka yang beralih pekerjaan dengan mengamen harus dirundung penyakit karena terus menerus kehujanan. Stigma negatif pun masih melekat untuk mereka.

"Minggu lalu saat banjir di Tangerang, teman transpuan yang mengamen ada yang ditolak warga masuk Kampung dengan alasan bikin banjir (pembawa sial)," jelas pengurus Sanggar Seroja, Rikky MF.

Aktivis Komunitas Sehati Makasar (KSM), Eman Memay Harundja mengaku banyak transpuan yang bertahan menggunakan tabungan mereka. Setelah tabungan tidak ada, mereka menumpang hingga meminjam ke keluarga. Pasalnya, hampir sebagian besar transpuan tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah.

"Yang membantu justru adalah organisasi yang berbasis komunitas karena tidak ada persyaratan khusus," tutur Eman.

5. Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan (RUU PKS) mendesak disahkan

Nasib Transpuan Kala Pandemik:
Adaptasi Profesi agar Ekonomi gak MatiIlustrasi (IDN Times/Arief Rahmat)

Pada 1 Maret diperingati sebagai Hari Solidaritas LGBTIQ Nasional. Bagi Miss Transpuan Sulawesi Selatan Tahun 2019, Ririn Aliska momentum tersebut bisa menjadi pemantik untuk membangkitkan kembali semangat solidaritas dalam berjuang bagi transpuan.

Selaras, Chandra Muliawan selaku Direktur LBH Bandar Lampung menjelaskan persoalan yang dialami kelompok LGBTIQ adalah tidak bebas dalam berekspresi di ruang publik.

Meski secara kebijakan pemerintah tidak melarang itu, sikap dan bagaimana pelayanan yang diberikan kepada mereka harus diperbaiki.

"Seperti dalam pemberian bantuan pemerintah tak secara spesifik bantuan tersebut diberikan untuk kelompok mana. Jadi lebih ke unsur teknis bagaimana petugas layanan menghadapi teman-teman LGBITQ," ujarnya.

Baca Juga: Tak Lagi Bisa Manggung, Queer Transpuan di Bali Harus Atur Biaya Makan

6. Transpuan juga makhluk ciptaan Tuhan

Nasib Transpuan Kala Pandemik:
Adaptasi Profesi agar Ekonomi gak MatiANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Community Based Monitoring Officer OPSI Jateng, Amanda Aulia Cindy mengatakan kelompok transpuan memiliki kerentanan yang tinggi terhadap COVID-19. Mereka tidak bisa berekspresi dan bekerja saat pandemik. Ditambah mereka juga berisiko tertular virus corona lantaran banyak ketemu banyak orang dan masih diharuskan mencari uang setiap hari.

Laporan Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBHM) pada 2018 menunjukkan bahwa transpuan transgender merupakan kelompok yang paling banyak menjadi korban dari stigmatisasi, diskriminasi, serta kekerasan berbasis orientasi seksual dan ekspresi gender.

Masih dari penelitian yang sama, pemberitaan pada media daring sepanjang 2017 mencatat ada 973 korban hal-hal tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 73,86 persen atau  715 orang adalah dari kelompok transgender. Hal itu menjadi bukti bahwa kerentanan kelompok transpuan terhadap kekerasan dan diskriminasi akibat adanya prasangka negatif terhadap identitas dan ekspresi gender individu cukup tinggi.

"Maka, kami ingin terus menggaungkan pengakuan gender secara hukum. Sebab, hingga hari ini para transpuan belum merasakan keadilan dalam berekspresi. Padahal, banyak di kalangan kami yang berpendidikan dan memiliki skill, tapi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari terganjal gender. Transgender tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Harus memilih menjadi laki-laki jika ingin hidup diterima masyarakat,’’ jelas sarjana Psikologi Universitas Semarang itu.

Maka, dalam rangka memperingati Hari Solidaritas LGBTIQ, dia mewakili transgender ingin agar Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan (RUU PKS) agar segera disahkan.

‘’Sebab, dengan disahkannya RUU PKS itu harapan kedepan bisa melindungi seluruh masyarakat, termasuk transpuan. Karena bagaimanapun kami juga rentan kena pelecehan seksual. Kemudian bagi masyarakat, jangan menjauhi kami, jangan punya pemikiran yang konservatif dan negatif terhadap transgender,’’ tandasnya.

Dengan mindset baru seperti itu, diharapkan makin banyak pengakuan dan kepedulian kepada transpuan yang juga sebagai Warga Negara Indoensia (WNI) bahkan sesama makhluk ciptaan Tuhan sehingga mereka tidak lagi "terdampak" dan mendapatkan stigma negatif ditengah pandemik COVID-19.

Baca Juga: Transpuan di Semarang, Saat Pandemik Alih Profesi dan Tak Dapat Bansos

Tim penulis: Dhana Kencana, Febriana Sintasari, Masdalena Napitupulu, Pito Agustin, Muhammad Iqbal, Anggun Puspitoningrum, Fariz Fardianto, Melani Indra Hapsari, Silviana, Ayu Afria Ulita Ermalia, Faiz Nashrillah, Sahrul Ramadan, dan Azzis Zulkhairil

https://www.youtube.com/embed/SQWNepCk0tY

Topic:

  • Dhana Kencana

Berita Terkini Lainnya