TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

10 Tanda Bullying pada Anak, Orangtua Wajib Tahu!

Pelajari tanda-tandanya pada anak

ilustrasi korban bullying (Unsplash/ Morgan Basham)

Intinya Sih...

  • Kenali tanda-tanda bullying pada anak, seperti bekas luka, sakit tanpa gejala lain, dan perusakan atau pengambilan barang
  • Gangguan tidur, perilaku makan, dan motivasi sekolah yang menurun bisa menjadi tanda bahwa anak mengalami bullying
  • Anak yang di-bully cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, merasa tertekan, dan menunjukkan perubahan emosi serta perilaku yang drastis

Beberapa waktu lalu, Indonesia dikejutkan dengan video viral bullying atau perundungan fisik yang dilakukan sekelompok pelajar di sekolah menengah elit di Jakarta. Kasus bullying yang dilakukan pelajar gak hanya terjadi sekali dua kali.

Berdasarkan catatan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) yang disitat dari katadata, sepanjang tahun 2023 saja tercatat ada 30 kasus bullying di lingkungan sekolah. Jumlah tersebut meningkat dari angka tahun sebelumnya yang senilai 21 kasus. 

Bullying memiliki berbagai dampak buruk, baik jangka pendek atau jangka panjang, pada anak. Perilaku tersebut bisa menimbulkan trauma, gangguan kesehatan mental, luka atau cacat fisik.

Supaya bisa segera memberikan penanganan yang cepat dan tepat, yuk kenali beberapa tanda bullying pada anak berikut ini!

1. Adanya luka yang tidak wajar atau tanda kekerasan fisik lainnya

ilustrasi cedera pada lengan (pixabay.com/baedaya)

Cermati kondisi anak sepulang dari sekolah atau tempat sosialisasinya, apakah sering ada bekas luka, memar, atau cedera yang gak biasa. Perlu diingat bahwa tidak semua perundungan melibatkan kekerasan fisik. Jadi orangtua perlu aware dengan tanda-tanda bullying lainnya.

2. Sering mengeluh sakit perut atau pusing

ilustrasi nyeri perut (pexels.com/cottonbro studio)

Waspadalah jika anak kerap mengeluh sakit tanpa ada gejala lain yang menyertai. Riset yang diterbitkan dalam SAGE Open Nursing (2019) menyatakan bahwa beberapa keluhan seperti sakit kepala, sakit perut, nyeri punggung dan pundak sering terjadi pada korban bullying.

Studi lain yang disitat oleh CBS menyebutkan kalau gejala sakit dan nyeri pada anak yang dirundung bisa bersifat psikosomatis atau berasal dari tekanan mental yang dirasakan.

3. Kerap kehilangan barang

ilustrasi bullying (Pexels/ Mikhail Nilov)

Pengambilan atau perusakan barang oleh pelaku bisa terjadi pada kasus bullying. Jadi, amati apakah anak kerap kehilangan barang atau ada miliknya yang rusak tanpa alasan yang jelas atau masuk akal.

Selain itu, perhatikan apakah uang saku yang dibekali ke anak selalu habis namun ia pulang sekolah dalam keadaan lapar seperti tidak jajan atau beli makan siang. Siapa tahu uang sakunya dipalak oleh perundung.

4. Gangguan tidur pada anak

ilustrasi insomnia (Pexels/ cottonbro studio)

Anak yang mengalami perundungan acapkali mengalami gangguan tidur akibat adanya tingkat kecemasan yang tinggi. Dilansir dari Medical News Today, anak-anak yang mengalami perundungan pada usia 8-10 tahun punya kemungkinan lebih besar untuk mengalami sleepwalking (tidur berjalan), mimpi buruk dan night terror di usia 12 tahun. Selain itu, insomnia atau mengompol juga biasa terjadi pada anak yang di-bully.

Baca Juga: Perundungan dan Kekerasan Seksual Masih Jadi PR Guru di Era Digital

5. Mengalami penyimpangan perilaku makan

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

ilustrasi bullying (pexels/RDNE Stock project:)

Selain gangguan tidur, gangguan perilaku makan seperti anoreksia atau bulimia nervosa juga dapat terjadi pada anak yang di-bully. Selain itu, binge eating atau mengonsumsi makanan dalam jumlah yang banyak dan sulit dihentikan juga bisa terjadi sebagai pelampiasan stress yang dialami.

6. Menjadi kurang aktif di sekolah

ilustrasi perundungan pada anak (Pexels/ Mikhail Nilov)

Anak yang mengalami perundungan di sekolah seringkali menunjukkan tanda-tanda tidak semangat untuk masuk sekolah, misalnya dengan menunda-nunda waktu keberangkatan dan kerap membuat alasan untuk bolos. Selain itu, ia juga bisa menarik diri dari aktivitas ekstrakurikuler yang biasa digeluti dan tidak ingin berlama-lama di sekolah.

7. Penurunan prestasi akademik

ilustrasi anak kesulitan konsentrasi (Pexels/ RDNE Stock project)

Bullying juga bisa menyebabkan sang anak mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi atau mengerjakan tugas sehingga prestasinya akan menurun. Selain itu, dampak bullying juga bisa terjadi dalam jangka panjang.

Riset yang dipublikasikan Journal of Educational Physiology (2017) memperlihatkan bahwa anak-anak yang mengalami perundungan sepanjang masa sekolah yakni sejak TK hingga SMA memiliki pencapaian akademik dan semangat sekolah yang lebih rendah daripada anak-anak yang tidak atau hanya mengalaminya pada awal masa sekolah. Mereka juga tidak memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuan akademiknya.

8. Malas bersosialisasi, termasuk dengan keluarga

ilustrasi anak yang mengalami bullying (Pexels/ cottonbro studio)

Anak yang mengalami bullying akan merasa tertekan dan takut untuk mengungkapkan apa yang ia alami kepada orang lain. Ia juga merasa kejadian yang menimpanya sebagai sesuatu yang memalukan, sehingga tidak ingin diketahui oleh orang-orang terdekatnya.

Amati bila sang anak tiba-tiba menarik diri dari lingkungannya, misalnya dengan langsung masuk ke kamar setelah pulang sekolah dan enggan bercengkrama bersama keluarga atau teman. Bila perundungan terjadi pada anak yang sudah aktif dalam bermedia sosial, perhatikan juga jika ia tiba-tiba menghapus atau menonaktifkan akunnya tanpa alasan yang jelas.

9. Perubahan emosi yang tidak biasa

ilustrasi gejolak emosi (Pexels/ Andrea Piacquadio)

Gejolak emosi akibat tekanan dan stress juga bisa diamati pada anak-anak yang menjadi korban perundungan. Anak akan kerap merasa cemas dan takut. Selain itu, crying spell atau dorongan untuk menangis secara terus-menerus dan sulit dikontrol juga bisa terjadi. 

Verified Writer

Laras Larasati

I am writing for healing.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Berita Terkini Lainnya