Semarang, IDN Times - Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Kalau perlu benamkanlah menjadi sebuah untaian tulisan di dalam buku.
Sepenggal kalimat tersebut rupanya benar-benar menggambarkan perjalanan hidup Ellena. Ellena tak menyangka guratan tulisannya sewaktu sekolah dasar bisa menjadi kenyataan.
Ellena hari ini, Kamis (29/1/2026), menjadi salah satu mahasiswi program profesi psikolog yang menjalani sumpah profesi di kampus Unika Soegijapranata atau SCU.
"Saya terpanggil menjadi psikolog karena pas SD saya iseng-iseng menulis di buku tentang cita-cita saya. Nyatanya pas kuliah di SCU bisa jadi psikolog beneran," kata perempuan bernama lengkap Ellena Ayu Susanto ini, Kamis (29/1/2026).
Siang ini ia resmi menjadi lulusan profesi psikolog termuda. Sebelum menjalani sumpah profesi, ia pun rutin menyambangi masyarakat.
Menjadi seorang psikolog juga mengubah pandangannya bahwa kesehatan mental tak melulu dikonsultasikan. Melainkan juga harus langsung menyapa orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Bahkan ia pernah menyambangi para lansia di panti wreda untuk sekedar berbincang dengan mereka. Mengulik keluh kesah para lansia sampai bertukar cerita pengalaman masing-masing.
"Waktu terjun ke masyarakat, saya tidak hanya jadi psikolog, tapi juga jadi cucu, jadi dokter dan sebagainya. Saat saya berpraktek di panti wreda, saya benar-benar merasakan kehidupan disana. Saya ikut bantu ganti popok. Jadi benar-benar merasakan perjumpaan dengan masyarakat segala lapisan," tuturnya.
Faradiba Anugrah Kaay, seorang mahasiswi profesi psikolog SCU juga berkesempatan menjalani sumpah profesi.
Farah merupakan mahasiswi dari Wamena Papua Pegunungan. "Saya milih kuliah di psikologi karena di Papua sama sekali tidak ada pendampingan untuk kesehatan mental. Padahal kondisi di sana memang butuh pendampingan," jelasnya.
"Makanya ketika beberapa tahun terakhir Unika buka program profesi, saya langsung daftar," tambahnya.
