Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pengobatan mata kering dengan NSTO Dry Eyes. (IDN Times/Dhana Kencana)
Pengobatan mata kering dengan NSTO Dry Eyes. (IDN Times/Dhana Kencana)

Intinya sih...

  • Sebanyak 41 persen penduduk urban mengalami mata kering, hanya 21 persen yang menyadari kondisinya

  • Kondisi modern seperti paparan layar dan AC memicu Computer Vision Syndrome (CVS) dan mata kering

  • Mata kering dapat dicegah dengan aturan "20-20-20" dan ditangani dengan air mata buatan (artificial tears)

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Rutinitas pagi Ashfiyah Auliyaillahil (30) nyaris tidak pernah berubah. Begitu sampai di kantor pemerintahan tempatnya mengabdi di Ciputat, Tangerang Selatan, ia langsung duduk terpaku. Matanya lekat menatap layar monitor, menyelami tumpukan dokumen digital dan aplikasi perkantoran hingga petang menjelang.

Sebagai abdi negara di era transformasi digital, interaksi konstan dengan gawai adalah keniscayaan. Namun, ada harga mahal yang harus dibayar tubuhnya.

"Kalau capek, mata terasa kering dan sangat tidak nyaman. Tuntutan pekerjaan memaksa saya terus menatap layar," ungkap perempuan yang akrab dipanggil Auk itu saat dihubungi IDN Times, Rabu (14/1/2026).

Seperti ribuan pekerja urban lainnya, Auk kerap mengabaikan sinyal tubuh itu. Ia menganggap mata perih dan sepat hanyalah risiko profesi biasa. Padahal, tanpa disadari, matanya sedang "berteriak" meminta pertolongan.

Kisah Auk merupakan cerminan kecil dari masalah kesehatan masyarakat yang jauh lebih besar. Survei terbaru dari INSTO terhadap 710 responden di Jabodetabek dan Bandung menyingkap fakta mengejutkan, yakni sebanyak 41 persen penduduk urban mengalami mata kering (dry eye).

Ironisnya, survei tersebut menemukan fenomena "gunung es". Dari total penderita, hanya 21 persen yang menyadari kondisinya. Sisanya, sebanyak 20 persen responden menjalani hidup sehari-hari tanpa sadar bahwa mereka mengidap gangguan kesehatan mata yang berpotensi serius.

Ketidaktahuan itu memicu kesalahan fatal saat penanganan. Banyak penderita yang justru menggunakan obat tetes mata untuk iritasi atau mata merah, tidak obat khusus mata kering (air mata buatan).

"Sebagian besar pasien mata kering datang ketika kondisinya sudah cukup parah. Mereka tidak sadar terkena mata kering, padahal gejala awal seperti mata terasa sepet, perih, dan lelah sudah muncul sejak lama," ungkap Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, Sp.M, dokter spesialis mata dari JEC Eye Hospital, sebagaimana dilansir laman resminya.

Data internal JEC bahkan mengungkap 37 persen pasien dry eye tidak menunjukkan gejala spesifik hingga mencapai stadium lanjut.

Mekanisme Air Mata yang Terganggu

Mengapa mata kering bisa terjadi? Spesialis Mata Konsultan Infeksi dan Imunologi RS Mata Ramata Denpasar, dr. I Gusti Ayu Made Juliari, Sp.M, menjelaskan jika mata manusia dilindungi oleh lapisan air mata (tear film) yang kompleks.

"Mata kering adalah kondisi ketika lapisan air mata—yang terdiri atas lapisan minyak, air, dan lendir—mengalami kerusakan atau kehilangan volumenya. Akibatnya, air mata tidak melekat dengan baik, cepat menguap, dan gagal melumasi permukaan bola mata," papar dr. Ayu.

Adapun, gejalanya bervariasi, mulai dari sensasi berpasir, mata cepat panas, sering berair (refleks iritasi), hingga kesulitan membuka kelopak mata di pagi hari.

Gaya hidup modern menjadi biang kerok utama lonjakan kasus itu. Laporan We Are Social mencatat warga Indonesia menghabiskan rata-rata 7 jam 42 menit per hari di depan layar dan menjadi salah satu yang tertinggi di dunia.

Secara medis, kondisi itu memicu Computer Vision Syndrome (CVS). Studi oftalmologi membuktikan, saat menatap layar, frekuensi kedipan mata manusia anjlok drastis dari normalnya 15-20 kali per menit menjadi hanya 5-7 kali per menit.

"Penurunan kedipan hingga 66 persen ini menyebabkan incomplete blinking atau kedipan tidak sempurna. Kelopak mata gagal menutup penuh, sehingga lapisan air mata tidak tersebar merata dan cepat menguap," jelas dr. Ayu menambahkan.

Situasi diperburuk oleh kondisi lingkungan kerja. Paparan AC (Air Conditioner) selama rata-rata 4,9 jam per hari di ruangan atau kantor yang terbukti menurunkan kelembapan udara secara ekstrem justru mempercepat penguapan air mata. Belum lagi ditambah polusi udara perkotaan, sehingga mata pekerja urban menghadapi serangan bertubi-tubi setiap hari.

Data JEC mengungkapkan, sebanyak 37 persen pasien bermata kering justru tidak bergejala sehingga menunjukkan banyak kasus terlewat hingga stadium lanjut. Dari segi usia, kelompok 40-49 tahun melaporkan gejala tertinggi (37,6 persen), dan risiko meningkat signifikan setelah usia 50 tahun. Akan tetapi, mata kering juga menyerang kalangan muda. 

Penelitian Universitas Andalas menemukan, sekitar 47 dari 51 pekerja kantoran (92 persen) mengalami mata kering, dengan 55,3 persen berkategori berat.

Bukan Masalah Sepele

Masyarakat sering meringkas gejala tersebut dengan akronim SePeLe (Sepet, Perih, Lelah). Sayangnya, akronim itu juga sering dimaknai secara harfiah sebagai hal yang sepele atau remeh.

DR. Dr. Tri Rahayu, Sp.M(K), pakar mata JEC, memberikan peringatan keras.

"Mata kering yang tidak tertangani dengan baik bukan hanya menurunkan kualitas hidup dan produktivitas, tetapi bisa merusak permukaan mata akibat peradangan atau infeksi kronis," tegasnya.

Dalam jangka panjang, pengabaian itu dapat berujung pada kerusakan kornea, mulai dari abrasi, erosi, hingga ulkus (luka terbuka) yang mengancam penglihatan permanen.

Dampak ekonominya pun nyata. Studi di Amerika Serikat memperkirakan kerugian akibat penurunan produktivitas pada penderita mata kering mencapai 55,4 miliar dolar AS per tahun. Kemudian di Jepang, kerugian produktivitas mencapai 741 dolar AS per orang per tahun.

Sementara di Indonesia, penurunan kinerja visual akibat mata lelah terbukti menghambat efisiensi kerja hingga 5,65 persen.

Kabar baiknya, mata kering dapat dicegah dan ditangani dengan modifikasi gaya hidup yang tepat. Para ahli sepakat merekomendasikan aturan "20-20-20" sebagai pertolongan pertama. Yaitu setiap 20 menit menatap layar, bisa mengistirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat objek sejauh 20 kaki (6 meter). Hal tersebut sesuai dengan pedoman Tear Film & Ocular Surface Society Dry Eye Workshop II (TFOS DEWS) mengenai definisi, klasifikasi, patofisiologi, diagnosis, dan manajemen mata kering.

Selain itu, modifikasi lingkungan kerja sangat disarankan. Mulai dari mengatur posisi monitor agar sejajar atau sedikit di bawah pandangan mata, menggunakan humidifier untuk menjaga kelembapan ruangan, dan menghindari hembusan angin AC langsung ke wajah.

Untuk penanganan medis, penggunaan air mata buatan (artificial tears) menjadi lini pengobatan utama. Review jurnal Acta Ophthalmologica (2024) menyoroti efektivitas bahan aktif Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) melumasi mata dengan aman.

Produk INSTO Dry Eyes untuk mata kering. (IDN Times/Dhana Kencana)

Merespons kebutuhan itu, General Manager (GM) Eye Care Combiphar, Farah Feddia menjelaskan, produk seperti INSTO Dry Eyes yang mengandung HPMC 3,0 mg diformulasikan khusus sebagai pelumas pengganti air mata alami.

"Melalui kampanye 'Bebas Mata SePeLe', kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa mata sepet, perih, dan lelah adalah sinyal tubuh yang valid. Mengenali gejala ini lebih dini dan meneteskan air mata buatan 3 kali sehari dapat mencegah kerusakan lebih lanjut," kata Farah lama keterangan resminya.

Mata adalah jendela dunia. Menjaga kelembapannya bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan investasi jangka panjang untuk masa depan penglihatan kita. Jangan tunggu sampai pandangan memudar untuk mulai peduli.

Editorial Team