Rutinitas pagi Ashfiyah Auliyaillahil (30) nyaris tidak pernah berubah. Begitu sampai di kantor pemerintahan tempatnya mengabdi di Ciputat, Tangerang Selatan, ia langsung duduk terpaku. Matanya lekat menatap layar monitor, menyelami tumpukan dokumen digital dan aplikasi perkantoran hingga petang menjelang.
Sebagai abdi negara di era transformasi digital, interaksi konstan dengan gawai adalah keniscayaan. Namun, ada harga mahal yang harus dibayar tubuhnya.
"Kalau capek, mata terasa kering dan sangat tidak nyaman. Tuntutan pekerjaan memaksa saya terus menatap layar," ungkap perempuan yang akrab dipanggil Auk itu saat dihubungi IDN Times, Rabu (14/1/2026).
Seperti ribuan pekerja urban lainnya, Auk kerap mengabaikan sinyal tubuh itu. Ia menganggap mata perih dan sepat hanyalah risiko profesi biasa. Padahal, tanpa disadari, matanya sedang "berteriak" meminta pertolongan.
Kisah Auk merupakan cerminan kecil dari masalah kesehatan masyarakat yang jauh lebih besar. Survei terbaru dari INSTO terhadap 710 responden di Jabodetabek dan Bandung menyingkap fakta mengejutkan, yakni sebanyak 41 persen penduduk urban mengalami mata kering (dry eye).
Ironisnya, survei tersebut menemukan fenomena "gunung es". Dari total penderita, hanya 21 persen yang menyadari kondisinya. Sisanya, sebanyak 20 persen responden menjalani hidup sehari-hari tanpa sadar bahwa mereka mengidap gangguan kesehatan mata yang berpotensi serius.
Ketidaktahuan itu memicu kesalahan fatal saat penanganan. Banyak penderita yang justru menggunakan obat tetes mata untuk iritasi atau mata merah, tidak obat khusus mata kering (air mata buatan).
"Sebagian besar pasien mata kering datang ketika kondisinya sudah cukup parah. Mereka tidak sadar terkena mata kering, padahal gejala awal seperti mata terasa sepet, perih, dan lelah sudah muncul sejak lama," ungkap Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, Sp.M, dokter spesialis mata dari JEC Eye Hospital, sebagaimana dilansir laman resminya.
Data internal JEC bahkan mengungkap 37 persen pasien dry eye tidak menunjukkan gejala spesifik hingga mencapai stadium lanjut.
