Comscore Tracker

Memperkuat Keberagaman Saat Ramadan: 39 Etnis di Salatiga Hidup Rukun

Sego koyor dan sambal tumpang kuliner khas Salatiga

Salatiga, IDN Times - Memiliki luasan wilayah 56,78 kilometer persegi, wilayah Kota Salatiga memiliki karakteristik yang unik. Dengan diapit Kabupaten Semarang di bagian utara dan Kabupaten Boyolali di sisi selatan membuat Salatiga berada di wilayah yang strategis. 

Saat Ramadan, hiruk pikuk masyarakatnya terlihat harmonis ditengah ragam etnis yang mendiami empat kecamatan di Kota Salatiga. 

1. Ada 39 etnis di Salatiga yang mampu hidup berdampingan dengan damai

Memperkuat Keberagaman Saat Ramadan: 39 Etnis di Salatiga Hidup RukunInstagram.com/joe_potret

Wali Kota Salatiga, Yuliyanto bercerita bagaimana hangatnya suasana keberagaman umat di wilayahnya yang memiliki total penduduk 195.010 jiwa tersebut. 

"Sikap toleransi untuk hidup berdampingan dengan semua agama dan ras sudah biasa di sini. Dari 39 etnis yang tinggal di Salatiga, semuanya bisa hidup damai, rukun tanpa ada masalah. Di sini suasananya kondusif gak ada gesekan. Termasuk di lingkunagn keluarga, masyarakat dan di tingkat kota," ujar pria yang telah memimpin Salatiga selama dua periode tersebut dalam diskusi bertemakan Salam Ramadan, Cerita Indonesia yang digelar IDN Times melalui live Instagram, pada Senin (3/5/2021).

Pola hidup masyarakat yang guyup rukun itu tampak saat umat Muslim menjalankan ibadah salat tarawih. Maupun ketika umat Kristen menggelar ragam pawai Paskah dan Natal serta upaya pihaknya yang memberikan ruang beribadah bagi umat Hindu dan Buddha. 

Ia mengatakan saat pandemik melanda semua daerah, pelaksanaan salat tarawih yang dibatasi 50 persen dapat diterima semua warga dengan tenang. 

"Masyarakat muslim mau tarawih silakan, mau pawai ta'aruf silakan. Yang Kristen mau pawai Natal paradise atau paskah silakan. Kita berikan ruang juga bagi umat Hindu dan Buddha. Semuanya kita berikan kesempatan yang sama. Sehingga warga merasa diwongke," katanya.

"Hanya saja saat pandemik, kita harus membatasi jamaah salat tarawih separuhnya. Jumatan juga digelar terbatas, aktivitas buka bersama cukup di rumah, tidak harus mengundang khalayak ramai," imbuhnya.

Baca Juga: Cegat Pemudik, Wali Kota Salatiga Bikin Posko Karantina, Ini Aturannya

2. Warga Salatiga menyesuaikan perubahan perilaku saat pandemik. Salah satunya saat menyalurkan zakat fitrah

Memperkuat Keberagaman Saat Ramadan: 39 Etnis di Salatiga Hidup RukunWali Kota Salatiga Yuliyanto saat ikut Live Instagram yang dipandu Pemimpin Redaksi IDN Times Uni Lubis. IDN Times/Fariz Fardianto

Pihaknya mengaku dengan berbagai aturan baru selama pandemik, masyarakatnya juga mesti menyesuaikan dengan perubahan perilaku. Ia mencontohkan untuk membagikan zakat fitrah juga harus diatur sedemikian rupa agar dapat menekan kerumunan. 

Setiap RT dan RW telah diperintahkan mendatangi rumah-rumah warga guna membagikan zakat. Tantangan pun muncul ketika pandemik berjalan setahun lebih. 

3. Jek Boy jadi andalan UMKM Salatiga untuk bangkit selama pandemik

Memperkuat Keberagaman Saat Ramadan: 39 Etnis di Salatiga Hidup RukunIlustrasi UMKM. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

Perubahan perilaku lainnya juga terjadi pada geliat perekonomian warga Salatiga. Yuliyanto mengatakan kini banyak pelaku UMKM yang beralih transaksi online ketika pandemik. 

Ia menyebut Jek Boy merupakan layanan ojek online lokal yang tumbuh subur di Salatiga untuk melayani antar jemput barang bagi pelaku UMKM. Layanan Jek Boy membantu UMKM untuk memasarkan produknya ke semua kecamatan. 

"Di Salatiga ada Jek Boy sebagai layanan ojek motor lokal. Ini sangat membantu distribusikan dan melayani pesanan UMKM. Baik makanan dan produk lainnya. Bahkan ada yang transaksinya naik 10 kali lipat. Sehingga di satu sisi musibah, sisi lain jadi berkah. Maka kita mesti pintar-pintar berikan ruang untuk lakukan inovasi. Jadi semuanya sehat. Sehat kantong jugaw sehat badannya," paparnya.

Untuk membangkitkan UMKM, pihaknya juga memberi program Pados Waras atau Paket Nasi Dos ke UMKM. Selain itu ada bedah warung, subsidi pajak PBB sampai refocusing anggaran Rp100 miliar. 

4. Sego koyor dan sambal tumpang jadi kuliner khas Salatiga

Memperkuat Keberagaman Saat Ramadan: 39 Etnis di Salatiga Hidup Rukuntravelingyuk.com

Lebih lanjut, ia menjelaskan Kota Salatiga sebagai kota transit bagi wisatawan pun memiliki ragam kuliner yang menggugah selera. Ada sambal tumpang, sego koyor, gethuk ketek, enting-enting gepuk yang jadi makanan khas di kota kecil tersebut. 

"Salatiga sebagai kota singgah sehingga wisatawan tidur makannya di Salatiga. Dan untuk wisatanya diluar Salatiga. Sehingga kita punya ragam kuliner mulai sate, sambal tumpang, sego koyor, gethuk ketek, ada enting gepuk, telo Casava. Dan ada gerakan nglarisi tonggo sebagai imbauan bagi warga agar membeli dagangan tetangga sekitarnya," jelasnya. 

5. Ada gelaran IICF dengan mengangkat keunikan etnis di Salatiga

Memperkuat Keberagaman Saat Ramadan: 39 Etnis di Salatiga Hidup RukunDok.IDN Times/istimewa

Bagi para musisi, ia memberikan kesempatan manggung live YouTube untuk memulihkan mereka yang terdampak pandemik. 

Untuk para Millennial yang tinggal di Salatiga, setiap tahun ada gelaran Indonesian Internasional Culture festival (IICF) dengan menampilan ragam etnis setiap tahun. Ada pula festival drumblek dengan menonjolkan alat musik perkusi yang berasal dari daur ulang kaleng bekas.

6. Kasus COVID-19 Salatiga mencapai 3.550

Memperkuat Keberagaman Saat Ramadan: 39 Etnis di Salatiga Hidup RukunIlustrasi Ruang Isolasi Mandiri COVID-19. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

Di Salatiga, Yuliyanto berkata bahwa Pemkot terus berusaha menegakan aturan protokol kesehatan. Sosialisasi tetap digiatkan melalui Instagram dan Facebook resmi milik Pemkot Salatiga. Upaya lainnya dengan menggencarkan vaksinasi bagi para lansia. Keberadaan posyandu lansia berperan penting dalam menggalakan vaksinasi di setiap kampung. Setiap lansia akan dijemput oleh mobil satgas posyandu. 

"Sampai saat ini, kasus penularan COVID-19 ada 3.550 kasus. Per hari ini yang suspek ada 3.047 orang. Ada empat kelurahan yang dinyatakan zona merah. Lainnya zona kuning. Maka kita menunggu proses mereka yang diisolasi di rumah sakit dan rumah singgah. Semoga ketika Lebaran tidak ada penambahan dan tidak ada lompatan lagi," jelasnya

Salam Ramadan Cerita Indonesia merupakan program IDN Times selama Ramadan yang disiarkan melalui live IG, live YouTube dan media sosial IDN Times.

Acara yang dipandu oleh Pemimpin Redaksi IDN Times Uni Lubis ini dihelat setiap Senin-Jumat selama bulan Ramadan, menghadirkan para bupati/wali kota dari berbagai daerah di Indonesia membahas keunikan dan potensi setiap daerah, termasuk keberagaman dan kerukunan masyarakat di tiap daerah di Indonesia.  

Baca Juga: Cegah Kebocoran Kasda, Kota Salatiga Pakai Aplikasi Simda CMS Versi 4

Topic:

  • Fariz Fardianto
  • Bandot Arywono

Berita Terkini Lainnya