Banyumas, IDN Times - Momen peringatan Jumat Agung dan Paskah yang dirayakan umat Kristiani di seluruh dunia menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan nilai-nilai toleransi antarumat beragama, khususnya antara Islam dan Kristen. Dalam diskursus lintas iman, sosok Isa Al-Masih menjadi titik temu penting sekaligus ruang bagi dialog yang membangun.
Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy, M.E, akademisi dan cendekiawan Muslim dari UIN Saizu Purwokerto, menyampaikan pandangannya bahwa meski terdapat perbedaan naratif dan teologis, umat Islam tetap menaruh hormat kepada Isa sebagai nabi agung yang diutus Allah. “Dalam Islam, Isa bukan hanya tokoh sejarah, melainkan nabi yang dimuliakan dan diimani,” ungkap Dr. Shiddiqy kepada IDN Times, Jumat (18/4/2025).
Dalam Al-Qur’an, tepatnya Surat An-Nisa ayat 157, disebutkan bahwa Nabi Isa tidaklah disalib ataupun dibunuh, melainkan yang disalib adalah sosok yang diserupakan dengannya. Pandangan ini menjadi pembeda utama antara ajaran Islam dan Kristen mengenai peristiwa penyaliban. Namun, Dr. Shiddiqy menekankan bahwa perbedaan itu justru membuka ruang saling pengertian, bukan pertentangan