Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG-20260111-WA0112.jpg
Mbah-mbah warga Pakintelan Gunungpati Semarang berdoa di depan kendi berisi air. (IDN Times/bt)

Intinya sih...

  • Warga Pakintelan mengadakan Merti Sendang Curug Sari untuk meresik resik sendang.

  • Acara diakhiri dengan rebutan gunungan hasil bumi dan ramah tamah warga yang bersantap nasi bungkus daun jati.

  • Ketua paguyuban sendang berharap warga kembali membudayakan nggodog banyu wedang dengan bahan bakar kayu.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Nggodog banyu wedang yang dalam bahasa Indonesia artinya merebus air minum, biasanya rutin dilakukan warga desa. Bahkan, zaman dahulu kala warga pinggiran Kota Semarang masih kerap merebus air minum. 

Tapi itu dulu. Sekarang yang ada warga Semarang kebanyakan sudah beralih membeli air mineral atau sering disebut banyu galon. 

Nah, berawal dari kegelisahan yang muncul selama ini, warga dari sejumlah RT Pakintelan Kecamatan Gunungpati Semarang kembali digerakkan untuk resik resik sendang, Minggu (11/1/2026).

Warga dari RT 01, RT 02, RT 03, dan RT 04 wilayah RW 01, Kelurahan Pakintelan pun mengadakan Merti Sendang Curug Sari. 

Tepat jam 08.30 WIB, Camat Gunungpati, Ali Ahmadi melepas barisan kirab merti sendang didampingi Lurah Pakintelan, Sapto Laksono, Ketua RW 01 Pakintelan, Sipit Daryono, dan para ketua RT. 

Barisan sepanjang lebih dari 100 meter diawali dua ekor kuda yang ditunggangi Ketua LPMK Pakintelan, Madhik Masdhana dan Ketua Paguyuban Sendang Curug Sari, Dhidhik Kushandaka. 

Lalu ada drum band dan barisan mbah-mbah pembawa tujuh kendi berisi air dari tujuh mata air sendang di Pakintelan dengan digendong menggunakan kain. 

Pucak acara merti atau nyadran Sendang Curug Sari dimulai dengan penyerahan kendi berisi air dari tujuh sumber oleh ibu-ibu sepuh kepada tujuh wanita Pakintelan.

Sesudahnya, para wanita menyerahkan tujuh kendi air kepada sesepuh desa yang terdiri dari dua tokoh agama, Ketua RW 01, Ketua RT 01, RT 02, RT 03, RT 04, dan dua orang ibu-ibu sepuh. 

Para sesepuh ditunjuk menuangkan air kendi sebagai bentuk rasa syukur atas berlimpahnya air sebagai sarana penunjang hidup warga Pakintelan.

Kendi pertama dituang Bhiksu Bhadrabudi dan Ustadz Suratno ke gentong padasan sebagai lambang, bahwa air diperlukan untuk wudhu atau sesuci sebelum beribadah. 

Kendi kedua dituangkan Mbah Juminah dan Mbah Maryati ke dalam gentong dapur sebagai lambang, bahwa setiap rumah tangga memerlukan air untuk kebutuhan masak, makan-minum, dan mandi. Kendi ketiga disiramkan ke pohon durian sebagai lambang, bahwa hingga hari ini, banyak warga Pakintelan bergantung hidup dari hasil bumi atau pertanian seperti durian, rambutan, pete, jengol, pisang, dll. 

Kendi keempat dituangkan ke wadah kandang ternak sebagai lambang, bahwa sebagian warga menggantungkan hidup dari ternak, seperti sapi, kambing, ayam, bebek, dan mentog. 

Kendi kelima dituangkan ke wadah adukan pasir semen sebagai lambang, bahwa sebagian warga berpenghidupan sebagai pekerja bangunan yang juga merawat aliran air dari got dan kali agar lingkungan terhindar dari banjir. 

Kendi keenam dituangkan ke sendang sebagai lambang, bahwa warga Pakintelan diajarkan leluhur untuk mempunyai budaya menabung. Kendi ketujuh dituangkan ke atas makam leluhur sebagai lambang dari kirim doa dan mengedepankan semangat mikur duwur menem jero. 

Berharap warga Pakintelan kembali merebus air minum

Dhidhik Kushandaka, ketua paguyuban sendang berkata tema nyadran kali ini Guyup rukun golek banyu apikulan warih. Yang artinya warga Pakintelan diajak untuk menggali makna nilai kebaikan dengan cara laku perbuatan baik. 

Salah satunya dengan merawat lingkungan desa, termasuk sendang air sumber penghidupan. 

Selain itu, ia mengajak warga kembali membudayakan nggodog banyu wedang dengan bahan bakar kayu yang berlimpah di tegalan desa. Hal ini karena ia prihatin dengan kebiasaan minum air mineral kemasan para warga.

"Selain harus mengeluarkan biaya untuk beli air kemasan dan boros bahan bakar gas, limbah botol kemasan air juga mencemari lingkungan," ujarnya. 

Ia mengacu buku Reset Indonesia (2025) yang menyajikan data, bahwa rata-rata 80 persen penduduk kota harus mengandalkan air kemasan. Ini karena telah tercemarnya sumber air di perkotaan membuat budaya merebus air minum menjadi asing bagi warga kota.

Acara nyandran sendang diakhiri rebutann gunungan hasil bumi dan ramah tamah warga yang bersantap nasi bungkus daun jati. 

Editorial Team