Nggodog banyu wedang yang dalam bahasa Indonesia artinya merebus air minum, biasanya rutin dilakukan warga desa. Bahkan, zaman dahulu kala warga pinggiran Kota Semarang masih kerap merebus air minum.
Tapi itu dulu. Sekarang yang ada warga Semarang kebanyakan sudah beralih membeli air mineral atau sering disebut banyu galon.
Nah, berawal dari kegelisahan yang muncul selama ini, warga dari sejumlah RT Pakintelan Kecamatan Gunungpati Semarang kembali digerakkan untuk resik resik sendang, Minggu (11/1/2026).
Warga dari RT 01, RT 02, RT 03, dan RT 04 wilayah RW 01, Kelurahan Pakintelan pun mengadakan Merti Sendang Curug Sari.
Tepat jam 08.30 WIB, Camat Gunungpati, Ali Ahmadi melepas barisan kirab merti sendang didampingi Lurah Pakintelan, Sapto Laksono, Ketua RW 01 Pakintelan, Sipit Daryono, dan para ketua RT.
Barisan sepanjang lebih dari 100 meter diawali dua ekor kuda yang ditunggangi Ketua LPMK Pakintelan, Madhik Masdhana dan Ketua Paguyuban Sendang Curug Sari, Dhidhik Kushandaka.
Lalu ada drum band dan barisan mbah-mbah pembawa tujuh kendi berisi air dari tujuh mata air sendang di Pakintelan dengan digendong menggunakan kain.
Pucak acara merti atau nyadran Sendang Curug Sari dimulai dengan penyerahan kendi berisi air dari tujuh sumber oleh ibu-ibu sepuh kepada tujuh wanita Pakintelan.
Sesudahnya, para wanita menyerahkan tujuh kendi air kepada sesepuh desa yang terdiri dari dua tokoh agama, Ketua RW 01, Ketua RT 01, RT 02, RT 03, RT 04, dan dua orang ibu-ibu sepuh.
Para sesepuh ditunjuk menuangkan air kendi sebagai bentuk rasa syukur atas berlimpahnya air sebagai sarana penunjang hidup warga Pakintelan.
Kendi pertama dituang Bhiksu Bhadrabudi dan Ustadz Suratno ke gentong padasan sebagai lambang, bahwa air diperlukan untuk wudhu atau sesuci sebelum beribadah.
Kendi kedua dituangkan Mbah Juminah dan Mbah Maryati ke dalam gentong dapur sebagai lambang, bahwa setiap rumah tangga memerlukan air untuk kebutuhan masak, makan-minum, dan mandi. Kendi ketiga disiramkan ke pohon durian sebagai lambang, bahwa hingga hari ini, banyak warga Pakintelan bergantung hidup dari hasil bumi atau pertanian seperti durian, rambutan, pete, jengol, pisang, dll.
Kendi keempat dituangkan ke wadah kandang ternak sebagai lambang, bahwa sebagian warga menggantungkan hidup dari ternak, seperti sapi, kambing, ayam, bebek, dan mentog.
Kendi kelima dituangkan ke wadah adukan pasir semen sebagai lambang, bahwa sebagian warga berpenghidupan sebagai pekerja bangunan yang juga merawat aliran air dari got dan kali agar lingkungan terhindar dari banjir.
Kendi keenam dituangkan ke sendang sebagai lambang, bahwa warga Pakintelan diajarkan leluhur untuk mempunyai budaya menabung. Kendi ketujuh dituangkan ke atas makam leluhur sebagai lambang dari kirim doa dan mengedepankan semangat mikur duwur menem jero.
