Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi perempuan yang dituntut (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
ilustrasi perempuan yang dituntut (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Intinya sih...

  • Perempuan dihadapkan pada tuntutan sosial yang tinggi
  • Standar kecantikan yang tidak realistis membuat perempuan merasa tidak percaya diri
  • Tanggung jawab rumah tangga dan ekspektasi pernikahan juga memberikan tekanan berlebihan pada perempuan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ada banyak hal di dunia ini yang seolah menjadi standar yang harus diikuti perempuan. Dari kecil, mereka sudah dikenalkan dengan berbagai tuntutan, baik yang terlihat jelas maupun yang muncul secara halus dalam kehidupan sehari-hari. Tapi, apakah ini wajar? Kenapa perempuan terlalu sering dituntut dibanding laki-laki?

Tuntutan yang diberikan pada perempuan sering kali datang dari berbagai arah, bahkan diri mereka sendiri karena tekanan eksternal yang sudah tertanam sejak lama. Beberapa tuntutan mungkin terlihat sebagai bagian dari norma sosial, tapi sebagian besar justru membebani dan membatasi kebebasan perempuan dalam menentukan jalan hidupnya sendiri. Kalau ditelusuri lebih dalam, ada beberapa alasan kenapa hal ini masih terus terjadi.

1. Ekspektasi sosial yang berlebihan

ilustrasi perempuan yang dituntut (pexels.com/RDNE Stock project)

Perempuan sering kali dihadapkan pada ekspektasi sosial yang tinggi. Sejak kecil, mereka diajarkan untuk bersikap sopan, lemah lembut, dan penuh pengertian. Saat tumbuh dewasa, ekspektasi ini berubah menjadi tuntutan agar mereka bisa menjadi perempuan ideal versi masyarakat. Harus pintar, cantik, berbudi pekerti, dan di saat yang sama juga mandiri serta sukses dalam karier. Sering kali, standar yang ditetapkan begitu tinggi sampai-sampai perempuan merasa tidak pernah cukup baik.

Tekanan ini bukan hanya datang dari keluarga, tapi juga dari media dan lingkungan sekitar. Perempuan yang memilih jalannya sendiri sering kali dikritik atau bahkan dihakimi. Kalau terlalu fokus pada karier, dianggap mengabaikan keluarga. Kalau memilih jadi ibu rumah tangga, dikatakan tidak mandiri. Apapun yang dipilih, seolah selalu ada yang kurang. Ini menunjukkan bahwa ekspektasi sosial terhadap perempuan sering kali tidak realistis dan membebani.

2. Standar kecantikan yang sulit dicapai

ilustrasi cantik (pexels.com/RDNE Stock project)

Dari iklan, media sosial, hingga film, standar kecantikan yang ada selalu membuat perempuan merasa harus memenuhi kriteria tertentu agar dianggap menarik. Harus memiliki tubuh langsing, kulit mulus, rambut terawat, dan wajah tanpa cela. Padahal, kecantikan itu subjektif dan tidak bisa diseragamkan. Namun, tekanan untuk memenuhi standar ini tetap ada dan terus berkembang.

Akibatnya, banyak perempuan merasa tidak percaya diri dengan penampilan mereka sendiri. Industri kecantikan pun memanfaatkan tekanan ini dengan menawarkan berbagai produk dan prosedur agar perempuan bisa mencapai standar yang ditetapkan. Sayangnya, ini bukan sekadar pilihan, melainkan tuntutan yang terus menerus ada, membuat banyak perempuan merasa mereka harus selalu tampil sempurna, meskipun itu melelahkan.

3. Tanggung jawab rumah tangga yang tidak seimbang

ilustrasi tanggung jawab rumah tangga (pexels.com/Annushka Ahuja)

Meski zaman sudah berubah, masih banyak perempuan yang dibebani dengan tanggung jawab rumah tangga lebih besar dibanding laki-laki. Bahkan ketika mereka memiliki pekerjaan atau bisnis sendiri, urusan rumah tangga tetap dianggap sebagai tanggung jawab utama mereka. Masyarakat masih memiliki pola pikir bahwa perempuan harus bisa mengurus keluarga dengan sempurna, sementara laki-laki hanya perlu membantu sesekali.

Hal ini menyebabkan banyak perempuan merasa terbebani dan sulit menyeimbangkan antara karier dan kehidupan pribadi. Padahal, tanggung jawab rumah tangga seharusnya dibagi secara adil, tanpa harus membebankan satu pihak lebih dari yang lain. Tapi kenyataannya, perempuan masih sering dipaksa untuk menanggung beban ganda, dan jika mereka gagal, maka merekalah yang disalahkan.

4. Tekanan untuk menikah dan punya anak

ilustrasi menikah dan punya anak (pexels.com/Gustavo Fring)

Di banyak budaya, perempuan sering kali diukur berdasarkan status pernikahan dan peran mereka sebagai ibu. Kalau sudah memasuki usia tertentu dan belum menikah, mereka mulai dihujani pertanyaan kapan akan menikah. Setelah menikah, muncul tuntutan baru untuk segera punya anak. Seolah-olah kebahagiaan seorang perempuan hanya bisa diukur dari keberhasilannya membangun rumah tangga.

Padahal, tidak semua perempuan memiliki keinginan yang sama dalam hidupnya. Ada yang memilih fokus pada karier, ada yang belum siap menikah, dan ada pula yang mungkin tidak ingin memiliki anak. Tapi sayangnya, pilihan ini sering kali tidak diterima dengan baik oleh masyarakat. Perempuan yang tidak mengikuti jalur ‘normal’ dianggap aneh atau egois, padahal setiap orang berhak menentukan kebahagiaannya sendiri.

5. Perempuan harus selalu bersikap baik dan sabar

ilustrasi perempuan sabar (pexels.com/Yan Krukau)

Dibanding laki-laki, perempuan sering kali diharapkan untuk lebih sabar, lebih pengertian, dan lebih bisa menahan diri. Kalau ada konflik, perempuan sering diminta untuk mengalah. Kalau menghadapi situasi sulit, mereka harus tetap kuat tanpa menunjukkan kelemahan. Seolah-olah mereka harus selalu menjadi pihak yang lebih dewasa dalam segala situasi.

Tuntutan ini membuat banyak perempuan terpaksa menekan perasaan mereka sendiri demi menjaga ketenangan di sekitarnya. Padahal, semua orang, termasuk perempuan, punya hak untuk marah, kecewa, dan mengekspresikan emosi mereka tanpa takut dihakimi. Tapi dalam realitanya, perempuan yang bersikap tegas sering kali dianggap terlalu emosional atau bahkan berlebihan, sementara laki-laki yang menunjukkan sikap serupa justru dianggap berwibawa.

Tuntutan yang diberikan kepada perempuan sering kali terlalu berlebihan dan tidak adil. Padahal, perempuan juga manusia yang punya batas dan hak untuk menjalani hidup sesuai dengan pilihan mereka sendiri. Sudah saatnya pola pikir ini diubah. Setiap orang berhak menentukan jalannya sendiri tanpa merasa bersalah atau tidak cukup baik. Masyarakat perlu lebih memahami bahwa perempuan tidak harus selalu sempurna, dan kebahagiaan mereka seharusnya tidak ditentukan oleh tuntutan orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team