Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi pekerja menjemur gabah di penggilingan padi. (ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)
Ilustrasi pekerja menjemur gabah di penggilingan padi. (ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)

Intinya sih...

  • Dampak bencana alam terhadap produksi pangan

  • Indikator pemantauan dampak bencana

  • Ancaman perubahan iklim terhadap pertanian

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times – Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah, termasuk banjir dan tanah longsor seperti yang terjadi Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Cilacap, berdampak pada lahan pertanian. Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah memastikan dampak bencana tersebut terhadap total produksi pangan tidak lebih dari 2 persen.

1. Dua indikator pemantauan dampak bencana

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares. (IDN Times/Dhana Kencana)

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares mengatakan, pihaknya terus memantau dampak bencana terhadap sektor pertanian melalui dua indikator utama, yakni Dampak Perubahan Iklim (DPI) dan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

"Dari hasil pemantauan kami dan data yang kita kumpulkan, kita selalu memantau dua hal, yaitu dampak perubahan iklim atau DPI dan OPT atau organisme pengganggu tumbuhan. Dari dua hal itu, total produksi yang terkena atau mungkin menjadi puso atau gagal panen itu tidak sampai 2 persen dari total produksi kita," katanya di Semarang.

Ia menambahkan, dengan kondisi hujan yang tinggi, pihaknya terus memantau kedua indikator tersebut untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas.

2. Solusi konservasi untuk dataran tinggi

Ilustrasi petani memanen padi menggunakan mesin combine harvester. (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)

Frans menguraikan, dari segi topografi dan kondisi lahan, daerah Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah menjadi daerah langganan banjir ketika curah hujan cukup tinggi.

Sementara di bagian tengah Jawa Tengah, yang sebagian besar dataran tinggi, menghadapi persoalan degradasi lahan. Degradasi lahan di wilayah tersebut ikut menyumbang potensi terjadinya sedimentasi di sungai-sungai, sehingga aliran air ke daerah bawah makin tinggi.

"Kondisi di daerah tengah, sektor tengah dari Jawa Tengah itu kan dalam dataran tinggi. Kondisi lingkungan yang terjadi, beberapa degradasi lahan itu juga bisa menyumbang potensi untuk terjadinya sedimentasi di sungai-sungai sehingga membuat aliran air ke bawah makin lebih tinggi yang berpotensi juga terjadi tanah longsor," jelasnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia menekankan pentingnya konservasi di daerah dataran tinggi.

3. Dampak terhadap Stok Beras

Ilustrasi sejumlah pekerja mengangkat karung beras saat bongkar muat di Gudang Bulog. (ANTARA FOTO/Andri Saputra)

Ihwal dampak banjir terhadap ketersediaan stok beras, Frans memastikan kondisi ketahanan pangan Jawa Tengah masih dalam kondisi surplus.

"So far saya bilang bahwa maksimal (dampaknya) adalah tidak lebih dari 2 persen kehilangan atau dari total produksi maksimal. Kita tambah antara dampak perubahan iklim itu antara lain banjir, kalau pada saat musim kering tapi tahun ini tidak ada banjir, dan juga serangan OPT itu kami total maksimal itu 2 persen dari total produksi kita," jelasnya.

Ia menyebutkan, produksi gabah kering panen Jawa Tengah hingga tahun 2025 sudah mencapai 11,36 juta ton.

"Kalau produksi kita sampai dengan tahun ini kan kita 11.360.000 ton gabah kering panen. Otomatis dari situ, tidak sampai 2 persen. Jadi, kita masih bisa dalam kondisi yang surplus dari target, kita sudah lewat," ungkapnya.

3. Perubahan iklim menjadi ancaman pertanian

Ilustrasi foto udara kondisi lahan pertanian yang rusak terdampak bencana erupsi Gunung Semeru. (ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya)

Ketika ditanya mengenai tantangan untuk tahun depan, Frans menyebutkan, perubahan iklim tetap menjadi tantangan utama untuk sektor pertanian.

"Tantangannya memang karena iklim juga. Iklim itu kan kita melihat bahwa misalnya tahun ini saja kita tidak pernah memperkirakan bahwa ada istilah kemarau basah. Jadi, artinya sepanjang tahun itu selalu tersedia air. Ini berarti berkah juga buat petani," akunya.

Meski demikian, ia mengingatkan, kondisi tersebut bisa berbeda di tahun 2026 mendatang.

"Bisa saja kan dalam kondisi tahun depan, taruhlah misalnya terus terjadi musim kering yang lebih panjang. Oleh karena itu, kita antisipasi dengan segala macam persiapan untuk bagaimana mengoptimalkan lahan dan menyediakan jaringan irigasi maupun sumber air, khususnya untuk mengairi area pertanaman kita," kata imbuhnya.

Untuk menghadapi tantangan perubahan iklim, pihaknya sudah menyiapkan sejumlah strategi antisipasi. Meliputi optimalisasi lahan pertanian, penyediaan jaringan irigasi yang memadai, penyediaan sumber air untuk mengairi area pertanaman, serta yang paling penting adalah menjaga supaya tidak terjadi alih fungsi lahan.

"Tentunya kita menjaga supaya tidak terjadi alih fungsi lahan, itu yang paling penting," tegasnya.

Editorial Team