Kawasan lereng Gunung Merbabu. (IDN Times/Dhana Kencana)
Kawasan lereng Merbabu merepresentasikan potensi dan tantangan pertanian dataran tinggi Indonesia. Membentang di ketinggian 700–1.840 mdpl dengan suhu sejuk 10–17 derajat Celsius, kawasan tersebut ideal untuk hortikultura. Lebih dari 70 jenis sayuran tumbuh optimal, termasuk kubis, kentang, cabai rawit, hingga sayuran premium seperti kale dan bayam Jepang.
Kabupaten Boyolali saja memiliki 9.674 ha lahan hortikultura aktif dengan potensi 101.501 ha.
Pertanian organik berkembang pesat sejak 2007–2008, dengan Kelompok Tani Bangkit Merbabu yang berhasil mengekspor sayuran premium ke Singapura dan Dubai.
Namun tantangan tetap ada: rantai distribusi panjang yang menekan harga di tingkat petani, perubahan iklim yang menyebabkan kemarau basah merusak panen, dan akses modal terbatas.
Program Rumah Pangan Kampung Madani dari PNM menjadi krusial terhadap situasi tersebut. Pasalnya tidak hanya proyek karitatif, tetapi menjadi investasi jangka panjang untuk mewujudkan Indonesia berdaulat pangan.
Integrasi dengan program MBG pemerintah yang beranggaran Rp171 triliun pada 2025 membuka peluang besar bagi petani perempuan memasuki rantai pasok pangan nasional.
Seperti diketahui, pemerintahan Prabowo-Gibran menargetkan surplus beras 3,5–4 juta ton pada 2025. Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Kementerian Pertanian (Kementan) menunjukkan capaian yang menggembirakan: cadangan Beras Pemerintah mencapai 4 juta ton, tertinggi dalam 57 tahun sejarah Perum Bulog sejak 1969.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Indonesia tidak mengimpor beras pada 2025.
Lasmi (kiri) saat berbincang dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (kedua kiri) di Rumah Pangan Kampung Madani PNM. (IDN Times/Dhana Kencana)
Di dataran tinggi yang dingin itu, Lasmi tersenyum menatap kandang ayam dan greenhouse miliknya. Perempuan yang enam tahun lalu bahkan tidak memiliki akses ke perbankan, kini menjadi figur inspiratif di tingkat nasional.
"Kalau saya bisa, perempuan lain juga pasti bisa," tegasnya penuh keyakinan.
Dari lereng Gunung Merbabu, Lasmi dan 39 rekannya rutin memasok telur kepada pengepul yang menyalurkan produk mereka ke dapur-dapur SPPG untuk program MBG. Mereka menjadi wajah ketahanan pangan Indonesia. Sebagai pelaku aktif, kiprah mereka menunjukkan bahwa perubahan sistemik dapat dimulai dari pemberdayaan petani perempuan yang selama ini berada di pinggiran.
Keberhasilan PNM dengan 21,67 juta nasabah perempuan membuktikan investasi pada perempuan prasejahtera bukan sekadar program sosial, namun sebagai strategi pembangunan ekonomi terukur yang berdampak langsung pada ketahanan pangan dan penurunan stunting, yang menjadi dua agenda krusial Indonesia menuju tahun 2029.