Comscore Tracker

Kebhinekaan di Ruang Redaksi Harus Diperkaya

Gender bagian dari diversifikasi di dunia jurnalistik

Semarang, IDN Times - Diversifikasi atau penganekaragaman di ruang redaksi media massa di Indonesia sangat penting dan diperlukan. Adapun, bagian dari penganekaragaman itu antara lain gender, etnisitas, dan kepercayaan.  

1. Diversifikasi di ruang redaksi perlu mendapat perhatian lebih

Kebhinekaan di Ruang Redaksi Harus DiperkayaDirektur Utama LKBN Antara, Meidyatama Suryodiningrat. IDN Times/Anggun Puspitoningrum

Direktur Utama LKBN Antara, Meidyatama Suryodiningrat mengatakan, secara gampang dirinya tidak terlalu spesifik peduli masalah gender di ruang redaksi. ‘’Yang saya peduli adalah diversifikasi, dan gender adalah bagian yang diperlukan dari penganekaragaman di ruang redaksi,’’ ungkapnya pada acara webinar yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Kamis (13/8/2020).

Dalam diskusi bertema ‘Kesetaraan Gender di Ruang Redaksi’, mantan Pemimpin Redaksi Jakarta Post ini mengungkapkan, bahwa kebhinekaan di ruang redaksi di antaranya gender, etnisitas dan kepercayaan harus terus diperkaya.

‘’Kita bisa mengambil contoh dari yang sering ditulis oleh media massa di Jakarta, yakni menyangkut Papua. Namun, keadaan yang sering luput adalah seberapa banyak atau persentase staf sebuah media massa yang berasal dari Papua. Ini suatu tantangan yang kita hadapi secara lebih besar dalam melihat negara yang begitu majemuk," tuturnya. 

Baca Juga: 5 Drama Korea yang Mengangkat Isu Kesetaraan Gender

2. Proses kemajemukan akan mengubah perspektif di redaksi

Kebhinekaan di Ruang Redaksi Harus DiperkayaIlustrasi (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Lelaki yang akrab disapa Dimas itu pun menceritakan tentang pengalamannya saat menjadi Pimred Jakarta Post. ‘’Saat itu kami membuat suatu program perekrutan di luar Jawa untuk menjemput para calon wartawan di sana. Kalau tidak ada diversifikasi itu maka tidak ada yang peduli. Wartawan dan redaktur bisa dididik, tapi tingkat kepekaan terbatas,’’ katanya.

Proses kemajemukan itu akan mengubah perspektif di redaksi. Sebab, kalau tidak ada keterwakilan yang cukup untuk diversifikasi atau kebhinekaan itu akan tetap sulit. Kemudian, masih terkait kesetaraan gender, Dimas punya pandangan lain bahwa keterwakilan gender. 

‘’Saya bukan orang yang percaya kepada kuota harus sekian persen perempuan sekian persen laki laki. Akan tetapi saya percaya kepada kinerja, karena yang diperlukan sebagai pemimpin adalah memberikan kesempatan kepada pihak-pihak tertentu yang keterwakilan masih kurang,’’ ujarnya. 

Upaya itu diterapkan saat merekrut wartawan di Jakarta Post. Ada syarat bagi calon wartawan harus memenuhi TOEFL 550. ‘’Namun, kami menyadari tingkat pendidikan di luar Jawa berbeda dengan yang ada di Pulau Jawa. Maka, di sana kami turunkan TOEFL-nya menjadi 525 hingga 500. Kami membuka kesempatan mau laki-laki atau perempuan, dari Papua, Sumatra, Sulawesi semua kami lihat dari kemampuannya tanpa dispensasi tertentu,’’ kata Dimas.

3. Kuota keterwakilan perempuan perlu diberi perhatian tapi jangan dipaksakan

Kebhinekaan di Ruang Redaksi Harus DiperkayaIlustrasi Feminis (IDN Times/Mardya Shakti)

Diversifikasi itu juga diterapkan di redaksi Antara. Dia mengecek bahwa di redaksi Antara keterwakilan perempuan hanya 25 persen dari seluruh staf redaksi di Indonesia. Untuk di Jakarta sekitar 35 persen.

'’Tahun lalu kami membuka pendidikan wartawan baru, saya tidak memberikan kuota untuk teman-teman yang direkrut harus berapa perempuan berapa laki-laki, tapi saya kasih perhatian lebih. Kalau bisa setengahnya syukur atau di kisaran itu, tapi kami tidak memaksakan berapa perempuan yang harus masuk. Namun, hasilnya 40 persen adalah perempuan,’’ katanya.

Maka, lanjut dia, dalam hal ini tidak perlu dipaksakan, hanya perlu diberi perhatian terkait itu. Diversifikasi apakah itu gender, etnisitas dan kepercayaan menjadi syarat mutlak, karena persoalan Indonesia ini luas sekali. Agar lebih perhatian webinar, seminar, kursus itu penting untuk memberikan penyadaran pada masyarakat, khususnya media massa.

4. Media massa memiliki peran penting untuk mendorong kesetaraan gender

Kebhinekaan di Ruang Redaksi Harus DiperkayaForum Jurnalis Perempuan Indonesia dan Kementerian PPPA menggelar webinar dengan tema 'Kesetaraan Gender di Ruang Redaksi". IDN Times/Anggun Puspitoningrum

Sementara itu, keberadaan media massa memiliki peran penting untuk mendorong kesetaraan gender di masyarakat agar dapat tercapai.

Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Indra Gunawan mengatakan, pihaknya yakin media massa bisa menjadi bagian penting dalam mengubah paradigma atau persepsi masyarakat, termasuk mengedukasi dan mengupayakan kesetaraan gender. 

‘’Secara umum, keberadaan media massa dalam menyampaikan informasi-informasi penting serta menyuarakan dan kesetaraan gender tersebut sudah tergolong bagus. Sebagai contoh akhir-akhir ini peran media massa yang juga banyak menulis terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual. Namun, lebih jauh dari itu masih banyak masalah kesetaraan gender yang perlu disoroti oleh media massa, misalnya isu kemiskinan, stunting serta isu COVID-19 yang menyangkut perempuan,’’ tuturnya.

5. Masih ada bias gender di dunia jurnalistik karena kuatnya budaya patriarki

Kebhinekaan di Ruang Redaksi Harus DiperkayaIlustrasi Bekerja Redaksi (IDN Times/Panji Galih Aksoro)

Kemudian, lanjut dia, persoalan angka kematian ibu, pernikahan anak hingga diskriminasi buruh perempuan juga menarik untuk dijadikan sudut pandang pemberitaan. 

Adapun, terkait kesetaraan gender di ruang redaksi, Indra mengakui, masih ada bias gender dalam dunia jurnalistik. Jika dibandingkan laki-laki, jumlah jurnalis perempuan memang masih belum sebanding. 

‘’Hal ini kadang mengakibatkan persepsi dan perspektif perempuan tidak terakomodir dengan maksimal. Beberapa penyebab bias gender di tanah air, terutama dalam dunia jurnalistik, terjadi akibat masih kuatnya budaya patriarki. Budaya ini sudah terjadi dari lingkungan keluarga, komunitas hingga di tempat pekerjaan’’ tandasnya.

Baca Juga: Posisi Perempuan di Media Massa Indonesia Sudah Lebih Baik 

Topic:

  • Bandot Arywono

Berita Terkini Lainnya