Comscore Tracker

Kisah Penggali Kubur Jenazah Corona di Semarang: Makamkan Kapanpun Mau

Sehari siapkan 6-8 liang lahat

Semarang, IDN Times - Pada masa pandemik COVID-19 saat ini tidak hanya tenaga medis dan tenaga kesehatan yang bekerja keras menangani pasien positif. Para penggali kubur atau petugas pemakaman di tempat pemakaman umum (TPU) pun juga bekerja sepanjang waktu memakamkan jenazah pasien yang meninggal karena virus corona.

1. Makam baru dari pasien meninggal COVID-19 tampak di TPU Jatisari Mijen

Kisah Penggali Kubur Jenazah Corona di Semarang: Makamkan Kapanpun MauPemakaman pasien meninggal COVID-19 di TPU Jatisari Mijen Kota Semarang. IDN Times/Anggun Puspitoningrum.

Pagi itu suasana TPU Jatisari di Jalan Amarta Meteseh Mijen Semarang tampak kelabu. Bukan saja karena terlihat ada makam-makam baru, tapi langit mendung masih menggelayut menutupi sinar matahari. Sisa hujan semalam membuat jalanan di TPU Jatisari masih terasa licin, karena bercampur dengan tanah liat dari area pemakaman yang berbukit itu. 

Juri, berjalan dari area makam di bukit seberang di menuju kantor UPTD TPU Jatisari. Jalannya diseret agar tanah liat yang menempel di sepatu boot berwarna kuning yang dikenakannya lepas. Saat IDN Times menyapa, lelaki berkulit gelap yang memakai kaos garis-garis berwarna hitam putih itu dengan ramah menjawab, ‘’Pagi, saya habis mengecek makam baru dari jenazah COVID-19 yang dimakamkan pukul 07.00 WIB tadi,’’ ungkapnya saat ditemui. 

Baca Juga: Update COVID-19 di Semarang, Sehari Bertambah 25 Pasien yang Meninggal

2. Ini kisah Juri, relawan penggali kubur di makam COVID-19 Semarang

Kisah Penggali Kubur Jenazah Corona di Semarang: Makamkan Kapanpun MauJuri (73 tahun), relawan penggali kubur di makam COVID-19 TPU Jatisari Mijen Semarang. IDN Times/Anggun Puspitoningrum.

Lelaki berusia 73 tahun itu sudah bekerja selama 4 tahun sebagai penggali kubur di pemakaman milik Pemerintah Kota Semarang. Statusnya hanya sebagai pekerja lepas, tapi sejak ada COVID-19 selama 7 bulan belakangan dia menjadi relawan di TPU yang dijadikan makam bagi pasien meninggal karena virus corona itu.

Dia menceritakan, dari awal pandemik sampai sekarang kurang lebih sudah 250 jenazah yang dimakamkan olehnya bersama petugas pemakaman di UPTD TPU Jatisari Mijen. Rasa khawatir dan takut sempat mendera ketika awal-awal bertugas turut memakamkan pasien COVID-19.

‘’Awal-awalnya ya takut. Takut tertular karena virus ini kan gampang menular, tapi akhirnya ya nekat saja yang penting sudah sesuai protokol kesehatan dan keluarga mendukung pekerjaan ini,’’ ungkap warga Sumber Mulyo Jatisari RT 01 RW 01 Mijen itu.

3. Sehari pernah memakamkan hingga 10 jenazah COVID-19

Kisah Penggali Kubur Jenazah Corona di Semarang: Makamkan Kapanpun MauTPU Jatisari Mijen merupakan lokasi pemakaman pasien meninggal COVID-19 di Kota Semarang. IDN Times/Anggun Puspitoningrum.

Pada waktu kasus COVID-19 di Kota Semarang tinggi bisa sampai 10 jenazah dimakamkan di TPU Jatisari setiap harinya. Namun, saat ini per hari hanya satu hingga 3 jenazah yang dimakamkan di sana. 

‘’Sekarang ini sudah agak reda virus coronanya. Selain itu, tidak selalu jenazah COVID-19 yang meninggal di Semarang dimakamkan di sini. Semua kembali kepada keluarga mereka, mau dimakamkan dimana. Kalau dulu sih bisa 6 sampai 9 jenazah dimakamkan dalam semalam,’’ ungkapnya. 

Kendati demikian, Juri selalu siap menyambut berapapun jenazah COVID-19 yang akan dimakamkan di pemakaman tersebut. Jenazah COVID-19 datang dari sejumlah rumah sakit di Kota Semarang, seperti RSUD KRMT Wongsonegoro, RSUP Dr Kariadi, RS Tugurejo, dan lainnya dalam keadaan yang sudah dipeti dan dibungkus plastik.

4. Pemakaman jenazah COVID-19 sering dilakukan pada dini hari

Kisah Penggali Kubur Jenazah Corona di Semarang: Makamkan Kapanpun MauMakam-makam baru tampak di pemakaman COVID-19 di TPU Jatisari Mijen Semarang. IDN Times/Anggun Puspitoningrum.

Persiapannya sudah dilakukan dua jam sebelum jenazah datang, mulai menggali liang lahat, menyiapkan peralatan pemakaman, hingga mengenakan baju hazmat dan alat pelindung diri lainnya. Selain butuh persiapan yang agak panjang, sebagai penggali kubur juga harus siap siaga. Sebab, waktu kedatangan jenazah ini tidak dapat diprediksi tergantung rumah sakit akan mengirim jam berapa. 

‘’Seringnya harus memakamkan pada dini hari antara pukul 01.00 hingga jelang Subuh. Ya, mau nggak mau harus siap misalnya ada panggilan, Mbah Juri nggko ana jenazah teko jam 02.00 (Mbah nanti ada jenazah datang jam 02.00). Ya, mulai siap-siap dari jam 24.00 malam,’’ tutur Juri yang sebelumnya bekerja sebagai penjaga garasi bus jurusan Semarang-Boja itu. 

Tugas menjadi relawan yang menjalankan pekerjaan menggali liang lahat hingga memakamkan pasien meninggal COVID-19 itu kini menjadi rutinitas yang dijalani Juri dengan ikhlas dan niat untuk membantu sesama. Kakek yang memiliki 9 cucu itu hanya menerima upah jika keluarga pasien meninggal COVID-19 memberikan uang lelah. Padahal, pekerjaan sangat berisiko dan menguras tenaga serta waktunya. 

5. Juri tidak digaji hanya mendapat upah dari keluarga jenazah yang dimakamkan di TPU Jatisari

Kisah Penggali Kubur Jenazah Corona di Semarang: Makamkan Kapanpun MauMakam-makam baru tampak di pemakaman COVID-19 di TPU Jatisari Mijen Semarang. IDN Times/Anggun Puspitoningrum.

Saat ditanya berapa upah yang diberikan oleh keluarga jenazah, Juri menyampaikan, tidak pasti kadang ada yang memberi kadang juga tidak. ‘’Ya, kadang ada yang memberi Rp 100ribu ada kadang juga Rp 200ribu, kemudian saya bagi dengan penggali kubur lainnya. Kalau yang menggali 4 orang berarti per orang dapat Rp 25ribu jika dikasih Rp 100ribu. Namun, juga tidak apa-apa kalau tidak diberi, karena tujuan saya kerja ini untuk membantu teman, jadi saya ikhlas. Apalagi, saya sudah tua umur segini ini masih bisa kerja ya Alhamdulillah,’’ ujarnya. 

Pada sela waktu memakamkan pasien meninggal COVID-19, bapak empat anak ini juga turut mengurus makam. Mulai dari membenarkan makam jika ada yang rusak, membersihkan makam, sampai menanam tanaman di sekitar pemakaman. 

Baca Juga: Tak Bermasker, Pelanggar Kena Sanksi Berdoa di Makam COVID-19 Semarang

6. Disperkim Kota Semarang sediakan lahan hingga 10 hektar untuk pemakaman jenazah COVID-19

Kisah Penggali Kubur Jenazah Corona di Semarang: Makamkan Kapanpun MauTPU Jatisari Mijen merupakan lokasi pemakaman pasien meninggal COVID-19 di Kota Semarang. IDN Times/Anggun Puspitoningrum.

Adapun, ketika ditanya terkait pengalaman memakamkan jenazah COVID-19 selama ini, Juri mengatakan karena sering menguburkan jenazah pasien corona dia seperti berhalusinasi. ‘’Rasanya kayak tom-toman (halusinasi) dan kebawa mimpi. Seakan-akan seperti sedang menguburkan banyak jenazah COVID-19,’’ imbuhnya.

Sementara itu, Pemerintah Kota Semarang menyediakan lahan untuk makam COVID-19 di TPU Jatisari Mijen seluas 10 hektar. Adapun, kini sudah ada 260 makam dari pasien meninggal karena virus corona di sana.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang, Ali mengatakan, area pemakaman di TPU Jatisari seluas 13 hektar. Seluas 3 hektar untuk makam umum dan 10 hektar pihaknya sediakan untuk makam COVID-19.

7. Petugas pemakaman dari UPTD TPU lain diperbantukan di makam COVID-19

Kisah Penggali Kubur Jenazah Corona di Semarang: Makamkan Kapanpun MauJuri (73 tahun), relawan penggali kubur di makam COVID-19 TPU Jatisari Mijen Semarang. IDN Times/Anggun Puspitoningrum.

‘’Sehingga, tidak perlu khawatir karena areanya masih sangat luas. Selain itu, petak makam untuk jenazah muslim dan non muslim juga kami pisahkan agar keluarga mereka lebih mudah menemukan jika ingin ziarah,’’ katanya saat dihubungi, Rabu (28/10/2020).

Kemudian, selama pandemik Disperkim menugaskan 6 petugas baik ASN dan non ASN baik dari UPTD TPU Jatisari maupun UPTD di sekitarnya. ‘’Kami menugaskan banyak personel karena setiap hari harus menyediakan minimal 6 sampai 8 liang lahat. Hal ini karena pemakaman jenazah COVID-19 tidak bisa ditunda, sehingga jangan sampai kehabisan lubang untuk mengubur dan untuk mempersiapkan itu butuh paling tidak 4 jam sebelum pemakaman,’’ jelasnya. 

Baca Juga: Tekan Angka COVID-19 di Semarang, Layanan Faskes dan Nakes Diperkuat 

Topic:

  • Bandot Arywono

Berita Terkini Lainnya