Sersan Darono memperagakan cara menembak Pierre Tendean dari belakang dalam Sidang Mahmilub (Februari 1987) (Buku "Sang Patriot: Kisah Seorang Pahlawan Revolusi - Biografi Resmi Pierre Tendean/Abie Besman, 2019)
Kekhawatiran sang Ibu Cornet mulai terjadi ketika ia menunggu kepulangan Pierre di depan rumah selama beberapa hari. Bahkan Cornet sempat mengajukan izin cuti pada 1 Oktober 1965 untuk pulang ke rumah. Namun tetap saja, Pierre tak kunjung pulang.
Sebab sebelum kejadian berdarah pada 30 September 1965 itu, Pierre sempat mengirim surat kepada keluarga jika ia tidak bisa pulang saat perayaan hari ulang tahun ibunya, karena dalam keadaan dinas. Ia berjanji akan mengucapkan selamat ulang tahun lewat telepon.
Hingga pada akhirnya 5 Oktober 1965, pemerintah mengirim pesawat untuk menjemput keluarga Pierre Tendean di Semarang. Melihat peti jenazah Pierre Tendean, Cornet menangis dan meratap, "Pierre, Pierre, mijn jongen, wat is er met jou gebeurd (red: Pierre, Pierre, anakku, apa yang terjadi denganmu)."