Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Tipe MBTI yang Paling Susah Move On saat Putus Cinta

Kota Semarang
3 min read
5 Tipe MBTI yang Paling Susah Move On saat Putus Cinta
Ilustrasi move on (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Kesulitan move on setelah putus cinta dikaitkan dengan fungsi kognitif MBTI yang membuat seseorang terikat pada komitmen, kenangan, dan rencana masa depan bersama pasangan.

  • INFJ, ISFJ, dan INFP cenderung terjebak overthinking, memori emosional, serta idealisasi hubungan atau mantan, sehingga perpisahan terasa lebih lama diproses.

  • ENFJ dan ESFJ sulit pulih karena kerap menyalahkan diri, kehilangan rutinitas, kehadiran pasangan, serta rasa stabilitas dan validasi dalam hubungan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa terjebak pada bayang-bayang masa lalu hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah perpisahan? Bagi kamu, momen putus cinta memang selalu terasa berat. Namun, ada kalanya rasa sakit itu bertahan jauh lebih lama di saat orang lain sudah bisa tertawa dan melanjutkan hidup dengan santai.

Keresahan ini bukan tanpa alasan psikologis. Berdasarkan fungsi kognitifnya, ada beberapa tipe MBTI yang memang sangat terikat pada komitmen, kenangan manis, serta visi masa depan yang sempat dirancang bersama. Yuk, simak lima tipe MBTI yang paling susah move on saat patah hati!

  1. 1. INFJ (The Advocate): Berduka atas Hilangnya Masa Depan Ideal

    ilustrasi cowok infj
    ilustrasi cowok infj (pexels.com/George Frewat)

    Sosok INFJ menempati urutan paling atas karena mereka sangat selektif dan jarang membuka pintu hati untuk sembarang orang. Saat berpacaran, mereka berinvestasi secara emosional dan mental untuk komitmen jangka panjang.

    Proses move on INFJ terasa sangat melelahkan karena pikiran mereka terus menganalisis kesalahan yang terjadi (overthinking). Mereka tidak hanya merindukan sosoknya, melainkan berduka atas hancurnya rencana masa depan yang sudah disusun rapi. Namun, jika INFJ sudah melancarkan taktik Doorslam (memutus akses total), mereka tidak akan pernah kembali lagi.

  2. 2. ISFJ (The Defender): Terjebak Memori Emosional dan Zona Nyaman

    ilustrasi ISFJ, si penyayang yang mengutamakan hubungan (pexels.com/Josh Willink)
    ilustrasi ISFJ, si penyayang yang mengutamakan hubungan (pexels.com/Josh Willink)

    Pemilik kepribadian ISFJ dikendalikan oleh fungsi Introverted Sensing (Si) yang sangat kuat. Hal ini membuat mereka menyimpan ingatan emosional secara sangat tajam terhadap detail peristiwa masa lalu.

    Mereka kesulitan move on karena aroma makanan, sudut tempat cafe, hingga lagu tertentu bisa dengan mudah memicu kembali memori manis bersama mantan. Perpisahan bagi ISFJ terasa bagaikan kehilangan zona nyaman serta rutinitas harian yang sudah dipelihara dengan penuh kehangatan.

  3. 3. INFP (The Mediator): Merindukan Narasi Indah di Dalam Kepala

    ilustrasi orang dengan kepribadian INFP (pexels.com/John Diez)
    ilustrasi orang dengan kepribadian INFP (pexels.com/John Diez)

    Sebagai sosok idealis dan penuh perasaan, INFP memiliki kecenderungan untuk mendewakan sosok pasangan serta ikatan cinta mereka.

    Saat perpisahan melanda, INFP tidak hanya kehilangan orangnya, melainkan juga kehilangan pola narasi romantis yang indah di dalam imajinasi mereka. Mereka kerap terjebak dalam siklus nostalgia, di mana pikiran hanya mengingat versi terbaik sang mantan sembari mengabaikan alasan riil mengapa hubungan tersebut akhirnya kandas.

  4. 4. ENFJ (The Protagonist): Merasa Gagal Menyelamatkan Hubungan

    ilustrasi kepribadian ENFJ. (pexels.com/Yan Krukau)
    ilustrasi kepribadian ENFJ. (pexels.com/Yan Krukau)

    Meskipun berkarakter ekstrovert, sosok ENFJ memiliki ikatan emosional yang sangat dalam terhadap keberlangsungan sebuah komitmen. Mereka adalah sosok penyembuh yang selalu mengupayakan segala cara demi memperbaiki hubungan yang retak.

    Ketika perpisahan tidak lagi terelakkan, ENFJ cenderung menyalahkan diri sendiri dan merasa gagal karena tidak mampu mempertahankan hubungan tersebut. Mereka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyadari bahwa tidak seluruh hal berada di bawah kendali pribadi.

  5. 5. ESFJ (The Consul): Terpukul akibat Runtuhnya Identitas Sosial

    Ilustrasi ESFJ (Unsplash/LinkedIN Sales Solution)
    Ilustrasi ESFJ (Unsplash/LinkedIN Sales Solution)

    Bagi ESFJ, hubungan asmara merupakan pilar utama dari rencana hidup dan identitas sosial mereka. Mereka sangat menggantungkan kenyamanan pada stabilitas serta validasi dari pasangan.

    Peristiwa putus cinta membuat dunia ESFJ yang teratur seketika runtuh. Mereka sangat susah move on bukan sekadar karena perasaan sayang, melainkan karena kehilangan kehadiran fisik, rutinitas komunikasi harian, serta rasa dibutuhkan yang biasa didapatkan dari pasangan.

    Dinamika Psikologis MBTI yang Sulit Move On

    Tipe MBTI

    Penyebab Utama Susah Move On

    Sifat Respons Pascaputus

    INFJ

    Kehilangan visi masa depan ideal & overthinking

    Berduka mendalam hingga melancarkan doorslam

    ISFJ

    Terikat memori emosional tajam & zona nyaman

    Terpicu ingatan dari tempat, lagu, & aroma

    INFP

    Hancurnya narasi cinta idealis di imajinasi

    Terjebak siklus nostalgia & mengingat kebaikan

    ENFJ

    Merasa gagal menyelamatkan hubungan

    Cenderung menyalahkan diri sendiri

    ESFJ

    Kehilangan identitas sosial & rutinitas

    Merindukan kehadiran fisik & rasa dibutuhkan

    Memahami alasan ilmiah di balik lamanya proses pemulihan hati membantu kamu untuk tidak terlalu menghakimi diri sendiri. Setiap orang memiliki tempo penyembuhan emosional yang berbeda, dan menerima rasa sakit adalah langkah awal untuk benar-benar pulih.

    Apakah tipe MBTI kamu atau mantanmu masuk ke dalam daftar yang paling susah move on ini? Tulis pengalamanmu di kolom komentar dan bagikan artikel ini ke teman-temanmu, ya!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More