Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Aksi Perang Sarung di Rawalo Digagalkan Polisi, 15 Remaja Diamankan
Polisi di Banyumas berhasil menggagalkan sejumlah remaja yang didiuga akan melakukan aksi perang sarung setelah polsek Rawalo menerima informasi warga, Jumat malam (21/2/2026).(IDN Times/Foto : Humas Polresta Banyumas)
  • Polisi menggagalkan aksi perang sarung di Desa Tambaknegara, Rawalo, Banyumas, dan mengamankan 15 remaja yang diduga hendak tawuran setelah menerima laporan warga pada dini hari.
  • Penyelidikan menunjukkan bentrokan berawal dari tantangan di media sosial antara dua kelompok remaja Bonjok Wetan dan Bonjok Kulon, yang kemudian berkembang menjadi ajakan duel fisik.
  • Selain mengamankan 14 motor dan ponsel, polisi menekankan pentingnya pengawasan keluarga agar tradisi Ramadan tidak berubah menjadi aksi kekerasan yang membahayakan masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyumas, IDN Times - Tradisi “perang sarung” yang kerap muncul saat bulan Ramadan kembali memicu keresahan. Di Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, aksi yang diduga akan berujung tawuran berhasil digagalkan aparat kepolisian pada Sabtu (21/2/2026) dini hari.

Sebanyak 15 remaja diamankan oleh personel gabungan Polsek Rawalo bersama Unit 2 Satintelkam Polresta Banyumas sekitar pukul 00.15 WIB. Mereka ditemukan berkumpul di Jalan Raya Rawalo - Purwokerto, tepatnya di depan SMK Diponegoro Rawalo, setelah polisi menerima laporan warga terkait adanya dua kelompok remaja yang diduga telah bersepakat melakukan perkelahian.

Kapolresta Banyumas, Petrus Silalahi, mengatakan pihaknya bergerak cepat begitu menerima informasi dari masyarakat. Menurutnya, patroli rutin yang dilakukan dini hari itu menjadi faktor penting dalam mencegah bentrokan fisik. "Tindakan cepat ini merupakan langkah preventif kepolisian untuk mengantisipasi terjadinya konflik fisik yang berisiko menimbulkan korban luka maupun gangguan keamanan di lingkungan sekitar,"ujarnya.

1. Berawal dari saling tantang di medsos

Remaja di Rawalo duduk lesu setelah polisi mengamankan dan menggagalkan rencana aksi perang sarung, Jumar malam (21/2/2026).(IDN Times/Foto : Humas Polresta Banyumas)

Dari hasil pemeriksaan awal, polisi mendapati bahwa rencana bentrokan tersebut bermula dari unggahan media sosial bertuliskan “P Sarung??”. Unggahan itu kemudian ditanggapi oleh kelompok lain dan berkembang menjadi ajakan duel antar remaja dari wilayah Bonjok Wetan dan Bonjok Kulon.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial kerap menjadi medium eskalasi konflik remaja. Tantangan yang awalnya terlihat sebagai candaan berubah menjadi kesepakatan untuk bertemu dan berkelahi.

Bahkan, dua hari sebelum pengamanan, kedua kelompok disebut sempat bertemu di Lapangan Tambaknegara untuk melakukan perang sarung. Namun, salah satu kelompok mundur karena kalah jumlah setelah sempat dikejar lawan. Tantangan pun kembali muncul hingga akhirnya disepakati pertemuan lanjutan pada Jumat malam, sebelum polisi membubarkannya.

2. Sebanyak 14 motor dan 14 ponsel diamankan

Sejumlah kendaraan motor milik remaja yang diduga akan lakukan aksi perang sarung diamankan di Polsek Rawalo, Jumat malam (21/2/2026.(IDN Times/Foto : Humas Polresta Banyumas)

Dalam operasi tersebut, polisi turut mengamankan 14 unit sepeda motor dan 14 unit telepon genggam berbagai merek milik para remaja untuk kepentingan pemeriksaan lebih lanjut.

Kelima belas remaja kini menjalani pendataan dan pembinaan di Mapolsek Rawalo. Orang tua masing-masing dipanggil untuk diberikan pemahaman dan diminta membuat surat pernyataan agar anak-anak mereka tidak mengulangi perbuatan serupa.

Kapolresta Banyumas menekankan pentingnya peran keluarga dalam mengawasi aktivitas anak, terutama selama Ramadan. "Pengawasan keluarga sangat penting untuk mencegah anak-anak terlibat dalam aktivitas negatif yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain, serta menjauhi aktivitas yang berpotensi mengarah pada pelanggaran hukum,"tegasnya.

3. Permainan tradisional yang kini berpotensi kekerasan

langkah preventif kepolisian dan peran aktif masyarakat membuktikan bahwa sinergi antara warga dan aparat masih menjadi kunci menjaga keamanan lingkungan, Sabtu (23/2/2026).(IDN Times/Foto : Humas Polresta Banyumas)

Perang sarung awalnya dikenal sebagai permainan tradisional saat Ramadan. Namun dalam beberapa kasus, sarung kerap diisi benda keras seperti batu atau gir, sehingga berubah menjadi alat yang membahayakan.

Seorang warga yang melaporkan kejadian tersebut mengaku khawatir jika aksi itu dibiarkan. “Awalnya memang seperti permainan, tapi biasanya di dalam sarung sudah diisi benda keras. Kalau dibiarkan bisa berbahaya,” katanya.

Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Selain berpotensi menimbulkan korban luka, aksi semacam ini juga membahayakan pengguna jalan, mengingat lokasi kejadian berada di jalur utama Rawalo–Purwokerto.

Di sisi lain, langkah preventif kepolisian dan peran aktif masyarakat membuktikan bahwa sinergi antara warga dan aparat masih menjadi kunci menjaga keamanan lingkungan. Ramadan yang seharusnya menjadi momentum refleksi dan kegiatan positif, justru kerap diwarnai aktivitas yang menyimpang dari nilai-nilai tersebut

Editorial Team