Antisipasi Penyakit Udang, KONEKSI Kembangkan Aplikasi SMARTAMBAK Berbasis AI

KONEKSI mendukung riset kolaboratif Unpad, UNSW, KKP, AIN-SEA, dan Genics untuk mengembangkan SMARTAMBAK sebagai platform deteksi dini penyakit udang.
SMARTAMBAK memakai AI yang dilatih dengan 3.299 citra udang untuk menganalisis foto, memetakan persebaran penyakit, mencatat kondisi tambak, dan menyediakan panduan budi daya.
KKP mencatat produksi udang naik dari 941 ribu ton pada 2023 menjadi sekitar 1,13 juta ton pada 2024; aplikasi ini dinilai berpotensi mendukung mitigasi gagal panen.
Semarang, IDN Times — Sektor perikanan terus menjadi salah satu pilar penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Komoditas udang, misalnya, memegang peran vital untuk memenuhi permintaan pasar ekspor sekaligus memenuhi kebutuhan protein masyarakat di dalam negeri.
Meski demikian, tantangan besar masih membayangi para pembudi daya udang, terutama terkait ancaman penyebaran penyakit di area pertambakan. Keterlambatan dalam mengenali gejala penyakit sering kali menurunkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) udang, memicu kegagalan panen, hingga menimbulkan kerugian finansial yang signifikan bagi para petambak.
Menjawab tantangan tersebut, KONEKSI—sebuah program kemitraan Australia-Indonesia di bidang pengetahuan dan inovasi—mendukung riset kolaboratif yang dipimpin oleh Universitas Padjadjaran (Unpad). Riset ini bekerja sama dengan The University of New South Wales (UNSW) Australia, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), PT Adhi Inti Nusantara Segar (AIN-SEA), serta Genics Pty Ltd.
Lewat kolaborasi tersebut, tim peneliti mengembangkan aplikasi digital bernama SMARTAMBAK. Platform ini hadir untuk membantu petambak mengidentifikasi indikasi penyakit udang sejak dini, memetakan persebaran lokasi penyakit, mencatat log harian kondisi tambak, serta mengakses panduan pengelolaan budi daya lewat fitur Tambakpedia.
Hingga saat ini, ancaman penyakit seperti Myonecrosis (MIO), White Spot Syndrome Virus (WSSV), dan Black Spot masih menjadi tantangan utama dalam budi daya udang. Aplikasi SMARTAMBAK memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memberikan diagnosis awal berdasarkan analisis citra.
Peneliti dari Universitas Padjadjaran, Hamzah Ritchi, menjelaskan bahwa timnya telah mengumpulkan dan memvalidasi sebanyak 3.299 citra udang guna melatih model AI. Melalui fitur ini, petambak cukup mengunggah foto kondisi udang untuk mendapatkan duga sementara mengenai jenis penyakit yang menyerang.
Kehadiran platform digital ini disambut positif oleh First Secretary Kedutaan Besar Australia di Indonesia, Reiko Take. Menurutnya, inovasi ini menjadi angin segar bagi petambak tradisional yang kerap terkendala keterbatasan fasilitas laboratorium.
"Kami percaya, riset dan inovasi bisa membawa perubahan. Termasuk bagi petambak udang skala kecil, yang sering kali terkendala keterbatasan sumber daya dan akses layanan ke laboratorium untuk mengecek penyakit udang. Maka itu, peneliti Indonesia–Australia beserta mitra mengembangkan aplikasi SMARTAMBAK. Kami tidak sabar melihat bagaimana aplikasi ini berkontribusi pada budi daya tambak udang yang produktif dan berkelanjutan," ujar Reiko Take.
Berdasarkan data KKP, produksi udang Indonesia mencatatkan lonjakan dari 941 ribu ton pada 2023 menjadi sekitar 1,13 juta ton pada 2024. Staf Ahli Menteri Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut KKP, Hendra Yusran Siry, menyebut udang sebagai komoditas unggulan dalam strategi ekonomi biru nasional dengan potensi nilai produksi mencapai sekitar Rp4 triliun per tahun.
Hendra menilai keberadaan aplikasi SMARTAMBAK sangat potensial untuk diintegrasikan dengan platform digital milik KKP demi memperkuat ekosistem pertambakan nasional.
Di sisi lain, Direktur Kelautan dan Perikanan Kementerian PPN/Bappenas, Mohamad Rahmat Mulianda, menekankan pentingnya digitalisasi dalam memitigasi risiko kegagalan panen pada tambak semi-intensif.
"Dengan sistem digital, petambak bisa memantau pengelolaan kawasan tambaknya yang kurang optimal dan melakukan mitigasi jika ada penyakit. Pengelolaan limbah tambak juga perlu dipantau secara digital seperti ini," jelas Rahmat Mulianda.
Kemudahan yang ditawarkan SMARTAMBAK dirasakan langsung oleh pelaku usaha di lapangan. Sakiro, seorang petambak muda asal Cirebon, menuturkan bahwa petambak tradisional selama ini hanya mengandalkan pengamatan visual secara manual akibat keterbatasan akses informasi.
"Di tahap yang lebih maju, kita memerlukan semua data dari visual hingga hasil laboratorium. Sementara setelah ada aplikasi ini, hanya perlu memasukkan data dan foto untuk mendapat dugaan penyakit. Ini cukup membantu petambak tradisional yang rata-rata berusia tua untuk mendapat konklusi sementara," ungkap Sakiro.
Melalui penerapan teknologi AI dan manajemen tata kelola tambak yang lebih modern, inovasi SMARTAMBAK diharapkan mampu meningkatkan produktivitas serta daya saing sektor perikanan udang Indonesia di masa mendatang.



















