Guru SMK Gondang, Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Maman Sulaeman membagikan aplikasi TMFCBT for AKM kepada siswa untuk ujian sekolah di tengah pandemik COVID-19. (dok. pribadi/Maman Sulaeman)
Aplikasi ini buatan Maman Sulaeman, Guru SMK Gondang. Pengajar mata pelajaran Teknik Komputer itu membuat sebuah aplikasi untuk memudahkan siswa belajar dan mengikuti ujian sekolah secara daring.
Aplikasi itu bernama TCExam Mobile Friendly Computers Based Test untuk Asesmen Kompetensi Minimum (TMFCBT for AKM ). Maman sudah mengembangkan aplikasi tersebut sejak tahun 2016. Semula aplikasi yang bernama TCExam ini hanya berfungsi untuk ujian berbasis komputer. Namun, pada pertengahan tahun 2020 lalu di tengah pandemik COVID-19 Maman memodifikasi dan memperbarui agar bisa dimanfaatkan untuk ujian semester sekolah melalui gawai peserta didik.
‘’Aplikasi mode darurat ini sangat membantu peserta ujian seperti saya yang terkendala sinyal internet. Untuk mengakses aplikasi tersebut, kami tinggal meminta kepada panitia ujian di sekolah melalui pesan WhatsApp. Kemudian, panitia ujian mengirimkan soal ujian dan untuk mengakses juga tidak sulit, tinggal memasukkan password dan token. Selanjutnya, saya bisa mengerjakan soal-soal ujian tersebut dari rumah dengan lancar tanpa terkendala sinyal internet,’’ jelas Riyatni.
Sudah empat kali ujian ia memanfaatkan aplikasi mode darurat baik itu ujian tengah atau akhir semester. Semua berjalan lancar tanpa terkendala sinyal dan pendampingan guru.
‘’Sebab, meski tidak diawasi guru, dengan aplikasi mode darurat tanpa modal pulsa data internet ini ujian tetap tertib dan menjunjung kejujuran. Setiap ujian kami diberi waktu sekitar 1,5 jam, tergantung mata pelajarannya. Jika waktu habis kami tidak bisa mengulang pertanyaan sebelumnya," ujarnya.
Sebagai pengembang aplikasi mode darurat tanpa sinyal dan server itu Maman terus menampung masalah dan kendala yang dialami siswa dan sekolah selama pembelajaran daring di masa pandemik. Apalagi, saat memasuki proses penilaian belajar. Sebagian siswa tidak bisa mengikuti ujian tengah semester atau ujian akhir semester secara daring karena ada kendala sinyal internet.
‘’Saya gelisah karena selama pandemik dan pembelajaran daring banyak kendala yang dihadapi siswa dan sekolah. Ada siswa yang tidak bisa mengikuti pelajaran karena tidak mampu membeli kuota data internet, ada yang terkendala sinyal karena rumahnya di daerah pegunungan atau dekat dengan bangunan SUTET. Belum lagi server di sekolah juga memiliki kemampuan terbatas, sehingga tidak bisa menampilkan soal dengan baik,’’ ungkap pria kelahiran Pekalongan, 7 Juni 1986 itu.
Sementara, lanjut dia, bantuan kuota data internet dari pemerintah kepada siswa juga tidak bisa menjawab masalah tersebut. Kuota dan layanan data internet yang diberikan sangat terbatas, sehingga siswa tetap tidak bisa mengakses aplikasi ujian yang disiapkan sekolah.
Akhirnya, saat ujian semester tahun 2020 aplikasi TMFCBT for AKM diujicobakan. Dalam pembaharuan aplikasi tersebut siswa bisa mengikuti ujian sekolah tanpa membutuhkan kuota data internet dan bisa diakses meskipun ada gangguan sinyal. Kemudian, sekolah pun juga tidak perlu mengeluarkan dana untuk menambah kapasitas server.
‘’Di sini siswa hanya butuh kuota data dan sinyal saat proses transfer soal ujian melalui aplikasi percakapan WhatsApp atau bluetooth. Setelah itu mereka bisa mengerjakan soal ujian dengan lancar tanpa sinyal atau kuota data. Hasilnya para siswa sangat puas dan sekolah juga terbantu,’’ tutur Maman kepada IDN Times, Selasa (28/12/2021).