Semarang, IDN Times – Provinsi Jawa Tengah mencatatkan deflasi sebesar 0,35 persen secara bulanan (month-to-month/m-t-m) pada Januari 2026. Angka itu menunjukkan pembalikan tren yang signifikan. Sebelumnya, pada Desember 2025, Jawa Tengah mengalami inflasi sebesar 0,50 persen.
Awal Tahun 2026, Jawa Tengah Deflasi 0,35 Persen Imbas Panen Raya

Intinya sih...
Deflasi Jawa Tengah sebesar 0,35 persen
Normalisasi harga pangan volatil, emas cetak rekor tertinggi
Deflasi merata di seluruh kota IHK Jawa Tengah
1. Normalisasi harga pangan volatil
Capaian deflasi Jawa Tengah tersebut tercatat lebih dalam dibandingkan angka deflasi nasional yang hanya berada di level 0,15 persen (m-t-m). Bank Indonesia (BI) dalam keterangan resminya menyebutkan, penurunan indeks harga konsumen itu terutama dipicu oleh melimpahnya pasokan komoditas pangan seiring masuknya musim panen di berbagai sentra produksi.
Berdasarkan laporan perkembangan harga terkini, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau memberikan andil deflasi terbesar mencapai -0,51 persen.
Penurunan harga terjadi secara masif pada komoditas bumbu dapur dan protein hewani.
Adapun, lima komoditas utama yang menjadi penyumbang deflasi terbesar adalah cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, cabai rawit, dan telur ayam ras.
"Penurunan harga ini sejalan dengan masuknya periode panen serta normalisasi permintaan masyarakat pasca-momentum Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2026," kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah, Mohamad Noor Nugroho dilansir laporan resminya, Selasa (10/2/2025).
Meski demikian, secara tahunan (year-on-year/y-o-y), inflasi Jawa Tengah pada Januari 2026 terpantau berada di level 2,83 persen. Angka ini dinilai masih aman karena berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen, serta lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,55 persen (y-o-y).
2. Emas cetak rekor tertinggi
Di sisi lain, laju deflasi tertahan oleh kenaikan harga pada Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya yang memberikan andil inflasi sebesar 0,16 persen. Komoditas emas perhiasan menjadi penahan deflasi paling dominan.
Kenaikan harga emas perhiasan di pasar domestik tidak terlepas dari tren harga emas dunia yang menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) pada Januari 2026.
Lonjakan harga logam mulia ini didorong oleh tingginya permintaan investor terhadap aset safe haven akibat ketegangan geopolitik global yang memanas, serta ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed di awal tahun 2026.
Selain emas, komoditas lain seperti bawang putih, sepeda motor, mobil, dan beras juga masih mencatatkan kenaikan harga.
3. Deflasi merata di seluruh kota
Secara spasial, fenomena penurunan harga ini terjadi secara merata di seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Tengah. Kabupaten Wonogiri mencatatkan deflasi terdalam, sementara Kota Tegal mencatatkan deflasi terendah.
Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Jawa Tengah berkomitmen memperkuat koordinasi. Fokus utama diarahkan pada penjagaan kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi barang untuk memastikan inflasi tahun 2026 tetap terkendali dalam rentang sasaran.
Berikut adalah urutan tingkat deflasi di kota/kabupaten IHK Jawa Tengah dari yang terdalam hingga terendah:
Kabupaten Wonogiri: 0,52 persen (m-t-m)
Kabupaten Wonosobo: 0,51 persen (mt--m)
Kabupaten Cilacap: 0,42 persen (m-t-m)
Kota Surakarta: 0,38 persen (m-t-m)
Purwokerto: 0,36 persen (m-t-m)
Kabupaten Rembang: 0,29 persen (m-t-m)
Kabupaten Kudus: 0,26 persen (m-t-m)
Kota Semarang: 0,25 persen (m-t-m)
Kota Tegal: 0,24 persen (m-t-m).