Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG_1013.jpeg
Erna Prilyani, perajin tas dari bahan jeans. (Dok/Istimewa)

Intinya sih...

  • Erna Prilyani memulai usaha tas dari jeans bekas untuk bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi.

  • Pendampingan dari PNM Mekaar membantu Erna meningkatkan kualitas produk dan membawa DenCraft ke panggung nasional.

  • Partisipasi Erna di Inacraft 2026 membuka perspektif baru tentang potensi usahanya dan menjadi simbol keberanian untuk bangkit dari keterbatasan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Surakarta, IDN Times – Pandemi COVID-19 menjadi masa penuh tantangan bagi banyak pelaku usaha kecil. Tak sedikit yang terpaksa gulung tikar karena keterbatasan modal dan pasar. Namun, situasi sulit itu justru menjadi titik awal kebangkitan bagi Erna Prilyani, warga Kartasura, Solo.

Dari rumah sederhananya, Erna memulai usaha tas berbahan dasar celana jeans bekas. Siapa sangka, langkah kecil tersebut kini membawanya tampil di pameran kerajinan berskala nasional.

1. Bertahan di Tengah Ketidakpastian.

Ilustrasi tumpukan celana jeans (pexels.com/Waldemar Brandt)

Erna mengaku awalnya hanya ingin tetap bertahan di tengah kondisi ekonomi yang serba tak menentu. Ia memanfaatkan keterampilan menjahit yang sudah digelutinya sejak remaja untuk mengolah denim tak terpakai menjadi tas dengan desain unik.

“Waktu itu saya tidak berpikir macam-macam. Yang penting usaha dulu supaya tetap ada pemasukan,” ujarnya.

Dengan peralatan sederhana dan bahan seadanya, ia mulai menjahit dari rumah. Potongan-potongan jeans bekas disulap menjadi produk bernilai jual. Dari situlah lahir DenCraft, merek tas buatannya yang perlahan mulai dikenal.

Meski penuh semangat, perjalanan itu tidak selalu mudah. Erna sempat merasa kurang percaya diri saat membandingkan produknya dengan brand lain yang tampil lebih modern. Namun, ia memilih untuk terus belajar dan memperbaiki kualitas.

2. Pendampingan PNM Mekaar Jadi Titik Balik.

Kisah Ibu Umi Haryanti, nasabah PNM Mekaar asal Yogyakarta, menjadi bukti nyata bagaimana pemberdayaan perempuan prasejahtera bisa menumbuhkan harapan yang sempat padam. (Dok. PNM)

Sebagai nasabah PNM Mekaar, Erna mendapatkan pendampingan usaha yang membantunya meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas wawasan bisnis.

Ia belajar soal kerapian produksi, inovasi desain, hingga cara membangun kepercayaan konsumen. “Saya sempat ragu apakah produk saya cukup bagus. Tapi saya sadar, kualitas bisa terus ditingkatkan asal mau belajar,” katanya.

Pendampingan tersebut menjadi titik balik bagi DenCraft. Produk tas berbahan denim buatannya semakin rapi, kuat, dan memiliki karakter khas. Permintaan pun mulai datang dari berbagai daerah.

3. Dari Rumah ke Panggung Nasional.

Berbagai UMKM Kreatif mengikuti ajang Inacraft 2026. (dok. Bank Mandiri)

Kesempatan besar hadir ketika Erna diajak mengikuti Inacraft 2026 di Jakarta, salah satu pameran kerajinan terbesar di Indonesia. Baginya, momen itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

“Rasanya campur aduk, senang sekaligus takut. Tapi dari situ saya sadar, usaha kecil dari rumah pun bisa tampil di level nasional,” tuturnya.

Keikutsertaannya di ajang tersebut membuka perspektif baru tentang potensi usahanya. DenCraft tak lagi sekadar sumber penghasilan keluarga, tetapi juga simbol keberanian untuk bangkit dari keterbatasan.

Kini, Erna berharap usahanya dapat terus berkembang dan menginspirasi perempuan lain untuk berani memulai. “Saya ingin perempuan lain percaya bahwa mereka juga punya peluang yang sama untuk sukses,” ucapnya.

Dari jeans bekas yang nyaris tak bernilai, Erna membuktikan bahwa ketekunan dan kemauan belajar bisa membawa perubahan besar.

Topics

Editorial Team