Boyolali, IDN Times – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah terus menunjukkan dampak signifikan. Hingga pertengahan Januari 2026, ribuan dapur umum telah beroperasi di berbagai daerah dan membuka peluang kerja besar bagi masyarakat.
BGN : 20 Ribu Dapur MBG di Indonesia Gerakkan Ekonomi Warga

Intinya sih...
Lebih dari 20 Ribu Dapur MBG Buka Hampir 1 Juta Lapangan Kerja
Jumlah dapur MBG mencapai 20.419 unit secara nasional
Dapur tersebut menyerap tenaga kerja hampir satu juta orang di seluruh Indonesia
Layani Lebih dari 50 Juta Penerima, Soloraya Punya 568 SPPG
Dapur MBG melayani lebih dari 50 juta penerima manfaat
Total terdapat 568 SPPG di wilayah Soloraya, dengan Boyolali memiliki dapur terbanyak
MBG Tak Sekadar Program, tapi Gerakan Kemanusiaan
1. Lebih dari 20 Ribu Dapur MBG Buka Hampir 1 Juta Lapangan Kerja.
Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN), Dadang Hendrayudha, mengungkapkan bahwa jumlah Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) atau dapur MBG kini telah menembus angka 20.419 unit secara nasional.
Keberadaan dapur-dapur tersebut, menurut Dadang, secara tidak langsung telah menyerap tenaga kerja hampir satu juta orang di seluruh Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke. Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan di kawasan Kali Pepe Land, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (16/1/2026) malam.
2. Layani Lebih dari 50 Juta Penerima, Soloraya Punya 568 SPPG.
Dadang menjelaskan, dapur MBG saat ini telah melayani lebih dari 50 juta penerima manfaat. Sasaran program ini mencakup siswa PAUD, TK, SD, SMP, SMA, balita, serta ibu hamil dan menyusui.
Khusus wilayah Soloraya, total terdapat 568 SPPG yang tersebar di tujuh daerah. Boyolali menjadi salah satu daerah dengan jumlah dapur terbanyak yakni 98 SPPG, disusul Klaten 105, Sragen 85, Sukoharjo dan Karanganyar masing-masing 77, Wonogiri 72, serta Kota Solo sebanyak 59 dapur.
Meski begitu, Dadang mengakui jumlah tersebut masih belum sepenuhnya sebanding dengan kebutuhan penerima manfaat. Karena itu, peluang pembangunan dapur MBG baru masih terbuka lebar.
3. MBG Tak Sekadar Program, tapi Gerakan Kemanusiaan
Sebagai program nasional yang masih relatif baru, Dadang menegaskan MBG terus dievaluasi agar pelaksanaannya semakin optimal. Pemerintah, kata dia, berkomitmen memastikan dukungan anggaran, kualitas dapur, serta kecukupan gizi penerima manfaat semakin baik pada 2026.
Ia juga menekankan bahwa MBG bukan hanya soal bisnis, tetapi memiliki nilai kemanusiaan dan efek berganda bagi perekonomian masyarakat sekitar dapur SPPG.
Senada dengan itu, Owner Yayasan Bangun Gizi Nusantara yang menaungi SPPG Gagaksipat Boyolali, Puspo Wardoyo, mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga kualitas dan keberlanjutan program MBG agar manfaatnya terus dirasakan masyarakat luas.
“Program ini harus dirawat bersama, jangan sampai muncul persoalan yang justru merugikan penerima manfaat,” ujarnya.
Pihaknya juga meminta kepada dapur SPPG untuk terus menjaga kualitas agar program MBG tidak mengalami masalah. Masyarakat penerima program MBG juga lebih banyak menerima manfaatnya.
“Mari kita rawat dengan baik, jangan sampai kelewatan dan jangan sampai kita terpecah belah dan jangan sampai ada masalah-masalah,” pesan Puspo.