Cilacap, IDN Times – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini bagi seluruh masyarakat Jawa Tengah. Aktivitas atmosfer yang cukup aktif akibat kemunculan Bibit Siklon Tropis 90S di Samudra Hindia selatan Banten-Jawa Barat memicu potensi cuaca ekstrem di wilayah Jawa Tengah hingga Rabu (4/3/2026) pagi.
Meskipun peluang bibit siklon ini berkembang menjadi siklon tropis tergolong rendah, dampaknya terhadap dinamika cuaca di Jawa Tengah cukup signifikan.
Bibit Siklon Tropis 90S menarik suplai uap air dalam jumlah besar ke wilayah selatan Pulau Jawa, termasuk Jawa Tengah. Hal ini menyebabkan pertumbuhan awan-awan hujan intensif yang berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Teguh Wardoyo, Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, menegaskan tiga area yang paling rawan terdampak yakni wilayah selatan Jateng terutama daerah pesisir. Dataran tinggi wilayah dengan topografi curam. Kawasan pegunungan sangat rentan terhadap bencana tanah longsor.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai ancaman bencana hidrometeorologi yang dapat muncul sewaktu-waktu, terutama banjir dan genangan akibat sistem drainase yang kurang optimal saat curah hujan tinggi. Tanah longsor khusus bagi warga yang tinggal di kawasan perbukitan atau lereng gunung.
Dampak dari bibit siklon ini tidak hanya di darat, tetapi juga di laut. Tinggi gelombang di Samudra Hindia selatan Jawa diprediksi mencapai 2,5 hingga 4 meter.
"Nelayan dan operator jasa pelayaran wajib memantau informasi cuaca maritim terbaru sebelum melaut. Mengutamakan keselamatan adalah harga mati dalam kondisi cuaca seperti ini," ujar Teguh.
Selain 90S, BMKG juga memantau dua bibit siklon lainnya, yakni 92P di Teluk Carpentaria dan 93S di barat laut Australia. Meski tidak berdampak langsung ke Jawa Tengah, keberadaan ketiganya menunjukkan bahwa dinamika atmosfer Indonesia saat ini sedang sangat aktif.
