Semarang, IDN Times - Peneliti Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof. Muhammad Nur, DEA menghadirkan inovasi teknologi untuk membantu para nelayan di Indonesia. Melalui teknologi bernama Box O’Fish (Box Storage Ozone for Fish), nelayan bisa menyimpan ikan hasil tangkapan lebih lama.
Box O’Fish Karya Peneliti Undip Bantu Nelayan Simpan Ikan Lebih Lama

Intinya sih...
- Prof. Muhammad Nur, DEA menciptakan teknologi penyimpanan ikan berbasis ozon bernama Box O’Fish untuk membantu nelayan di Indonesia.
- Teknologi ini memungkinkan nelayan untuk menyimpan ikan lebih lama tanpa residu, meningkatkan kesegaran ikan hingga tujuh hari, dan meningkatkan volume serta nilai jual tangkapan.
- Plasma ozon yang digunakan ramah lingkungan dan telah dimodifikasi untuk skala kecil maupun besar dengan biaya investasi terjangkau.
1. Kesegaran ikan bisa bertahan hingga 7 hari
Teknologi buatan Guru Besar Departemen Fisika, Fakultas Sains dan Matematika ini berupa teknologi penyimpanan ikan berbasis ozon yang kini mulai diterapkan dalam kapal-kapal penangkap ikan di Indonesia. Memanfaatkan plasma ozon, kesegaran ikan hasil tangkapan nelayan menjadi lebih lama tanpa meninggalkan residu.
Nur menjelaskan, jika sebelumnya nelayan hanya dapat mempertahankan kesegaran hasil tangkapan selama tiga hari menggunakan es batu (slurry ice), kini dengan teknologi Box O’Fish kesegaran ikan dapat dipertahankan hingga lebih dari tujuh hari.
“Selama ini, nelayan kita terpaksa berlabuh lebih awal karena khawatir hasil tangkapannya membusuk. Teknologi ini menjadi solusi agar ikan tetap segar lebih lama, sehingga nelayan bisa lebih lama melaut dan meningkatkan volume serta nilai jual tangkapannya,” katanya dalam keterangan resmi, Minggu (1/6/2025).
2. Sangat potensial diadopsi lebih luas
Selain efisien dan terjangkau, teknologi ini juga ramah lingkungan. Plasma ozon yang digunakan hanya bertahan 40 menit dalam air dan tidak meninggalkan residu apapun. Teknologi ini telah dimodifikasi agar sesuai untuk skala kecil seperti box penyimpanan di kapal, maupun skala besar seperti cold storage dan kontainer darat.
Penerapan teknologi ini juga didukung oleh sistem pemantauan kapal perikanan atau Vessel Monitoring System (VMS) serta bantuan sarana tangkap lainnya seperti coolbox, drum solar, dan basket hasil kerja sama dengan berbagai pihak. Langkah ini menjadi bagian dari strategi integratif untuk meningkatkan efisiensi logistik hasil tangkapan ikan.
Dengan biaya investasi yang relatif terjangkau—misalnya satu mesin plasma ozon untuk 30 box penyimpanan dengan harga terjangkau nelayan. Teknologi ini dinilai sangat potensial untuk diadopsi lebih luas oleh pelaku usaha perikanan kecil dan menengah di berbagai daerah.
3. Jembatani ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat
Melalui inovasi ini, Universitas Diponegoro kembali menunjukkan peran strategisnya dalam menjembatani ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam mendukung keberlanjutan sektor perikanan nasional.
Adapun, berkat inovasi tersebut, Prof. Muhammad Nur diundang dalam perayaan puncak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-52 Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) yang digelar di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Muara Angke, Jakarta tanggal 26 Mei 2025.
Dalam acara tersebut, HNSI menegaskan komitmennya untuk mendukung swasembada pangan nasional, sejalan dengan program prioritas Presiden terpilih Prabowo Subianto. Kehadiran teknologi dari peneliti Undip tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat sektor perikanan melalui sains dan teknologi tepat guna.