Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi Gunung Slamet. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Ilustrasi Gunung Slamet. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Intinya sih...

  • Titik Longsor Jauh di Atas Area Tambang

    Berdasarkan kajian Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng, aktivitas tambang tidak menjadi pemicu longsor di lereng Gunung Slamet.

  • Curah Hujan Ekstrem Jadi Pemicu Utama

    Tanah gembur dan batuan mudah lapuk di lereng Gunung Slamet membuat curah hujan ekstrem menjadi penyebab utama terganggunya kestabilan lereng.

  • Izin Tambang Bermasalah Tetap Dicabut

    Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan mencabut izin perusahaan tambang yang tidak patuh pada aturan good mining practice sebagai langkah preventif.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times – Masyarakat di lereng Gunung Slamet, khususnya wilayah Pemalang dan Purbalingga, sempat mempertanyakan kaitan aktivitas tambang dengan rentetan longsor belakangan ini. Menanggapi keresahan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah angkat bicara untuk memberikan klarifikasi teknis.

Berdasarkan kajian Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng, berikut poin-poin penting yang perlu diketahui publik:

1. Titik Longsor Jauh di Atas Area Tambang

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng, Agus Sugiharto (kanan) menunjukkan peta wilayah kawasan Gunung Slamet. (Dok. Pemprov Jateng)

Banyak warga menduga getaran atau pengerukan lahan menjadi pemicu longsor. Namun, Kepala Dinas ESDM Jateng, Agus Sugiharto, mengungkapkan bahwa mahkota longsor berada di tubuh gunung yang sangat tinggi, sedangkan aktivitas tambang hanya ada di bagian kaki gunung.

"Lokasi tambang berada ratusan meter lebih rendah dari titik awal longsor. Jadi, secara teknis tidak ada pertambangan yang masuk ke area tubuh Gunung Slamet," tegas Agus, Rabu (28/1/2026).

2. Curah Hujan Ekstrem Jadi Pemicu Utama

ilustrasi hujan lebat (unsplash.com/A A)

Faktor alam disebut sebagai penyebab utama. Tanah di lereng Gunung Slamet memiliki porositas tinggi atau sangat gembur. Ketika hujan lebat mengguyur dalam durasi panjang, tanah mencapai titik jenuh air yang mengakibatkan kestabilan lereng terjal terganggu. Kondisi batuan yang mudah lapuk (litologi) mempercepat terjadinya gerakan tanah tersebut.

3. Izin Tambang Bermasalah Tetap Dicabut

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng, Agus Sugiharto (kanan) menunjukkan peta wilayah kawasan Gunung Slamet. (Dok. Pemprov Jateng)

Meski longsor kali ini diklaim murni faktor alam, pemerintah menegaskan tetap mengawasi ketat perusahaan tambang. Sebagai bukti, Pemprov Jateng telah mengusulkan pencabutan izin PT Dinar Batu Agung karena tidak patuh pada rekomendasi lingkungan.

"Kalau pengusaha tidak patuh pada aturan good mining practice, kami tidak ragu melakukan penertiban, mulai dari penghentian sementara hingga pencabutan izin permanen," tambah Agus.

4. Early Warning System (EWS) untuk Warga

Ilustrasi Banjir. (unsplash.com/ Wolfgang Hasselmann)

Dinas ESDM rutin merilis peta potensi gerakan tanah setiap bulan. Masyarakat diminta selalu memantau informasi ini, terutama saat curah hujan tinggi, untuk melakukan evakuasi mandiri sebelum bencana terjadi. Sosialisasi terus diperkuat agar warga di wilayah rawan segera mengamankan diri saat hujan turun lebih dari dua jam tanpa henti.

Editorial Team