Mbah Darso menata makanan saat hajatan di kampung. (Dok/Istimewa)
Mbah Darso memiliki 6 anak diantarnya adalah; Surip, Sumi, Jumadi, Jumino, Jumarni, dan Kusyati. Untuk memenuhi kebutuhan harian, Mbah Darso berjualan tenongan di pagi hari, beberapa menu yang dijual sepert Bubur, Nasi Sayur, Gudeg, Sambal Goreng, Tumpang Terik dan aneka lauk pauk lainnya.
Pada siang hari Mbah Darso melanjutkan dagangannya dengan menggendong jualannya berkeliling kampung, menu yang dijajakan adalah Bakmi Toprak.
Semua masakan disiapkan oleh Mbah Darso dengan bantuan anak-anak nya, Mbah Darso selalu memberikan wejangan atau nasehat kepada anak-anaknya bahwa "Sepi ing pamrih, rame ing gawe, banter tan mblancangi, dhuwur tan nungkuli (bekerja keras dan bersemangat tanpa pamrih, cepat tanpa harus mendahului, tinggi tanpa harus melebihi)."
Wejangan tersebut selalu ditanamkan Mbah Darso kepada anak-anaknya secara turun temurun. Kondisi ekonomi yang tidak stabil membuat Mbah Darso harus pandai dalam mengatur keuangaan dan mencari pendapatan yang lain.
"Mbah Darso sangat bersyukur beliau mendapatkan kepercayaan warga untuk menjadi koki kampung yang handal.Pada setiap acara Mbah Darso selalu mengikutsertakan ke-2 anaknya yaitu Surip dan Sumi untuk membantunya menjadi asisten koki dalam hal meracik bumbu dan resep yang akan disajikan," jelas Yohanes.
Kedua anaknya kemudian berantusias untuk terus belajar memasak serta meracik citarasa sajian yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Ibu mereka.
Surip dan Sumi kemudian handal juga dalam meracik sajian hingga akhirnya mereka mengerjakan racikan sendiri tanpa Ibu mereka. Keahlian memasak ini yang akhirnya dapat diwariskan Mbah Darso kepada anak-anaknya.