Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dampak Kemarau, Warga di Purwokerto Begadang Demi Air Bersih

Kab. Banyumas
3 min read
Dampak Kemarau, Warga di Purwokerto Begadang Demi Air Bersih
Ayus (baju merah) salah satu warga di perumaha Sidanegara Purwokerto Selatan saat antri air bersih yang dikirim oleh PDAM Banyumas, Jumat (9/10/2026).(IDN Times/Foto : Baldi)
  • Pasokan PDAM di Kranji dan Purwokerto Kulon terhenti dua hari, setelah terganggu hampir sebulan; warga begadang menunggu air untuk mandi, memasak, dan mencuci.

  • Pada 9 Oktober 2026, PDAM merespons aduan dengan mengirim 4.000 liter air tangki. Secara keseluruhan, Banyumas telah menyalurkan hampir 6 juta liter melalui lebih dari seribu pengiriman.

  • Kekeringan melanda 82 desa atau kelurahan di 22 kecamatan Banyumas dan berdampak pada sekitar 69.000 jiwa. Warga berharap pasokan PDAM segera kembali stabil.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Purwokerto, IDN Times – Krisis air bersih akibat kekeringan di Kabupaten Banyumas semakin dirasakan warga. Di Kelurahan Kranji dan Purwokerto Kulon, Kecamatan Purwokerto Selatan, pasokan air PDAM dilaporkan terhenti total selama dua hari. Warga pun terpaksa menunggu hingga tengah malam, bahkan begadang sampai pagi, demi mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Setelah persediaan air di rumah habis, bantuan air bersih sebanyak 4.000 liter didistribusikan menggunakan truk tangki pada Jumat (9/10/2026). Bantuan tersebut menjadi solusi sementara bagi warga yang kesulitan mendapatkan air bersih.

Berdasarkan data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla Kabupaten Banyumas per awal Oktober 2026, krisis air telah melanda 82 desa/kelurahan di 22 kecamatan dengan sekitar 69.000 jiwa terdampak. Bahkan, sejumlah wilayah perkotaan seperti Mersi dan Arcawinangun juga mengalami persoalan serupa.

  1. 1. Begadang nunggu air bersih

    Kondisi Jalan Kranji di Banyumas saat krisis air bersih mulai merambah kawasan perkotaan pada Jumat, 9 Oktober 2026.
    Krisis air bersih di Banyumas mulai merambah perkotaan seperti di jalan Kranji, Jumat (9/10/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

    Krisis air yang dialami warga Kranji bukan persoalan baru. Di RT 2 RW 3 Kelurahan Kranji, seorang warga bernama Heri mengungkapkan bahwa pasokan air sudah terganggu selama hampir sebulan.

    Selama periode tersebut, air biasanya hanya mengalir pada malam hari. Warga harus menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan jadwal aliran air yang tidak menentu.

    "Kadang malam nyala, jadi harus begadang sampai pagi menunggu air. Tapi ini sudah dua hari sama sekali tidak menyala. Air di rumah habis semua,"ujarnya.

    Kondisi serupa terjadi di Purwokerto Kulon. Warga terpaksa menunggu hingga tengah malam atau dini hari untuk mengisi ember dan jeriken.

    Ketika air tidak mengalir selama dua hari berturut-turut, persediaan di rumah pun habis. Aktivitas seperti mandi, memasak, dan mencuci menjadi semakin sulit dilakukan.

  2. 2. Aduan warga direspons dengan distribusi 4.000 Liter Air

    Petugas PDAM Banyumas menyalurkan air bersih kepada warga Purwokerto Selatan melalui layanan droping air.
    PDAM Banyumas yang langsung merespon warga di Purwokerto Selatan saat mereka meminta droping air bersih, Jumat (9/10/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

    Kondisi yang semakin mendesak membuat warga menghubungi pihak PDAM untuk meminta bantuan. Ayus Lita, salah seorang warga yang menyampaikan laporan melalui bagian hubungan masyarakat PDAM, mengatakan permintaannya langsung mendapat respons.

    “Begitu tidak ada air, saya langsung menghubungi PDAM dan meminta bantuan melalui humas. Alhamdulillah, langsung direspons dan air dikirim,” kata Ayus.

    Pada Jumat (9/10/2026), sebanyak 4.000 liter air bersih dikirim menggunakan truk tangki. Warga kemudian berbondong-bondong membawa ember dan jeriken untuk mendapatkan pasokan air.

    Bantuan tersebut setidaknya dapat memenuhi kebutuhan dasar warga untuk sementara waktu, terutama keluarga yang sudah kehabisan persediaan air di rumah.

    Distribusi air menggunakan truk tangki juga dilakukan untuk membantu masyarakat di wilayah lain yang terdampak kekeringan. Berdasarkan data penanganan bencana Banyumas per awal Oktober 2026, total air yang telah disalurkan ke berbagai wilayah terdampak mencapai hampir 6 juta liter melalui lebih dari seribu ritase pengiriman.

  3. 3. Soal PDAM, warga berharap aliran segera normal

    Ilustrasi krisis air bersih yang meluas hingga kawasan perkotaan di Banyumas pada 9 Oktober 2026, Jumat.
    Krisis air bersih di Banyumas tahun ini juga dilaporkan meluas hingga kawasan perkotaan, Jumat (9/10/2026).(IDN Times/Ilustrasi)

    Meski bantuan air tangki telah diterima, warga Kranji dan Purwokerto Kulon masih menghadapi persoalan utama, yakni pasokan air yang belum stabil.

    Bagi warga yang bergantung pada jaringan PDAM, distribusi air menggunakan truk tangki hanya menjadi penanganan darurat. Mereka berharap air kembali mengalir secara normal tanpa harus menunggu hingga tengah malam atau begadang sampai pagi.

    "Yang kami butuhkan berikutnya adalah aliran air yang kembali normal, tanpa harus menunggu hingga malam atau berjaga sampai pagi hanya untuk mendapatkan air,"keluh sejumlah warga.

    Krisis air bersih di Banyumas tahun ini juga dilaporkan meluas hingga kawasan perkotaan. Kondisi tersebut membuat masyarakat yang selama ini mengandalkan layanan perpipaan turut merasakan dampak musim kemarau.

    Selama kekeringan masih berlangsung, kepastian distribusi air bersih menjadi kebutuhan mendesak bagi warga terdampak. Bantuan tangki dapat mengurangi kesulitan dalam jangka pendek, tetapi pemulihan pasokan yang stabil tetap menjadi harapan masyarakat agar aktivitas sehari-hari bisa kembali berjalan normal.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More