Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Personel Babinsa dan warga setempat melihat rumah terdampak bencana tanah bergerak di Kampung Sekip, Jangli, Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (10/2/2026). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Personel Babinsa dan warga setempat melihat rumah terdampak bencana tanah bergerak di Kampung Sekip, Jangli, Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (10/2/2026). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Intinya sih...

  • Kerusakan infrastruktur akibat pergerakan tanah di Kampung Sekip, Semarang, pascahujan deras

  • Respons Wali Kota Semarang terhadap rentetan bencana hidrometeorologi di wilayahnya

  • Dampak alih fungsi lahan hijau menjadi permukiman padat penduduk di wilayah Semarang atas

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times – Fenomena tanah bergerak (land subsidence) dan longsor menghantui wilayah Kota Semarang, Jawa Tengah, pada awal tahun 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mencatat sudah terjadi 55 kejadian bencana, didominasi oleh tanah longsor dan amblas, sejak 1 Januari hingga 5 Februari 2026.

Kondisi terparah baru-baru ini dilaporkan terjadi di Kampung Sekip, Kelurahan Jangli Gabeng, Kecamatan Tembalang. Pergerakan tanah yang masif menyebabkan 10 rumah warga terdampak, di mana lima unit di antaranya rusak berat hingga dinyatakan tidak layak huni.

1. Kerusakan infrastruktur

Personel Babinsa menutup akses jalan yang terdampak bencana tanah bergerak di Kampung Sekip, Jangli, Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (10/2/2026). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Pergerakan tanah di Kampung Sekip terjadi pascahujan deras yang mengguyur wilayah tersebut dalam sepekan terakhir. Selain merusak hunian, kejadian tersebut memutus akses jalan cor kampung karena patah dan amblas.

Tanah dilaporkan bergeser hingga dua meter dengan kedalaman penurunan sekitar setengah meter. Akibatnya, satu rumah dilaporkan roboh, dinding rumah lainnya retak parah, pintu tidak lagi sejajar, hingga kandang ternak warga turut terdampak. Warga terpaksa memarkir kendaraan di bawah kampung dan berjalan kaki menuju rumah.

Salah satu warga terdampak, Slamet Riyadi mengungkapkan, tanda-tanda pergeseran tanah sudah muncul sejak sebulan lalu, namun eskalasi kerusakan terjadi sangat cepat usai hujan lebat pada Rabu dan Kamis pekan lalu.

Meski wilayah kelahirannya itu dikenal rawan, kejadian kali ini merupakan yang terparah sepanjang sejarah kampung tersebut. Adapun, kerugian material ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.

2. Respons Wali Kota Semarang

Kondisi rumah warga yang ambruk terdampak bencana tanah bergerak di Kampung Sekip, Jangli, Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (10/2/2026). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Menanggapi rentetan bencana hidrometeorologi di wilayahnya, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menyatakan keprihatinannya. Ia mengeklaim sudah menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) untuk melakukan penanganan teknis permanen, mengingat BPBD hanya berwenang pada penanganan darurat.

Pemkot Semarang sendiri menyiapkan langkah mitigasi jangka menengah berupa pembangunan embung (penampungan air) di kawasan Semarang bagian atas. Langkah itu diambil karena penyebab utama longsor adalah berkurangnya lahan resapan dan minimnya vegetasi, yang memicu tingginya tekanan air ke dalam tanah.

“Kita akan memperbanyak embung di tanah milik Pemkot untuk mengurangi tensi tekanan air. Selain itu juga akan dibuat sodetan sungai supaya bebannya tidak terlalu tinggi, seperti membuat alur sungai baru,” ujarnya.

3. Dampak alih fungsi lahan

Seorang warga berada di dalam rumahnya yang terdampak bencana tanah bergerak di Kampung Sekip, Jangli, Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (10/2/2026). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P Martanto membenarkan wilayah Semarang atas, seperti Jangli, Ngesrep, dan Pudak Payung, menjadi titik paling rawan longsor. Hal itu berkaitan erat dengan masifnya alih fungsi lahan hijau menjadi permukiman padat penduduk.

“Tanah longsor atau tanah amblas sampai saat ini terjadi sebanyak 55 kali. Banyak lahan hijau yang sebelumnya menjadi resapan alami kini berubah menjadi kawasan padat penduduk,” jelas Endro.

Editorial Team