Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dhaup Ageng, Gusti Sura Jalani Langkahan hingga Dodol Dawet

Kota Surakarta
3 min read
Dhaup Ageng, Gusti Sura Jalani Langkahan hingga Dodol Dawet
Gusti Kanjeng Putri Mangkunegara IX mencium putrinya, Gusti Sura yang akan melaksanakan prosesi siraman. (Dok.Istimewa)
  • Gusti Sura menjalani Langkahan di Pura Mangkunegaran karena menikah lebih dahulu dari kakaknya, sebagai permohonan izin dan restu keluarga.
  • Setelah Sungkeman kepada para sesepuh, Gusti Sura mengikuti Siraman untuk menerima doa dan pangestu; Kanjeng Dimas menjalani prosesi serupa di kediamannya.
  • Tradisi Dodol Dawet melambangkan kesiapan orangtua melepas Gusti Sura. Rangkaian Dhaup Ageng berlanjut dengan Midodareni sebelum pernikahan pada 6 November 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Solo, IDN Times – Suasana khidmat menyelimuti Pura Mangkunegaran, Kamis (5/11/2026). Menjelang pernikahannya dengan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian atau Kanjeng Dimas, G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura menjalani sejumlah prosesi adat, mulai dari Langkahan, Siraman, hingga Dodol Dawet.

Ketiga prosesi tersebut bukan sekadar rangkaian tradisi menjelang pernikahan. Ada pesan mendalam tentang restu orangtua, penghormatan kepada saudara, hingga doa para sesepuh yang mengiringi langkah Gusti Sura menuju kehidupan rumah tangga.

Rangkaian ini sekaligus melanjutkan prosesi Sungkeman dan Sengkeran yang telah dijalani sejak 3 November 2026. Setiap tahapan menjadi bagian penting dalam Hajad Dalem Dhaup Ageng Mangkunegaran yang mempertemukan Gusti Sura dan Kanjeng Dimas.

  1. 1. Menikah mendahului kakak, Gusti Sura jalani prosesi Langkahan.

    IMG_7601.jpeg
    Gusti Sura bersama kakaknya GPH Paundrakarna jelang prosesi Langkahan. (Dok.Istimewa)

    Rangkaian Kamis pagi diawali dengan prosesi Langkahan di nDalem Ageng Pura Mangkunegaran. Tradisi ini dijalani Gusti Sura karena akan melangsungkan pernikahan lebih dahulu dibandingkan kakaknya, G.P.H. Paundrakarna Jiwa Suryanegara.

    Melalui prosesi tersebut, Gusti Sura menyampaikan permohonan izin sekaligus meminta restu kepada sang kakak. Momen ini menjadi bentuk penghormatan seorang adik kepada kakak yang belum menikah.

    Juru Bicara Dhaup Ageng, R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti, menjelaskan bahwa Langkahan memiliki makna penting dalam hubungan kekeluargaan.

    “Langkahan menjadi simbol permohonan izin Gusti Sura kepada kakaknya yang belum menikah. Restu tersebut mengiringi perjalanan kedua temanten dalam memasuki kehidupan rumah tangga,” ujar Ayu.

  2. 2. Siraman jadi momen menerima doa dan pangestu para sesepuh.

    IMG_7598.jpeg
    Prosesi dodol dawet yang dilakukan oleh Gusti Kanjeng Putri dan GPH Paundrakrna. (Dok/Istimewa)

    Setelah Langkahan, Gusti Sura melanjutkan rangkaian dengan prosesi Siraman. Sebelum menjalani ritual tersebut, calon temanten putri terlebih dahulu melakukan Sungkeman kepada para sesepuh keluarga.

    Kehadiran para sesepuh menjadi bagian penting dalam prosesi ini. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada generasi terdahulu, Siraman juga menjadi momen bagi Gusti Sura untuk menerima doa dan pangestu sebelum memasuki kehidupan baru.

    Menariknya, prosesi Siraman juga dijalani Kanjeng Dimas pada hari yang sama di kediamannya. Kedua calon temanten menjalani persiapan masing-masing bersama keluarga sebelum dipertemukan dalam rangkaian pernikahan berikutnya.

  3. 3. Dodol Dawet simbol kesiapan orangtua melepas putrinya.

    IMG_7604.jpeg
    Mangkunegara X turut dalam prosesj dodol dawet jelng Dhaup Ageng Gusti Sura. (Dok/Istimewa)

    Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan tradisi Dodol Dawet. Prosesi ini memiliki filosofi tersendiri, yakni menggambarkan kesiapan orangtua dalam melepas putrinya menuju kehidupan rumah tangga.

    Dalam tradisi tersebut, orangtua calon temanten putri menjadi bagian dari prosesi yang menyimbolkan kerelaan, doa, dan harapan agar perjalanan rumah tangga anaknya kelak berjalan baik.

    “Dodol Dawet membawa makna bahwa orang tua Gusti Sura siap mengantarkan putrinya menuju kehidupan rumah tangga, dengan doa dan restu keluarga yang menyertainya,” kata Ayu.

    Sebelumnya, Gusti Sura juga telah menjalani Sungkeman kepada ibundanya, G.K.P. Mangkoenagoro IX, sebelum memasuki prosesi Sengkeran.

    Rangkaian persiapan Dhaup Ageng selanjutnya dijadwalkan berlanjut pada Kamis malam melalui prosesi Midodareni. Tahapan ini menjadi salah satu momen terakhir bagi keluarga untuk mempersiapkan calon temanten putri sebelum memasuki rangkaian pernikahan pada 6 November 2026.

    Melalui tradisi yang dijalankan secara turun-temurun, Dhaup Ageng Mangkunegaran bukan hanya menjadi perayaan pernikahan, tetapi juga momentum untuk merawat nilai kekeluargaan, penghormatan, dan restu lintas generasi.

Related Articles

See More