Nawal istri Gus Yasin menyapa anak-anak PAUD yang berdiri merayakan hari batik nasional di GOR Jatidiri Semarang. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)
Setya menilai, persoalan anak putus sekolah harus ditangani melalui pendekatan kolaboratif lintas sektor.
Menurutnya, kolaborasi dengan dunia usaha dan industri lokal menjadi kunci karena sektor tersebut bisa membuka ruang magang atau pelatihan kerja bagi remaja non-formal tanpa meninggalkan hak belajarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran pemerintah desa dan pendamping sosial pendidikan yang bisa melakukan pendataan berbasis rumah tangga serta memberikan dukungan psikososial bagi anak-anak yang kehilangan semangat belajar.
“Saya kira desa perlu punya database anak usia sekolah yang belum terlayani. DPRD akan mendukung regulasi agar setiap anak punya hak belajar, entah di sekolah formal, pendidikan kesetaraan, atau jalur keterampilan yang setara,” tegasnya.
Pendekatan alternatif penanganan anak putus sekolah diharapkan tidak hanya menyelesaikan angka statistik, tetapi juga mengembalikan kepercayaan diri dan semangat hidup anak-anak.
Ari menegaskan, pembangunan pendidikan harus menempatkan anak sebagai subjek, bukan sekadar objek kebijakan.
“Anak-anak ini bukan angka. Mereka masa depan bangsa. Kalau satu anak bisa kembali belajar, itu sudah sebuah kemenangan kecil yang sangat berarti,” tutupnya.