Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ekonomi Jateng Tumbuh 5,83 Persen, Disumbang MTQ Nasional 2026

Kota Semarang
3 min read
Ekonomi Jateng Tumbuh 5,83 Persen, Disumbang MTQ Nasional 2026
Sebanyak 288.219 orang serentak menyanyikan Mars Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI dalam pembukaan MTQ Nasional di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, Sabtu(12/9/2026). (dok. Pemkot Semarang)
  • Ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,83 persen secara tahunan pada triwulan III 2026, dengan PDRB harga berlaku Rp542,49 triliun dan pertumbuhan kumulatif 5,82 persen.

  • Industri pengolahan menjadi kontributor terbesar ekonomi dengan porsi 34,05 persen, sementara perdagangan tumbuh 8,29 persen; akomodasi dan makan minum naik 14,06 persen didorong MTQ Nasional.

  • Konsumsi rumah tangga mendominasi dari sisi pengeluaran dengan kontribusi 58,76 persen dan andil pertumbuhan 2,47 persen; investasi tumbuh 16,78 persen, sedangkan pertanian, pertambangan, serta administrasi pemerintahan terkontraksi secara triwulanan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times – Perekonomian Jawa Tengah tumbuh 5,83 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan III 2026. Penyumbang pertumbuhan itu didongkrak oleh penyelenggaraan MTQ Nasional 2026 di Kota Semarang, beberapa waktu lalu. 

  1. 1. Industri pengolahan tumbuh cukup tinggi

    ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)
    ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)

    Selain itu, pertumbuhan ekonomi di Jateng juga ditopang oleh industri pengolahan, perdagangan, serta sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang mencatat pertumbuhan cukup tinggi.

    Berdasarkan lapangan usaha, industri pengolahan masih menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap perekonomian Jawa Tengah, yakni 34,05 persen. Sektor ini tumbuh 6,73 persen secara tahunan dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi dengan andil 2,16 persen.

    Sektor perdagangan menempati posisi berikutnya dengan kontribusi 13,58 persen dan pertumbuhan 8,29 persen. Sektor ini memberikan andil sebesar 1,19 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Ali Said mengatakan, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah atas dasar harga berlaku pada periode tersebut mencapai Rp542,49 triliun. Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp325,13 triliun.

    Secara triwulanan (quarter to quarter/qtq), ekonomi Jawa Tengah tumbuh 1,20 persen dibandingkan triwulan II 2026. Adapun, secara kumulatif hingga triwulan III 2026, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,82 persen.

    “Dibandingkan triwulan III 2025, ekonomi Jawa Tengah pada triwulan III 2026 secara year on year tumbuh sebesar 5,83 persen,” ujarnya dalam siaran pers secara daring, Kamis (5/11/2026).

  2. 2. MTQ Nasional dongkrak akomodasi dan makan minum

    Mtq, pawai mtq
    Para kafilah dari berbagai daerah mengikuti Pawai Ta’aruf MTQ Nasional di Kota Semarang, Sabtu (12/9/2026). (Dok. Pemkot Semarang)

    Salah satu sektor dengan pertumbuhan tertinggi pada triwulan III 2026 adalah penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 14,06 persen secara tahunan.

    Menurut Ali, peningkatan tersebut antara lain didorong penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI di Semarang pada September 2026. Rata-rata tingkat penghunian kamar (TPK) hotel meningkat 8,87 persen.

    “Selain itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memberikan stimulus terhadap aktivitas ekonomi,” katanya.

    Dari sisi investasi, Jawa Tengah mencatat pertumbuhan sebesar 16,78 persen pada triwulan III 2026. Secara kumulatif Januari hingga September 2026, realisasi investasi PMA dan PMDN mencapai Rp24 triliun.

    Realisasi tersebut mencakup investasi penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp14,86 triliun. Investasi itu menyerap 127.117 tenaga kerja Indonesia melalui 26.431 proyek.

    Lima negara investor terbesar yang disebut dalam paparan BPS yakni Hong Kong sebesar 27,04 persen, Singapura 23,53 persen, China 16,53 persen, Jepang 5,91 persen, dan Thailand 7,35 persen.

    Investasi tersebut terkonsentrasi pada sejumlah sektor strategis, antara lain industri karet dan plastik, tekstil, transportasi, pergudangan dan telekomunikasi, kawasan perumahan dan perkantoran, serta industri barang dari kulit dan alas kaki.

  3. 3. Konsumsi rumah tangga masih mendominasi

    Masyarakat berbelanja kebutuhan Lebaran di Pasar BK Simongan Semarang, Senin (8/4/2024). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
    Masyarakat berbelanja kebutuhan Lebaran di Pasar BK Simongan Semarang, Senin (8/4/2024). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

    Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi komponen terbesar dengan kontribusi 58,76 persen terhadap perekonomian Jawa Tengah pada triwulan III 2026.

    Komponen ekspor memberikan kontribusi 45,6 persen, sedangkan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 32,63 persen.

    Konsumsi rumah tangga juga menjadi sumber pertumbuhan terbesar dari sisi pengeluaran dengan andil 2,47 persen. Sementara itu, PMTB memberikan andil 1,65 persen.

    Di sisi lain, sejumlah sektor mencatat pertumbuhan relatif rendah. Pengadaan air, pengelolaan limbah dan sampah tumbuh 1,49 persen, sedangkan jasa keuangan dan asuransi tumbuh 1,35 persen.

    Secara triwulanan, sektor pertanian mengalami kontraksi 3,25 persen. Sektor pertambangan dan penggalian juga terkontraksi 4,32 persen, sedangkan administrasi pemerintahan mengalami kontraksi 6,3 persen.

Related Articles

See More