Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

GP Ansor Jateng Kecam Arogansi Polisi saat Razia Ponpes Santriwati Mojolaban

Kota Semarang
2 min read
GP Ansor Jateng Kecam Arogansi Polisi saat Razia Ponpes Santriwati Mojolaban
Ilustrasi Ponpes. IDN Times/Galih Persiana
  • GP Ansor Jawa Tengah mengecam penggeledahan polisi di ponpes santriwati Mojolaban terkait pembakaran warung mi babi, karena dinilai arogan, tidak profesional, dan tidak proporsional.

  • Ansor menyoroti razia di ponpes putri yang dihuni banyak santriwati di bawah umur tanpa menemukan barang bukti, serta meminta aparat menggunakan pendekatan lebih humanis.

  • GP Ansor menilai polisi lamban merespons potensi kekerasan sebelum pembakaran terjadi, lalu meminta aparat cepat menindaklanjuti aduan masyarakat dan kader memperkuat koordinasi lingkungan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times - Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah menegaskan tindakan aparat kepolisian saat merazia ponpes santriwati di Desa Laban Kecamatan Mojolaban Sukoharjo merupakan sikap yang kurang pas. Terlebih lagi dalam razia tersebut tidak ditemukan barang bukti apapun.

Ketua GP Ansor Jawa Tengah, Shidqon Prabowo mengatakan upaya pengembangan kasus melalui penggeledahan pada pondok pesantren yang dihuni santriwati terlebih rata-rata masih di bawah umur telah mengarah pada aksi arogansi aparat. 

"Kami menyayangkan tindakan arogan yang dilakukan oleh aparat kepolisian di ponpes yang berisi para santriwati. Ini jelas mengarah pada tindakan tidak profesional dan tidak proporsional oleh aparat," ujar Shidqon dalam keterangan yang diterima IDN Times, Senin (2/11/2026).

Ia menyesalkan adanya tindakan penggeledahan aparat kepolisian yang dilakukan di Pondok Pesantren (Ponpes) khusus putri di Desa Laban, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo terkait kasus pembakaran Warung Mi Babi Tepi Sawah Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol, Sukoharjo.

Ia menyoroti tindakan aparat kepolisian yang berlaku tidak humanis.

“Mestinya aparat bisa menggunakan cara-cara yang lebih humanis, bukan melalui cara yang menurut kami kurang tepat. Terlebih tidak ditemukan adanya barang bukti tindakan kriminal sebagaimana kasus yang tengah disidik,” urainya.

Di sisi lain, pihaknya menilai adanya kelambanan dari pihak kepolisian dalam merespons potensi tindakan kekerasan hingga terjadi adanya aksi pembakaran Warung Mi Babi di Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol.

Karena itulah, ke depan pihaknya meminta aparat bisa lebih responsif mengantisipasi adanya potensi tindakan kriminal. 

"Aduan sekecil apapun dari masyarakat harusnya ditanggapi dengan cepat dan dicarikan solusinya. Sehingga tidak sampai ada tindakan main hakim sendiri,” tuturnya.

Gus Sidqon juga mengimbau pada seluruh kader Ansor dan Banser di berbagai pelosok daerah untuk aktif menjalin komunikasi dan koordinasi terkait kondisi di lingkungan masing-masing pada PW GP Ansor dan Satkorwil Banser Jawa Tengah.

“Kita mendukung penuh kegiatan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di Jawa Tengah. Namun harus menggunakan cara yang tepat demi kemaslahatan bersama,” tegas Gus Sidqon.

Seperti diketahui, aparat Polres Sukoharjo dan Polsek Grogol melakukan pendalaman penyidikan dari kasus pembakaran warung mi babi di Desa Parangjoro. Penyidikan lalu dinaikan menjadi penyelidikan dengan mencari dua pelaku pembakaran ke lokasi ponpes santriwati di Desa Laban Mojolaban.

    Related Articles

    See More