Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
40936904-3ebe-4479-a971-2d6327fdeff0.jpeg
Grebeg Sudiro 2026 yang dipusatkan di kawasan Pasar Gedhe Solo. (Dok/Prokompim Pemkot Solo)

Intinya sih...

  • Grebeg Sudiro 2026 menjadi simbol harmoni Jawa-Tionghoa di Solo sejak 2007

  • Tradisi ini masuk KEN 2026, membuktikan daya saing budaya lokal di tingkat nasional

  • Grebeg Sudiro memberi dampak ekonomi nyata dengan mendorong UMKM dan perputaran ekonomi warga

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Surakarta, IDN Times - Puncak perayaan Grebeg Sudiro 2026 kembali menyedot ribuan warga dan wisatawan di kawasan Kampung Sudiroprajan, Pasar Gede, Surakarta, Minggu (15/2/2026). Tradisi tahunan yang menjadi bagian dari rangkaian perayaan Imlek ini tak hanya menghadirkan kemeriahan budaya, tetapi juga menegaskan wajah toleransi Kota Solo yang hidup dalam keseharian.

Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani hadir langsung dalam perayaan tersebut, bersama Direktur Utama BKMA Kementerian Kebudayaan, Sjamsul Hadi SH MM. Kehadiran pemerintah daerah dan pusat menjadi sinyal kuat dukungan terhadap pelestarian budaya sekaligus penguatan keberagaman.

1. Simbol Harmoni Jawa-Tionghoa yang Terjaga Sejak 2007

Grebeg Sudiro 2026 yang dipusatkan di kawasan Pasar Gedhe Solo. (Dok/Prokompim Pemkot Solo)

Digelar rutin sejak 2007, Grebeg Sudiro dikenal sebagai simbol akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa di Solo. Tradisi ini tumbuh dari inisiatif masyarakat Sudiroprajan dan berkembang menjadi agenda wisata unggulan Kota Bengawan.

Dalam sambutannya, Astrid menegaskan Grebeg Sudiro bukan sekadar pesta rakyat, melainkan representasi nyata kehidupan masyarakat Solo yang harmonis dalam keberagaman.

“Grebeg Sudiro bukan sekadar pesta rakyat biasa, ini simbol sejati akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang terjalin harmonis. Di sini kue keranjang bersanding dengan gunungan, barongsai menari bersama reog. Inilah wajah Solo dan wajah Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika yang nyata,” ujarnya.

Prosesi kirab diawali dengan penampilan cucuk lampah penari sendratari, atraksi 12 Shio dari Klenteng Tien Kok Sie, hingga Liong Macan Putih. Ribuan warga memadati rute kirab untuk menyaksikan perpaduan kesenian tradisional Jawa dan Tionghoa yang tampil bergantian, menciptakan suasana penuh kebersamaan.

2. Masuk KEN 2026, Bukti Budaya Lokal Punya Daya Saing.

Wakil Walikota Solo, Astrid Widayani menyapa warga di acara Grebeg Sudiro 2026 yang dipusatkan di kawasan Pasar Gedhe Solo. (Dok/Prokompim Pemkot Solo)

Tahun ini, Grebeg Sudiro kembali masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026. Pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa kekuatan budaya lokal Solo mampu bersaing di tingkat nasional.

Menurut Astrid, konsistensi penyelenggaraan Grebeg Sudiro menunjukkan bahwa tradisi bisa dikelola secara profesional tanpa kehilangan nilai kearifan lokal. Bahkan, festival ini dinilai menjadi contoh bagaimana budaya dapat menjadi daya tarik wisata yang berkelanjutan.

Pengakuan sebagai bagian dari KEN juga membuka peluang promosi yang lebih luas, sehingga Grebeg Sudiro tak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga nasional bahkan internasional.

3. Dorong UMKM dan Perputaran Ekonomi Warga.

Pelepasan burung oleh Wakil Walikota Solo, Astrid Widayani Grebeg Sudiro 2026 yang dipusatkan di kawasan Pasar Gedhe Solo. (Dok/Prokompim Pemkot Solo)

Di balik kemeriahan kirab dan atraksi budaya, Grebeg Sudiro juga memberi dampak ekonomi yang nyata. Ribuan pengunjung yang datang turut menggerakkan sektor kuliner, kerajinan, hingga usaha kecil di sekitar Pasar Gede dan Sudiroprajan.

Tradisi rebutan gunungan dan pembagian kue keranjang yang menutup acara menjadi simbol keberkahan sekaligus kebersamaan. Namun lebih dari itu, momentum ini juga menjadi ruang perjumpaan lintas budaya yang memperkuat toleransi sosial.

Pemerintah Kota Surakarta berharap Grebeg Sudiro terus menjadi agenda yang bukan hanya menjaga harmoni, tetapi juga mendorong pertumbuhan UMKM dan sektor pariwisata. Dengan semangat kebersamaan, Solo ingin membuktikan bahwa toleransi dan ekonomi kreatif bisa tumbuh berdampingan.

Editorial Team