Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Cabai dan Beras Bikin Inflasi Jateng September Capai 0,31 Persen

Kota Semarang
3 min read
Harga Cabai dan Beras Bikin Inflasi Jateng September Capai 0,31 Persen
Seorang pedagang cabai di Pasar Karangayu Semarang tengah menata dagangan cabainya. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Inflasi Jawa Tengah September 2026 tercatat 0,31 persen secara bulanan, melandai dari 0,37 persen pada Agustus; inflasi tahunan mencapai 3,18 persen dan tahun kalender 2,06 persen.

  • Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang inflasi terbesar, 0,26 persen, terutama akibat kenaikan cabai rawit, cabai merah, dan beras; pasokan cabai berkurang saat kemarau serta transisi panen.

  • Kenaikan daging dan telur ayam turut menekan harga karena biaya pakan meningkat, sementara bawang merah, emas perhiasan, mentimun, kacang panjang, dan terong membantu menahan inflasi melalui deflasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semarang, IDN Times – Laju inflasi Jawa Tengah mulai melandai pada September 2026. Namun, harga pangan masih menjadi sumber tekanan utama, terutama cabai dan beras.

  1. 1. Inflasi September turun dibandingkan Agustus

    Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)
    Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)

    Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat inflasi secara bulanan atau month to month (mtm) pada September 2026 sebesar 0,31 persen. Angka tersebut turun dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 0,37 persen.

    Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah, Ali Said mengatakan, Indeks Harga Konsumen (IHK) Jawa Tengah pada September berada di level 112,25. Sementara secara tahunan, inflasi tercatat 3,18 persen dan secara tahun kalender mencapai 2,06 persen.

    “September 2026, Jawa Tengah mengalami inflasi secara month to month sebesar 0,31 persen, lebih rendah dibanding Agustus yang tercatat 0,37 persen dengan IHK 112,25. Sementara inflasi year on year tercatat 3,18 persen dan inflasi year to date tercatat 2,06 persen,” ungkapnya dalam siaran pers secara daring, Kamis (1/10/2026).

  2. 2. Cabai dan beras paling menekan

    IMG_20250715_104622.jpg
    Tumpukan beras yang siap dikirim dari Pasar Dargo Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

    Meski inflasi bulanan menurun, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang tekanan terbesar. Kelompok tersebut memberikan andil inflasi sebesar 0,26 persen, terutama dipicu kenaikan harga cabai rawit dan beras.

    “Inflasi September 2026 terutama didorong naiknya kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil inflasi sebesar 0,26 persen. Terutama akibat kenaikan harga cabai rawit dan beras,” ujar Ali.

    Kenaikan harga cabai menjadi salah satu faktor paling terasa. Cabai rawit dan cabai merah secara bersama-sama memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen.

    Menurut Ali, kenaikan tersebut berkaitan dengan berkurangnya pasokan selama musim kemarau serta masa transisi panen.

    “Inflasi Jawa Tengah September dipengaruhi kenaikan harga cabai rawit dan cabai merah akibat berkurangnya pasokan musim kemarau dan masa transisi panen,” terangnya.

    Tekanan harga juga datang dari beras. BPS mencatat harga beras mengalami kenaikan sepanjang 2026, dengan andil terhadap inflasi berada pada kisaran 0,01 hingga 0,06 persen. Kenaikan harga beras tersebut sejalan dengan meningkatnya harga gabah di tingkat petani.

  3. 3. Bawang merah dan emas perhiasan menahan inflasi

    Emas perhiasan. (IDN Times/Rohmah Mustaurida)
    Emas perhiasan. (IDN Times/Rohmah Mustaurida)

    Komoditas pangan lain juga ikut mendorong inflasi September. Harga daging ayam ras dan telur ayam ras tercatat mengalami kenaikan. BPS mengaitkan kenaikan tersebut dengan meningkatnya biaya produksi, terutama harga pakan.

    Dengan demikian, meski inflasi bulanan Jawa Tengah turun dari 0,37 persen menjadi 0,31 persen, tekanan dari kebutuhan pangan rumah tangga masih cukup kuat. Secara keseluruhan, 10 kelompok pengeluaran mengalami inflasi, sementara hanya satu kelompok yang mengalami deflasi pada September 2026.

    Namun, di tengah kenaikan sejumlah komoditas pangan, beberapa harga justru bergerak turun dan membantu menahan laju inflasi. Bawang merah menjadi salah satu komoditas yang memberikan tekanan deflasi setelah pasokan meningkat seiring berlangsungnya panen raya.

    Selain bawang merah, harga emas perhiasan juga mengalami penurunan mengikuti pelemahan harga emas dunia. Beberapa komoditas sayuran, seperti mentimun, kacang panjang, dan terong, juga ikut menyumbang deflasi setelah sebelumnya mengalami kenaikan harga.

    “Selain itu, harga emas perhiasan mengalami penurunan sejalan dengan harga emas dunia yang menurun. Beberapa komoditas sayuran seperti mentimun, kacang panjang, dan terong juga menyumbang deflasi setelah bulan lalu mengalami kenaikan,” kata Ali.

    Dengan inflasi bulanan yang mulai melandai, perkembangan harga pangan tetap menjadi salah satu faktor penting yang perlu dicermati karena perubahan pasokan dan musim panen masih berpengaruh terhadap pergerakan harga sejumlah kebutuhan masyarakat.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More