Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Imlek 2026, Wajah Toleransi yang Gerakkan Ekonomi Solo
Perayaan Imlek 2026 dan Marhaban ya Ramadhan di Kota Solo. (IDN Times/Larasati Rey)
  • Imlek 2026 di Solo bertepatan dengan Ramadan, menghadirkan suasana harmonis antara nuansa merah lampion dan hijau Ramadan yang menyatu di kawasan Pasar Gede hingga Balai Kota.
  • Perayaan lintas budaya ini tak hanya mempererat toleransi warga, tapi juga membawa berkah ekonomi bagi pedagang lokal yang menikmati lonjakan pengunjung dan penjualan selama acara berlangsung.
  • Pemerintah Kota Solo mendukung penuh kegiatan kolaboratif ini karena terbukti memperkuat pariwisata, UMKM, serta menegaskan identitas kota sebagai simbol nyata Bhinneka Tunggal Ika.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surakarta, IDN Times - Lampion-lampion merah bergantung anggun di sepanjang kawasan Pasar Gede hingga Balai Kota Solo. Di sudut lain, terdapat ornamen bedug hingga masjid yang menyambut datangnya Ramadan. Tahun ini, dua momen besar—Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili dan bulan suci Ramadan—bertemu dalam satu waktu, menghadirkan pemandangan yang tak biasa sekaligus menghangatkan hati.

Di Kota Solo, pertemuan dua perayaan itu bukan sekadar kebetulan kalender. Ia menjelma menjadi wajah toleransi yang nyata, sekaligus menggerakkan denyut ekonomi warga.

1. Harmoni Lampion dan Bedug

Perayaan Imlek 2026 dan Marhaban ya Ramadhan di Kota Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

Sejak sore, kawasan Pecinan Solo dipadati warga. Para warga terihat berswafoto sembari menunggu azan berbuka puasa. Nuansa merah khas Imlek dan hijau Ramadan menyala memberi warna Jalan Jenderal Sudirman hingga Pasar Gede Solo.

Ketua Panitia Imlek 2026, Sumartono Hadinoto, mengatakan momentum ini menjadi simbol kuat kebersamaan masyarakat Solo.

“Tahun ini istimewa karena Imlek berdekatan dengan Ramadan. Ini sebagai wujud membangun merawat Bhineka Tunggal Ika di Kota Solo sendiri,” ujar Sumartono, Senin (23/2/2026).

Atraksi barongsai tetap menjadi magnet utama. Namun di sela pertunjukan, mereka bahkan turut membagikan takjil kepada warga yang hadir untuk ngabuburit. Momen ini menjadi simbol toleransi di Kota Solo yang harmonis.

2. Berkah Ganda bagi Pedagang.

Perayaan Imlek 2026 dan Marhaban ya Ramadhan di Kota Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

Sementara itu Nur, seorang pedagang yang membuka lapak di sekitar Pasar Gede, mengaku pertemuan Imlek dan Ramadan tahun ini membawa rezeki berlipat, meski sering hujan tapi antusias pengujung sangat tinggi untuk melihat perpaduan lampion Imlek dan Ramadan.

“Alhamdulillah, ramai sekali. Orang yang datang nonton barongsai sekalian beli takjil buat buka puasa,” katanya.

Ia mengaku tak pernah merasa canggung berdagang di tengah perayaan Imlek. “Di sini sudah biasa. Kami saling menghormati,” tutur Siti.

3. Solo dan Tradisi Merawat Kebersamaan.

Perayaan Imlek 2026 dan Marhaban ya Ramadhan di Kota Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

Sejak lama, Kota Solo dikenal sebagai kota dengan tradisi perayaan lintas budaya yang kuat. Grebeg Sudiro, kirab budaya, hingga festival kuliner menjadi ruang perjumpaan berbagai etnis dan agama.

Tahun ini, ketika lampion merah menyala bersamaan dengan cahaya lampu-lampu masjid di malam Ramadan, Solo seperti mengirim pesan sederhana: keberagaman bukan ancaman, melainkan anugerah.

Di antara riuh tawa anak-anak, lantunan doa berbuka, dan dentuman tambur barongsai, toleransi tak lagi sekadar slogan. Ia hidup, bergerak, dan bahkan menghidupi.

Wakil Walikota Solo, Astrid Widayani mengatakan pemerintah kota mendukung penuh kegiatan lintas budaya karena terbukti mampu mendongkrak sektor pariwisata dan UMKM.

“Inilah wajah Solo dan wajah Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika yang nyata,” ungkapnya.

Hadirnya dua perayaan besar ini juga meningkatkan kunjungan ke kawasan Pasar Gede dan sekitarnya. Astrid berharap kolaborasi antar komunitas seperti ini terus dijaga, bukan hanya saat momen besar, tetapi dalam keseharian warga Solo.

Imlek 2026 di Solo bukan hanya perayaan tahun baru bagi warga Tionghoa, juga bukan sekadar awal bulan suci bagi umat Muslim. Ia menjadi panggung bersama—di mana harmoni budaya dan semangat berbagi menjelma menjadi energi ekonomi yang menguatkan kota.

Editorial Team