Perayaan Imlek 2026 dan Marhaban ya Ramadhan di Kota Solo. (IDN Times/Larasati Rey)
Sejak lama, Kota Solo dikenal sebagai kota dengan tradisi perayaan lintas budaya yang kuat. Grebeg Sudiro, kirab budaya, hingga festival kuliner menjadi ruang perjumpaan berbagai etnis dan agama.
Tahun ini, ketika lampion merah menyala bersamaan dengan cahaya lampu-lampu masjid di malam Ramadan, Solo seperti mengirim pesan sederhana: keberagaman bukan ancaman, melainkan anugerah.
Di antara riuh tawa anak-anak, lantunan doa berbuka, dan dentuman tambur barongsai, toleransi tak lagi sekadar slogan. Ia hidup, bergerak, dan bahkan menghidupi.
Wakil Walikota Solo, Astrid Widayani mengatakan pemerintah kota mendukung penuh kegiatan lintas budaya karena terbukti mampu mendongkrak sektor pariwisata dan UMKM.
“Inilah wajah Solo dan wajah Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika yang nyata,” ungkapnya.
Hadirnya dua perayaan besar ini juga meningkatkan kunjungan ke kawasan Pasar Gede dan sekitarnya. Astrid berharap kolaborasi antar komunitas seperti ini terus dijaga, bukan hanya saat momen besar, tetapi dalam keseharian warga Solo.
Imlek 2026 di Solo bukan hanya perayaan tahun baru bagi warga Tionghoa, juga bukan sekadar awal bulan suci bagi umat Muslim. Ia menjadi panggung bersama—di mana harmoni budaya dan semangat berbagi menjelma menjadi energi ekonomi yang menguatkan kota.