Tampilan pasar saham dalam smartphone yang termasuk bagian investasi. (pexels.com/@davegarcia)
Irwan menyoroti ketimpangan jumlah investor saham di Indonesia dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika Serikat.
Saat ini, baru sekitar 7,5 persen atau 21 juta penduduk Indonesia yang berinvestasi di saham. Angka ini jauh tertinggal dari Amerika Serikat yang sudah mencapai 62 persen.
"Kalau semua berinvestasi di sini (saham), pertama itu lebih menguntungkan. Tapi ingat, jangan 'bermain' saham, melainkan berinvestasi di saham," tegas Irwan.
Menurutnya, rendahnya partisipasi ini sebenarnya menjadi peluang besar bagi masyarakat untuk mulai masuk ke pasar modal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui perusahaan-perusahaan yang dikelola dengan baik.
Perbedaan mendasar antara "bermain" dan "berinvestasi" terletak pada pola pikir dan strategi.
Irwan menekankan bahwa investasi saham memerlukan keseriusan dalam memilih emiten atau perusahaan yang memiliki tata kelola yang sehat.
"Nanti kalau punya uang Rp10 juta, Rp20 juta, hingga Rp100 juta, berinvestasilah. Itu jauh lebih menguntungkan daripada sekadar disimpan di bank. Tapi kalau Anda bermain saham, nah itu yang tidak betul," lanjutnya.
Ia mengingatkan bahwa pasar modal bukanlah arena perjudian. Berinvestasi di saham berarti menanamkan modal pada bisnis nyata yang produktif.