Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Irwan Hidayat: Jangan 'Bermain' Saham, Tapi Berinvestasilah!
Irwan Hidayat (youtube.com/CXO Media)
  • Irwan Hidayat mengajak masyarakat mengubah pola pikir keuangan dengan mulai berinvestasi di saham, bukan sekadar menabung atau menyimpan uang di bank.
  • Ia menyoroti rendahnya jumlah investor saham Indonesia yang baru 7,5 persen dari populasi, jauh tertinggal dibanding Amerika Serikat yang mencapai 62 persen.
  • Irwan menegaskan pentingnya keseriusan dalam memilih emiten dan memahami bahwa investasi saham adalah penanaman modal produktif, bukan ajang spekulasi atau perjudian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat, mengajak masyarakat Indonesia untuk mulai mengubah pola pikir dalam mengelola keuangan. Alih-alih sekadar menyimpan uang di bawah bantal atau mendiamkannya di bank, Irwan mendorong masyarakat untuk mulai melirik investasi saham sebagai instrumen masa depan yang menjanjikan.

​Namun, ia memberikan catatan tebal: berinvestasi, bukan bermain.

Peluang besar investasi saham Indonesia

Ilustrasi pabrik PT Sido Muncul di Semarang, Jawa Tengah. (www.lldikti6.kemdikbud.go.id)

Irwan menyoroti ketimpangan jumlah investor saham di Indonesia dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika Serikat. 

Saat ini, baru sekitar 7,5 persen atau 21 juta penduduk Indonesia yang berinvestasi di saham. Angka ini jauh tertinggal dari Amerika Serikat yang sudah mencapai 62 persen.

​"Kalau semua berinvestasi di sini (saham), pertama itu lebih menguntungkan. Tapi ingat, jangan 'bermain' saham, melainkan berinvestasi di saham," tegas Irwan.

​Menurutnya, rendahnya partisipasi ini sebenarnya menjadi peluang besar bagi masyarakat untuk mulai masuk ke pasar modal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui perusahaan-perusahaan yang dikelola dengan baik.

Investasi saham memerlukan keseriusan dalam memilih emiten

Tampilan pasar saham dalam smartphone yang termasuk bagian investasi. (pexels.com/@davegarcia)

Irwan menyoroti ketimpangan jumlah investor saham di Indonesia dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika Serikat. 

Saat ini, baru sekitar 7,5 persen atau 21 juta penduduk Indonesia yang berinvestasi di saham. Angka ini jauh tertinggal dari Amerika Serikat yang sudah mencapai 62 persen.

​"Kalau semua berinvestasi di sini (saham), pertama itu lebih menguntungkan. Tapi ingat, jangan 'bermain' saham, melainkan berinvestasi di saham," tegas Irwan.

​Menurutnya, rendahnya partisipasi ini sebenarnya menjadi peluang besar bagi masyarakat untuk mulai masuk ke pasar modal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui perusahaan-perusahaan yang dikelola dengan baik.

​Perbedaan mendasar antara "bermain" dan "berinvestasi" terletak pada pola pikir dan strategi. 

Irwan menekankan bahwa investasi saham memerlukan keseriusan dalam memilih emiten atau perusahaan yang memiliki tata kelola yang sehat.

​"Nanti kalau punya uang Rp10 juta, Rp20 juta, hingga Rp100 juta, berinvestasilah. Itu jauh lebih menguntungkan daripada sekadar disimpan di bank. Tapi kalau Anda bermain saham, nah itu yang tidak betul," lanjutnya.

​Ia mengingatkan bahwa pasar modal bukanlah arena perjudian. Berinvestasi di saham berarti menanamkan modal pada bisnis nyata yang produktif.

​Pesan untuk masyarakat

ilustrasi saham (unsplash.com/Marga Santoso)

​Irwan berharap pesan ini dapat menjangkau lebih banyak orang agar mereka mulai melek literasi keuangan. Dengan beralih dari kebiasaan menabung konvensional ke investasi yang terukur, masyarakat diharapkan bisa mendapatkan nilai tambah yang lebih besar bagi kesejahteraan mereka di masa depan.

​"Jangan bermain-main. Serius, berinvestasi itu serius," pungkasnya.

Editorial Team