Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jokowi Soroti Kedaulatan Data dan Tantangan AI di Forum Bloomberg
Presiden ke-7 Joko “Jokowi” Widodo. (IDN Times/Larasati Rey)

Surakarta, IDN Times - Presiden ke-7 RI Joko “Jokowi” Widodo menghadiri Bloomberg New Economy Forum di India pada Jumat (20/2/2026) lalu. Dalam rangkaian agenda tersebut, Jokowi turut mengikuti private breakfast yang digelar di The Leela Palace Hotel, New Delhi.

Acara itu dihadiri sekitar 22 peserta dari berbagai latar belakang, termasuk Presiden dan CEO US-India Strategic Partnership Forum Mukesh Aghi, pembawa acara sekaligus editor senior Bloomberg TV, hingga COO Zoom Aparna Bawa. Forum berlangsung dalam suasana akrab dengan pembahasan isu-isu ekonomi global, termasuk perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Usai melaksanakan salat Jumat (27/2/2026) di kediamannya, Jokowi membagikan sejumlah pandangannya terkait diskusi tersebut.

1. Hampir semua negara bahas kedaulatan data dan AI

Acara Breakfast Meeting yang digelar Bloomberg New Economy Forum di India. (IDN Times/Larasati Rey)

Jokowi mengungkapkan bahwa isu yang paling banyak disorot dalam forum itu adalah soal kedaulatan data dan kedaulatan AI. Menurutnya, banyak negara mulai menaruh perhatian besar pada bagaimana data dan teknologi kecerdasan buatan dikelola secara mandiri.

Ia berpandangan bahwa kedaulatan data menjadi hal mendasar yang perlu dijaga setiap negara, terutama negara berkembang. Baginya, pengelolaan dan perlindungan data merupakan aspek krusial dalam menghadapi era digital.

“Saya sampaikan di sana bahwa kedaulatan data itu mutlak dan sangat perlu bagi semua negara, utamanya negara-negara berkembang," ungkapnya.

Namun, Jokowi menilai konsep kedaulatan AI jauh lebih kompleks. Ia menyebut bahkan negara besar sekalipun menghadapi tantangan dalam mewujudkan kemandirian penuh di sektor tersebut. Ketergantungan pada rantai pasok global, seperti chip dan semikonduktor, serta mobilitas talenta internasional menjadi faktor yang membuat kedaulatan AI sulit dicapai sepenuhnya.

2. Negara berkembang perlu memperkuat infrastruktur digital

Presiden ke-7 Jokowi hadiri Acara Breakfast Meeting yang digelar Bloomberg New Economy Forum di India. (Dok/Istimewa)

Lebih lanjut, Jokowi menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur digital, khususnya bagi negara berkembang. Ia menyebut pembangunan satelit, pusat data, jaringan fiber optik, hingga menara BTS sebagai fondasi utama dalam menyongsong era AI.

"Tapi untuk kedaulatan AI saya kira itu sebuah hal yang sangat sulit ya. Untuk negara besar saja saya kira akan sulit. Amerika mau kedaulatan AI seperti apa? Wong chip, semikonduktor masih impor dari negara lain ?," katanya.

"Apalagi negara-negara berkembang. Saya kira yang paling paling penting adalah kedaulatan data," sambungnya.

Menurutnya, tanpa infrastruktur yang memadai, sulit bagi suatu negara untuk berperan aktif dalam ekosistem teknologi masa depan. Selain infrastruktur fisik, kesiapan sumber daya manusia dan regulasi juga dinilai tak kalah penting.

Jokowi memperkirakan dalam 5 hingga 15 tahun mendatang akan terjadi lompatan besar dalam perkembangan AI. Oleh karena itu, setiap negara perlu mempersiapkan diri sejak sekarang.

"Baik itu satelit, baik itu data center, baik itu fiber optik, baik itu menara BTS yang semuanya akan memberikan dukungan kepada nanti kalau era AI ini betul-betul akan kejadian. Karena menurut perkiraan saya 5 sampai 15 tahun yang akan datang akan ada revolusi besar Artificial Intelligence," bebernya.

3. Menuju era ekonomi AI

Presiden ke-7 Jokowi hadiri Acara Breakfast Meeting yang digelar Bloomberg New Economy Forum di India. (Dok/Istimewa)

Jokowi juga memprediksi bahwa kecerdasan buatan akan terintegrasi dalam hampir seluruh aktivitas manusia. Ia melihat akan terjadi pergeseran dari ekonomi konvensional menuju ekonomi digital, dan selanjutnya ke ekonomi berbasis AI.

"Semua di mana-mana semuanya AI. Jadi semua negara harus mempersiapkan, kita juga harus mempersiapkan infrastruktur digitalnya disiapkan, human resources-nya, sumber daya manusianya disiapkan, regulasinya disiapkan," katanya.

Dalam pandangannya, transformasi tersebut tak bisa dihindari. Karena itu, kesiapan menyeluruh—baik dari sisi teknologi, talenta, maupun regulasi—menjadi kunci agar tidak tertinggal dalam kompetisi global.

"Memang harus siap betul. Karena ini akan ada sebuah pergeseran dari dulu yang ekonomi normal, masuk ke digital ekonomi ini masuk ke ekonomi AI atau intelegen ekonomi," pungkasnya.

Menurut Jokowi, momentum ini harus dimanfaatkan untuk membangun fondasi yang kuat, sehingga Indonesia mampu beradaptasi dan bersaing di era ekonomi berbasis kecerdasan buatan.

Editorial Team