Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Inin Nastain IDN Times/ Menata ompreng di atas meja
Inin Nastain IDN Times/ Menata ompreng di atas meja

Intinya sih...

  • Siswi SMAN 2 Kudus meninggal karena penyakit kronis, bukan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG).

  • Almarhumah memiliki riwayat kanker nasofaring sejak duduk di bangku kelas 8 SMP dan jarang masuk sekolah.

  • Kasus dugaan keracunan yang menimpa 131 siswa masih menunggu hasil uji laboratorium, masyarakat diimbau untuk tidak menyebarkan berita hoaks.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kudus, IDN Times – Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwosari memberikan klarifikasi tegas terkait kabar viral meninggalnya siswi SMAN 2 Kudus, Rizza Meiliana Azzahara. Informasi yang menyebut kematian siswi tersebut akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyebutnya sebagai berita bohong atau hoaks.

Kepala SPPG Purwosari, Nasihul Umam, menjelaskan bahwa almarhumah memiliki riwayat penyakit berat yang tidak berkaitan dengan insiden keracunan massal di sekolah tersebut.

Berdasarkan data medis, Rizza telah berjuang melawan kanker nasofaring sejak duduk di bangku kelas 8 SMP. Kondisi ini mengharuskannya menjalani perawatan intensif dan kemoterapi rutin di RSUP Dr. Kariadi, Semarang. Karena kondisi kesehatannya, almarhumah jarang mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

"Sejak Januari 2026, yang bersangkutan tercatat belum pernah masuk sekolah karena fokus pengobatan. Jadi, ananda tidak termasuk dalam penerima paket MBG," tegas Nasihul Umam dalam keterangan resminya melansir dari Antara, Selasa (3/2/2026).

Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Abdul Hakam, membenarkan bahwa siswi tersebut meninggal dunia karena penyakit kronis yang dideritanya.

"Kami pastikan tidak ada korelasinya dengan dugaan keracunan MBG. Almarhumah memang sudah lama mengidap kanker," jelas Hakam. Ia juga menambahkan bahwa kunjungan dari BBPOM Jateng dan pusat telah dilakukan untuk memastikan prosedur penanganan insiden di sekolah tersebut.

Terkait kasus dugaan keracunan yang menimpa 131 siswa lainnya pada Kamis (29/1/2026), Dinkes Kudus hingga kini masih menunggu hasil uji laboratorium. Sampel makanan telah dikirim ke Dinkes Provinsi Jateng dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sejak hari kejadian.

Dinas Kesehatan Kudus, Jawa Tengah, memastikan sebagian besar siswa SMA Negeri 2 Kudus yang menjalani rawat inap di rumah sakit karena diduga keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) telah sembuh dan pulang, sehingga tersisa dua pasien.

"Hingga Selasa (3/2/2026) pagi, jumlah pasien yang masih menjalani perawatan hanya tersisa dua anak. Sedangkan lainnya sudah sembuh dan diperbolehkan pulang," kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus Nuryanto, Selasa. Ia mengungkapkan kedua siswa tersebut, dirawat di RSUD Loekmono Hadi Kudus dan RS Mardi Rahayu.

Sementara itu RSUD Loekmono Hadi Kudus, membebaskan biaya rawat inap terhadap siswa SMA Negeri 2 Kudus yang menjalani perawatan naik kelas ke ruang VIP akibat dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Dari sejumlah siswa yang dirawat, ada dua pasien yang naik kelas ke ruang perawatan VIP," kata Pelaksana tugas Direktur RSUD Loekmono Hadi. Dia menambahkan, secara prosedural umum pihak keluarga menandatangani surat persetujuan naik kelas. Namun, pihak bagian keuangan rumah sakit tidak mengetahui adanya kebijakan Bupati Kudus Sam'ani Intakoris dan Wakil Bupati Bellinda yang menggratiskan seluruh biaya perawatan bagi pasien terduga keracunan MBG.

Akibatnya, terdapat pasien yang terlanjur melakukan pembayaran. Namun, Mustiko memastikan biaya yang sudah dibayarkan tersebut akan segera dikembalikan kepada pasien pada hari ini, Selasa (3/2/2026).

Editorial Team