Semarang, IDN Times - Masyarakat Jawa Tengah yang merindukan udara sejuk dan guyuran hujan tampaknya harus bersabar sedikit lebih lama. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan awal musim hujan 2026/2027 di wilayah Jateng akan datang secara bertahap, dominan dimulai pada November hingga Desember 2026.
Tak hanya itu, BMKG juga mencatat adanya pergeseran atau kemunduran jadwal awal musim hujan di seluruh zona musim di Jawa Tengah jika dibandingkan dengan kondisi normal periode klimatologis 1991–2020.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, menjelaskan bahwa perbedaan waktu mulainya musim hujan di setiap kabupaten/kota dipengaruhi oleh kondisi iklim lokal setempat. Hal ini membuat peningkatan curah hujan tidak akan terjadi secara serentak di seluruh wilayah Jateng.
"Masyarakat dan pemerintah daerah diharapkan tetap mengantisipasi dampak kekeringan, terutama terhadap ketersediaan air bersih dan kebutuhan air sektor pertanian, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa transisi," ujar Goeroeh.
Berdasarkan data klimatologi BMKG, berikut rincian pembagian waktu masuknya musim hujan di berbagai wilayah Jawa Tengah:
Masa Transisi (Dasarian II Oktober 2026), sejumlah wilayah mulai memasuki masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan pada pertengahan Oktober.
Awal Musim Hujan Cepat (Dasarian I November 2026) yakni Wilayah yang diperkirakan paling awal diguyur musim hujan meliputi sebagian besar Kabupaten Wonosobo, bagian timur Banjarnegara, serta sebagian kecil wilayah Temanggung, Kebumen, Banyumas, Brebes, Pemalang, Purbalingga, dan Tegal.
Awal Musim Hujan Paling Akhir (Dasarian II Desember 2026) yaitu wilayah pantai utara (pantura) timur seperti sebagian Kabupaten Jepara, Pati, Rembang, dan sebagian kecil Demak diprakirakan baru resmi memasuki musim hujan pada pertengahan Desember 2026.
Di tengah penantian musim hujan, BMKG mengingatkan bahwa ancaman kekeringan meteorologis masih mengintai. Sejumlah daerah di Jateng saat ini ditetapkan berstatus Siaga Kekeringan, antara lain:
Kota Tegal, Kota Magelang, Kota Salatiga, dan Kota Surakarta, Purworejo, Magelang, Semarang, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Blora, Demak, dan Kudus.
Sementara itu, wilayah yang berstatus Waspada Kekeringan meliputi Kota Semarang, Kabupaten Cilacap, Kebumen, Temanggung, dan Kendal.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak terkecoh jika terjadi hujan sesekali selama masa peralihan (pancaroba), karena turunnya hujan lokal belum tentu menandakan bahwa musim hujan secara resmi telah dimulai. Masyarakat diminta tetap bijak menghemat penggunaan air bersih.
