Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kasus DBD Semarang Anjlok, Dinkes Klaim Berkat Program Wolbachia

Kota Semarang
3 min read
Kasus DBD Semarang Anjlok, Dinkes Klaim Berkat Program Wolbachia
ilustrasi demam berdarah (freepik.com/jcomp)
  • Kasus DBD di Kota Semarang tercatat empat hingga September 2026, turun tajam dibandingkan 131 kasus sepanjang 2025.

  • Dinkes Semarang mengaitkan penurunan kasus dengan program Wolbachia selama tiga tahun, yang disebut 77 persen bermanfaat menghambat penularan virus dengue oleh Aedes aegypti.

  • Program Wolbachia akan diselesaikan di wilayah sasaran yang belum terjangkau, sementara warga tetap dianjurkan melakukan pemberantasan sarang nyamuk hingga tiga kali seminggu saat kemarau.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semarang, IDN Times – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Semarang turun tajam sepanjang 2026. Per September 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat hanya empat kasus DBD.

  1. 1. Hanya 4 kasus demam berdarah di Semarang

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam. (IDN Times/bt/Anggun Puspitoningrum)
    Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam. (IDN Times/bt/Anggun Puspitoningrum)

    Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan jumlah kasus sepanjang 2025. Berdasarkan Buku Saku Kesehatan Provinsi Jawa Tengah 2025, Kota Semarang mencatat 131 kasus DBD dalam setahun.

    Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam mengatakan, penerapan program Wolbachia selama tiga tahun terakhir menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan penurunan kasus DBD di Kota Semarang.

    “Turunnya drastis. Hanya empat kasus per September ini,” ungkapnya, Selasa (22/9/2026).

    Menurut Hakam, program Wolbachia yang telah diterapkan selama tiga tahun memberikan dampak dalam menekan risiko penularan virus dengue.

    Wolbachia merupakan bakteri yang digunakan dalam program pengendalian dengue dengan ditempatkan pada nyamuk Aedes aegypti. Hakam menjelaskan keberadaan bakteri tersebut dapat menghambat kemampuan nyamuk dalam menularkan virus dengue.

  2. 2. Wolbachia bermanfaat cegah kasus demam berdarah

    Ilustrasi pengembangan Nyamuk Wolbachia (IDN Times/Dhana Kencana)
    Ilustrasi pengembangan Nyamuk Wolbachia (IDN Times/Dhana Kencana)

    “Ingat kita itu sudah berjuang selama tiga tahun ini dengan Wolbachia. Ternyata, Wolbachia itu 77 persen sangat bermanfaat untuk mencegah kejadian demam berdarah di Kota Semarang,” ujarnya.

    Ia menambahkan, keberadaan Wolbachia membuat nyamuk Aedes aegypti tetap dapat menggigit manusia, tetapi virus dengue di dalam tubuh nyamuk tidak mudah ditularkan.

    “Walaupun nyamuknya banyak, walaupun digigit, tetapi tidak sampai mengeluarkan virus dengue,” katanya.

    Hakam menjelaskan, penularan dengue terjadi ketika nyamuk yang membawa virus menggigit manusia. Dalam mekanisme yang dijelaskan Dinkes, Wolbachia menghambat proses virus berkembang dan ditularkan oleh nyamuk.

  3. 3. Penerapan Wolbachia dilanjutkan

    Petugas menghitung telur nyamuk Aedes aegypti yang ber-Wolbachia sebagai inovasi untuk menekan kasus Demam Berdarah (IDN Times/Dhana Kencana)
    Petugas menghitung telur nyamuk Aedes aegypti yang ber-Wolbachia sebagai inovasi untuk menekan kasus Demam Berdarah (IDN Times/Dhana Kencana)

    Adapun, meski kasus DBD telah turun, penerapan Wolbachia di Kota Semarang masih dilanjutkan. Dinkes berencana menyelesaikan penerapan program di sejumlah kelurahan atau kecamatan yang belum mendapatkan Wolbachia dalam dua tahun sebelumnya.

    “Tahun ini terakhir, nanti beberapa kelurahan ataupun kecamatan yang di dua tahun terakhir ini belum, ini kami akan selesaikan,” ujar Hakam.

    Dengan demikian, program tersebut ditargetkan menjangkau seluruh wilayah sasaran di Kota Semarang.

    Hakam mengingatkan penurunan kasus DBD tidak berarti masyarakat dapat mengabaikan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Menurutnya, PSN tetap diperlukan untuk mengendalikan populasi Aedes aegypti, terutama saat memasuki periode cuaca panas atau kemarau.

  4. 4. Cuaca panas kontak manusia dengan nyamuk meningkat

    ilustrasi cuaca panas (unsplash.com/J Shim)
    ilustrasi cuaca panas (unsplash.com/J Shim)

    Dinkes bahkan menganjurkan masyarakat melakukan PSN hingga tiga kali dalam sepekan.

    “Ketika musim panas atau musim kemarau ini, tumbuh kembang nyamuk dari telur jadi jentik kemudian dia terbang, itu lebih cepat,” katanya.

    Hakam menjelaskan, cuaca panas juga dapat memengaruhi aktivitas nyamuk. Dalam kondisi tersebut, waktu aktivitas nyamuk Aedes aegypti dapat menjadi lebih panjang sehingga peluang kontak dengan manusia meningkat.

    “Kalau musim hujan, mungkin terbang cuma tiga jam. Begitu musim panas, kerjanya bisa lebih panjang, bisa enam jam. Sehingga yang dirasakan masyarakat, ‘kok nyamuk banyak banget’, itu yang terjadi,” tandasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More