Fadli Zon di Konferensi Pers Delegasi Indonesia ke Cannes Film Festival di CGV fX Sudirman, Jakarta, Selasa (6/5/2025) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
Untuk setiap proses penulisan ulang sejarah, ia memaparkan bahwa rekam sejarah yang dirilis nanti sesuai data-data yang sudah ada dalam arsip sejarah nasional Indonesia terbitan tahun 1984 dan sejarah yang ditulis tahun 2012.
Karena itulah pihaknya menekankan penulisan ulang sejarah tidak dimulai dari nol.
“Kita berangkat dari yang sudah ada. Ada Sejarah Nasional Indonesia, dulu pernah terbit tahun 1984, kemudian ada tahun 2012 Indonesia Dalam Arus Sejarah. Nah ini, kita bukan berangkat dari nol, berangkat dari yang sudah ada,” tegasnya.
Mengenai proses penulisan ulang sejarah yang menyasar pada periode munculnya Partai Komunis Indonesia (PKI), pihaknya secara tegas membantah.
Sebab, peristiwa yang pembantaian massal oleh PKI tahun 1948 dan 1965 merupakan fakta sejarah. Sehingga fakta-fakta yang ada pada sejarah PKI akan tetap dipertahankan.
“Kita tahu bahwa PKI itu memang memberontak kan, tahun 48 itu yang banyak korban justru tokoh-tokoh kiai dari Nahdatul Ulama. ketika itu dari Gontor dan juga kepala-kepala institusi pemerintah, ada kepala pengadilan, kepala sekolah. Jadi itu kan fakta ya, memang PKI memberontak tahun 48, tahun 65, itu fakta sejarah. Itu tidak kita ubah,” ujar Fadli.