Kenapa DN Aidit Pilih Lari ke Jateng Usai G30S Gagal? Ini Alasannya

Usai G30S gagal dan Jakarta dikuasai operasi militer pada 1–2 Oktober 1965, DN Aidit meninggalkan ibu kota dengan pesawat AURI menuju Yogyakarta lalu berpindah di Jawa Tengah.
Aidit memilih Jawa Tengah karena basis massa PKI kuat, dukungan sejumlah elemen lokal, serta peluang mengonsolidasikan kader dan mengorganisir perlawanan berbasis pedesaan.
Setelah hampir dua bulan bersembunyi, Aidit ditangkap tim intelijen militer di Sambeng, Solokota, pada 22 November 1965; hidupnya berakhir di kawasan Boyolali.
Surakarta, IDN Times — Tragedi Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965 menjadi salah satu titik balik paling kelam dalam sejarah politik Indonesia. Ketika situasi di Jakarta mulai tidak terkendali dan operasi militer di bawah kepemimpinan Mayjen Soeharto mengambil alih ibu kota pada 1–2 Oktober 1965, Ketua CC PKI, Dipa Nusantara (DN) Aidit, dengan cepat meninggalkan Jakarta.
Menggunakan pesawat udara Dakota milik AURI dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Aidit terbang menuju Yogyakarta sebelum akhirnya berpindah-pindah tempat di kawasan Jawa Tengah, seperti Semarang, Klaten, hingga Surakarta (Solo).
Keputusan Aidit menjadikan Jawa Tengah sebagai tujuan pelarian utamanya bukan tanpa alasan. Berikut 4 alasan strategis dan historis mengapa DN Aidit memilih Jawa Tengah sebagai benteng pertahanan terakhirnya usai G30S membentur dinding kegagalan:
1. Jawa Tengah Merupakan 'Lumbung Suara' dan Basis Massa Terkuat PKI

Museum Pengkhianatan PKI (Komunis). (IDN Times/Febriyanti Revitasari) Pada era 1960-an, Jawa Tengah merupakan wilayah dengan basis massa PKI terbesar di Indonesia bersama Jawa Timur.
Melalui organisasi sayap seperti Barisan Tani Indonesia (BTI), Sobsi, Pemuda Rakyat, dan Gerwani, PKI memiliki pilar dukungan yang sangat mengakar hingga tingkat desa di kawasan Solo Raya, Semarang, dan Klaten.
Aidit merasa kawasan basis ini akan memberikan perlindungan alami dari himpitan aparat keamanan, sekaligus menjadi tempat aman untuk bersembunyi di antara para simpatisan loyal.
2. Adanya Dukungan dari Elemen Militer dan Kepala Daerah Lokal

Diorama penangkapan Pierre Tendean di Museum Pengkhianatan PKI (Komunis) di Lubang Buaya. (IDN Times/Febriyanti Revitasari) Perhitungan Aidit untuk kabur ke Jawa Tengah juga didasari oleh peta kekuatan politik dan militer lokal yang saat itu condong mendukungnya.
Pernyataan Dukungan Wali Kota Solo, pada 1 Oktober 1965, Wali Kota Surakarta saat itu, Utomo Ramelan, secara terbuka menjadi salah satu kepala daerah yang menyatakan dukungan terhadap keberadaan Dewan Revolusi.
Sebagian elemen perwira di dalam Kodam VII/Diponegoro dan pangkalan AURI di Yogyakarta/Solo dikenal memiliki simpati atau hubungan dekat dengan pergerakan kiri. Hal ini memberikan rasa aman psikologis bagi Aidit bahwa ia masih memiliki pelindung bersenjata di Jawa Tengah.
3. Siasat Konsolidasi Ulang dan Mengorganisir Perlawanan Bawah Tanah

DN Aidit berpidato tahun 1955 (commons.wikimedia.org) Pelarian Aidit ke Jawa Tengah bukan semata-mata untuk bersembunyi pasif, melainkan sebuah rencana taktis untuk mengonsolidasikan kembali pimpinan partai yang tercerai-berai.
Dari tempat persembunyiannya di Jawa Tengah, Aidit sempat menerbitkan instruksi dan menyebarkan pamflet yang menyatakan bahwa peristiwa G30S adalah masalah internal Angkatan Darat dan mengimbau para kader untuk tetap tenang dan merapatkan barisan.
Aidit meyakini bahwa jika kontrol politik di Jakarta hilang sepenuhnya, perjuangan partai harus digeser dari jalur politik perkotaan menjadi perlawanan gerilya berbasis pedesaan di wilayah basis Jawa Tengah.
4. Jakarta yang Cepat Terisolasi dan Mencekam

Relief peristiwa G30S PKI di Monumen Pancasila Sakti (IDN Times/Febriyanti Revitasari) Penguasaan objek-objek vital di Jakarta—seperti Gedung RRI, Kantor Telekomunikasi, dan Pangkalan Halim—oleh pasukan RPKAD di bawah komando Soeharto terjadi dalam hitungan jam.
Akses komunikasi dan pergerakan para tokoh kunci G30S di Jakarta terputus dengan cepat. Bertahan di ibu kota berarti menghadapi risiko penangkapan langsung dalam hitungan hari.
Terbang keluar dari Jakarta menuju wilayah yang siap menyambutnya menjadi satu-satunya langkah realistis bagi Aidit untuk menyelamatkan diri pada malam 1 Oktober 1965.
Akhir Tragis Pelarian di Sambeng dan Sumur Boyolali
Meski sempat berpindah-pindah lokasi persembunyian selama hampir dua bulan, pelarian DN Aidit akhirnya terhenti di Jawa Tengah.
Pada 22 November 1965, Aidit berhasil ditangkap oleh tim intelijen militer di bawah komando Kolonel Yasir Hadibroto di sebuah rumah warga di kawasan Sambeng, Solokota. Setelah menjalani pemeriksaan singkat, perjalanan hidup Ketua CC PKI tersebut berakhir di sebuah sumur tua di kawasan Boyolali, menandai runtuhnya kekuatan struktur utama partai tersebut pasca-peristiwa G30S.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















