Surakarta, IDN Times — Tragedi Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965 menjadi salah satu titik balik paling kelam dalam sejarah politik Indonesia. Ketika situasi di Jakarta mulai tidak terkendali dan operasi militer di bawah kepemimpinan Mayjen Soeharto mengambil alih ibu kota pada 1–2 Oktober 1965, Ketua CC PKI, Dipa Nusantara (DN) Aidit, dengan cepat meninggalkan Jakarta.
Menggunakan pesawat udara Dakota milik AURI dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Aidit terbang menuju Yogyakarta sebelum akhirnya berpindah-pindah tempat di kawasan Jawa Tengah, seperti Semarang, Klaten, hingga Surakarta (Solo).
Keputusan Aidit menjadikan Jawa Tengah sebagai tujuan pelarian utamanya bukan tanpa alasan. Berikut 4 alasan strategis dan historis mengapa DN Aidit memilih Jawa Tengah sebagai benteng pertahanan terakhirnya usai G30S membentur dinding kegagalan:
