Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa DN Aidit Pilih Lari ke Jateng Usai G30S Gagal? Ini Alasannya
potret D.N. Aidit dan delegasi asing dalam HUT ke-45 Partai Komunis Indonesia (commons.wikimedia.org/Yayasan Kesejahteraan Jayakarta - Kodam V Jaya; Badan Penerbit Almanak RI/B.P. Alda)
  • Usai G30S gagal dan Jakarta dikuasai operasi militer pada 1–2 Oktober 1965, DN Aidit meninggalkan ibu kota dengan pesawat AURI menuju Yogyakarta lalu berpindah di Jawa Tengah.

  • Aidit memilih Jawa Tengah karena basis massa PKI kuat, dukungan sejumlah elemen lokal, serta peluang mengonsolidasikan kader dan mengorganisir perlawanan berbasis pedesaan.

  • Setelah hampir dua bulan bersembunyi, Aidit ditangkap tim intelijen militer di Sambeng, Solokota, pada 22 November 1965; hidupnya berakhir di kawasan Boyolali.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
era 1960-an

Jawa Tengah menjadi salah satu basis massa terkuat PKI melalui organisasi seperti BTI, Sobsi, Pemuda Rakyat, dan Gerwani.

1 Oktober 1965

Wali Kota Surakarta Utomo Ramelan menyatakan dukungan terhadap keberadaan Dewan Revolusi.

malam 1 Oktober 1965

Aidit meninggalkan Jakarta menuju Jawa Tengah untuk menyelamatkan diri.

1–2 Oktober 1965

Operasi militer di bawah Mayjen Soeharto mengambil alih Jakarta, sementara akses komunikasi dan pergerakan tokoh G30S terputus.

selama hampir dua bulan

Aidit berpindah-pindah tempat persembunyian di Jawa Tengah, termasuk Semarang, Klaten, dan Surakarta.

22 November 1965

Aidit ditangkap tim intelijen militer pimpinan Kolonel Yasir Hadibroto di rumah warga di Sambeng, Solokota. Setelah pemeriksaan singkat, hidupnya berakhir di sebuah sumur tua di Boyolali.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    DN Aidit meninggalkan Jakarta setelah G30S 1965 gagal, menuju Yogyakarta lalu berpindah di Jawa Tengah, sebelum ditangkap pada 22 November 1965.
  • Who?
    Dipa Nusantara Aidit, Ketua CC PKI, ditangkap tim intelijen militer di bawah komando Kolonel Yasir Hadibroto. Mayjen Soeharto memimpin operasi militer yang mengambil alih Jakarta.
  • Where?
    Aidit berangkat dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma menuju Yogyakarta dan berpindah di Semarang, Klaten, serta Surakarta. Ia ditangkap di Sambeng, Solokota, Jawa Tengah.
  • When?
    Aidit meninggalkan Jakarta pada situasi 1 Oktober 1965, ketika operasi militer mengambil alih ibu kota pada 1–2 Oktober. Penangkapannya terjadi pada 22 November 1965.
  • Why?
    Jawa Tengah dipilih karena menjadi basis massa PKI, terdapat dukungan lokal, dinilai memungkinkan konsolidasi kader, sementara Jakarta cepat terisolasi dan berisiko penangkapan.
  • How?
    Aidit terbang dengan pesawat Dakota milik AURI dari Halim menuju Yogyakarta, lalu bersembunyi dan berpindah lokasi di Jawa Tengah hingga ditemukan tim intelijen militer.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Setelah G30S gagal pada 1965, DN Aidit pergi dari Jakarta dengan pesawat ke Yogyakarta lalu bersembunyi di Jawa Tengah. Ia memilih tempat itu karena PKI punya banyak pendukung di sana. Ia juga ingin mengumpulkan lagi teman-temannya. Tapi pada 22 November 1965, tentara menangkap Aidit di Sambeng, Jawa Tengah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah situasi politik yang bergerak cepat dan penuh tekanan, uraian ini memperlihatkan bagaimana jaringan organisasi, peta dukungan lokal, serta akses komunikasi dapat membentuk pilihan seorang tokoh. Rangkaian perpindahan Aidit juga memberi gambaran terperinci tentang Jawa Tengah sebagai ruang politik yang kompleks, sehingga pembaca dapat memahami konteks keputusan tersebut secara lebih utuh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surakarta, IDN Times — Tragedi Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965 menjadi salah satu titik balik paling kelam dalam sejarah politik Indonesia. Ketika situasi di Jakarta mulai tidak terkendali dan operasi militer di bawah kepemimpinan Mayjen Soeharto mengambil alih ibu kota pada 1–2 Oktober 1965, Ketua CC PKI, Dipa Nusantara (DN) Aidit, dengan cepat meninggalkan Jakarta.

Menggunakan pesawat udara Dakota milik AURI dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Aidit terbang menuju Yogyakarta sebelum akhirnya berpindah-pindah tempat di kawasan Jawa Tengah, seperti Semarang, Klaten, hingga Surakarta (Solo).

Keputusan Aidit menjadikan Jawa Tengah sebagai tujuan pelarian utamanya bukan tanpa alasan. Berikut 4 alasan strategis dan historis mengapa DN Aidit memilih Jawa Tengah sebagai benteng pertahanan terakhirnya usai G30S membentur dinding kegagalan:

1. Jawa Tengah Merupakan 'Lumbung Suara' dan Basis Massa Terkuat PKI

Museum Pengkhianatan PKI (Komunis). (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

Pada era 1960-an, Jawa Tengah merupakan wilayah dengan basis massa PKI terbesar di Indonesia bersama Jawa Timur.

Melalui organisasi sayap seperti Barisan Tani Indonesia (BTI), Sobsi, Pemuda Rakyat, dan Gerwani, PKI memiliki pilar dukungan yang sangat mengakar hingga tingkat desa di kawasan Solo Raya, Semarang, dan Klaten.

Aidit merasa kawasan basis ini akan memberikan perlindungan alami dari himpitan aparat keamanan, sekaligus menjadi tempat aman untuk bersembunyi di antara para simpatisan loyal.

2. Adanya Dukungan dari Elemen Militer dan Kepala Daerah Lokal

Diorama penangkapan Pierre Tendean di Museum Pengkhianatan PKI (Komunis) di Lubang Buaya. (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

Perhitungan Aidit untuk kabur ke Jawa Tengah juga didasari oleh peta kekuatan politik dan militer lokal yang saat itu condong mendukungnya.

Pernyataan Dukungan Wali Kota Solo, pada 1 Oktober 1965, Wali Kota Surakarta saat itu, Utomo Ramelan, secara terbuka menjadi salah satu kepala daerah yang menyatakan dukungan terhadap keberadaan Dewan Revolusi.

Sebagian elemen perwira di dalam Kodam VII/Diponegoro dan pangkalan AURI di Yogyakarta/Solo dikenal memiliki simpati atau hubungan dekat dengan pergerakan kiri. Hal ini memberikan rasa aman psikologis bagi Aidit bahwa ia masih memiliki pelindung bersenjata di Jawa Tengah.

3. Siasat Konsolidasi Ulang dan Mengorganisir Perlawanan Bawah Tanah

DN Aidit berpidato tahun 1955 (commons.wikimedia.org)

Pelarian Aidit ke Jawa Tengah bukan semata-mata untuk bersembunyi pasif, melainkan sebuah rencana taktis untuk mengonsolidasikan kembali pimpinan partai yang tercerai-berai.

Dari tempat persembunyiannya di Jawa Tengah, Aidit sempat menerbitkan instruksi dan menyebarkan pamflet yang menyatakan bahwa peristiwa G30S adalah masalah internal Angkatan Darat dan mengimbau para kader untuk tetap tenang dan merapatkan barisan.

Aidit meyakini bahwa jika kontrol politik di Jakarta hilang sepenuhnya, perjuangan partai harus digeser dari jalur politik perkotaan menjadi perlawanan gerilya berbasis pedesaan di wilayah basis Jawa Tengah.

4. Jakarta yang Cepat Terisolasi dan Mencekam

Relief peristiwa G30S PKI di Monumen Pancasila Sakti (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

Penguasaan objek-objek vital di Jakarta—seperti Gedung RRI, Kantor Telekomunikasi, dan Pangkalan Halim—oleh pasukan RPKAD di bawah komando Soeharto terjadi dalam hitungan jam.

Akses komunikasi dan pergerakan para tokoh kunci G30S di Jakarta terputus dengan cepat. Bertahan di ibu kota berarti menghadapi risiko penangkapan langsung dalam hitungan hari.

Terbang keluar dari Jakarta menuju wilayah yang siap menyambutnya menjadi satu-satunya langkah realistis bagi Aidit untuk menyelamatkan diri pada malam 1 Oktober 1965.

Akhir Tragis Pelarian di Sambeng dan Sumur Boyolali

Meski sempat berpindah-pindah lokasi persembunyian selama hampir dua bulan, pelarian DN Aidit akhirnya terhenti di Jawa Tengah.

Pada 22 November 1965, Aidit berhasil ditangkap oleh tim intelijen militer di bawah komando Kolonel Yasir Hadibroto di sebuah rumah warga di kawasan Sambeng, Solokota. Setelah menjalani pemeriksaan singkat, perjalanan hidup Ketua CC PKI tersebut berakhir di sebuah sumur tua di kawasan Boyolali, menandai runtuhnya kekuatan struktur utama partai tersebut pasca-peristiwa G30S.

Curated For You

Editorial Team

Related Article