Para penari Bedhaya Ketawang. (IDN Times/Larasati Rey)
Setelah itu, para penari yang membawakan Tari Bedhaya Ketawang ke luar dari kediaman raja menuju tengah Pendapa Sasana Sewaka. Keluarnya para penari tersebut diiringi dengan gamelan.
Menjadi salah satu tarian sakral, para penari memulai tarian yang berlangsung hampir dua jam.
Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat KGPH Dipokusumo mengatakan, upacara adat Tingalan Jumenengan ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda. Upacara ini mengandung unsur gamelan, sandangan, dan Tari Bedhaya, yang menjadi inti dari prosesi tersebut.
"Ini memerlukan persepsi, konsistensi, dan pengertian supaya berlangsung dengan khidmat. Hal ini berkaitan dengan cultural heritage atau wisata budaya, yang memiliki nilai tradisi. Namun, kita mencoba menggunakan modifikasi sehingga kegiatan budaya ini memiliki nilai ekonomi untuk memberikan manfaat kepada masyarakat luas," jelasnya.