Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Keutamaan dan Tata Cara Salat Tarawih Sepanjang Bulan Ramadan
ilustrasi salat tarawih (pexels.com/Mohammed Alim)
  • Salat tarawih adalah ibadah sunah muakkad di bulan Ramadan dengan keutamaan berbeda tiap malam, dibagi dalam tiga fase: rahmat, ampunan, dan pembebasan dari neraka.
  • Kitab Durratun Nashihin menjelaskan fadhilah tiap malam tarawih sebagai motivasi spiritual, namun ulama menegaskan bahwa keikhlasan tetap menjadi dasar utama setiap ibadah.
  • Tata cara salat tarawih meliputi niat, jumlah rakaat 11 atau 23, rukun seperti salat fardu, amalan sela rakaat berupa selawat, serta penutup dengan doa kamilin dan salat witir.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Salat tarawih merupakan ibadah sunah muakkad yang sangat dianjurkan selama bulan Ramadan. Berdasarkan Kitab Durratun Nashihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakir al-Khaubawi, pelaksanaan salat tarawih dari malam pertama hingga malam ketiga puluh memiliki beragam keutamaan (fadhilah).

Para ulama mengingatkan bahwa riwayat keutamaan dalam kitab tersebut berfungsi sebagai targhib atau motivasi agar umat Islam lebih semangat beribadah. Namun, landasan utama dari setiap ibadah tetaplah keikhlasan dalam mengharapkan rida Allah SWT.

Dekade Pertama: Fase Rahmat (Malam 1-10)

ilustrasi shalat tarawih secara berjamaah (pexels.com/Abid Ali)

  • Malam ke-1: Diampuni dosanya seperti saat baru dilahirkan.

  • Malam ke-2: Diampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya (jika mukmin).

  • Malam ke-3: Malaikat berseru agar memulai amal baru karena Allah telah mengampuni dosa masa lalu.

  • Malam ke-4: Mendapat pahala seperti membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur'an.

  • Malam ke-5: Mendapat pahala setara salat di Masjidilharam, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha.

  • Malam ke-6: Malaikat yang tawaf di Baitulmakmur memohonkan ampunan baginya.

  • Malam ke-7: Seakan-akan bertemu dan menolong Nabi Musa AS melawan Fir'aun dan Haman.

  • Malam ke-8: Diberi anugerah seperti yang diberikan kepada Nabi Ibrahim AS.

  • Malam ke-9: Ibadahnya setara dengan ibadah para nabi.

  • Malam ke-10: Diberikan kebaikan dunia dan akhirat yang lebih baik dari apa pun.

Dekade Kedua: Fase Ampunan (Malam 11-20)

Ilustrasi umat Islam melaksanakan Shalat Tarawih. (ANTARA FOTO/Umarul Faruq)

  • Malam ke-11: Wafat dalam keadaan suci dari dosa seperti bayi baru lahir.

  • Malam ke-12: Datang pada hari kiamat dengan wajah bersinar terang seperti bulan purnama.

  • Malam ke-13: Selamat dari keburukan yang menakutkan pada hari kiamat.

  • Malam ke-14: Dibebaskan dari hisab karena malaikat bersaksi atas salatnya.

  • Malam ke-15: Malaikat pemikul Arasy dan Kursi memohonkan ampunan baginya.

  • Malam ke-16: Allah menetapkan kebebasan dari neraka dan izin masuk surga.

  • Malam ke-17: Diberi pahala sebagaimana pahala para nabi.

  • Malam ke-18: Malaikat berseru bahwa Allah telah meridainya dan kedua orang tuanya.

  • Malam ke-19: Derajatnya diangkat ke Surga Firdaus.

  • Malam ke-20: Diberi pahala seperti orang mati syahid dan orang saleh.

Dekade Ketiga: Fase Pembebasan dari Neraka (Malam 21-30)

Ilustrasi umat Islam melaksanakan Shalat Tarawih. (ANTARA FOTO/Fauzan)

  • Malam ke-21: Dibangunkan rumah dari cahaya di surga.

  • Malam ke-22: Datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari segala kesedihan.

  • Malam ke-23: Dibangunkan sebuah kota di surga.

  • Malam ke-24: Dikabulkan 24 doa yang dipanjatkan.

  • Malam ke-25: Dibebaskan dari siksa kubur.

  • Malam ke-26: Pahalanya diangkat setara dengan 40 tahun ibadah.

  • Malam ke-27: Melewati jembatan Sirat secepat kilatan petir.

  • Malam ke-28: Derajatnya diangkat seribu tingkat di surga.

  • Malam ke-29: Mendapat pahala setara 1.000 kali haji mabrur.

  • Malam ke-30: Dipersilakan menikmati hidangan surga dengan firman Allah: "Makanlah buah surga ini, Aku adalah Tuhanmu dan engkau adalah hamba-Ku."

Panduan dan Tata Cara Salat Tarawih

Ilustrasi sejumlah warga melaksanakan Shalat Tarawih. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Berikut adalah tata cara pelaksanaan salat tarawih sesuai sunah, baik secara berjemaah maupun sendiri (munfarid):

1. Bacaan Niat Salat Tarawih Niat dilakukan di dalam hati sebelum takbiratulihram.

  • Sebagai Makmum: "Ushalli sunnatat tarawhi rak'ataini mustaqbilal qiblati ma'muman lillahi ta'ala."

  • Salat Sendiri (Munfarid): "Ushalli sunnatat tarawhi rak'ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta'ala."

2. Formasi Jumlah Rakaat Sesuai anjuran umum di Indonesia, tarawih dilakukan dengan pola dua rakaat satu salam.

  • Formasi 11 Rakaat: 8 rakaat tarawih (4 kali salam) dilanjutkan 3 rakaat witir.

  • Formasi 23 Rakaat: 20 rakaat tarawih (10 kali salam) dilanjutkan 3 rakaat witir.

3. Rukun dan Gerakan Salat Secara teknis, rukun tarawih sama dengan salat fardu:

  • Takbiratulihram.

  • Membaca doa ikftitah (sunah).

  • Membaca surah Al-Fatihah (wajib).

  • Membaca surah pendek Al-Qur'an (sunah, disarankan berurutan).

  • Rukuk, iktidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan tahiyat akhir.

  • Salam.

4. Amalan Tambahan Sela Rakaat Di sela-sela setiap dua rakaat, biasanya bilal akan melantunkan selawat atau pujian kepada Khulafaur Rasyidin. Meskipun tidak wajib, hal ini menjadi tradisi baik untuk menjaga kekhusyukan.

5. Doa Kamilin dan Salat Witir Setelah menyelesaikan seluruh rakaat tarawih (sebelum atau sesudah witir), disunahkan membaca Doa Kamilin untuk menyempurnakan pahala. Rangkaian ibadah ini wajib ditutup dengan salat witir (rakaat ganjil). Umumnya, witir dilakukan sebanyak tiga rakaat dengan pola dua kali salam (dua rakaat salam, lalu satu rakaat salam) atau langsung tiga rakaat dengan satu salam.

Editorial Team