Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

KHI 2026 di Solo Siapkan Peta Jalan Humas, Soroti Kepercayaan Publik

Kota Surakarta
3 min read
KHI 2026 di Solo Siapkan Peta Jalan Humas, Soroti Kepercayaan Publik
Pembukaan Konvensi Perhumas di Kota Solo. (IDN Times/Larasati Rey)
  • KHI 2026 di Solo menempatkan kepercayaan publik sebagai fokus, dengan dorongan agar humas mendengar kebutuhan masyarakat dan menyelaraskan pesan dengan tindakan nyata.
  • Perhumas menyiapkan rekomendasi strategis sebagai kompas dan peta jalan praktisi humas, sekaligus menekankan verifikasi informasi serta etika menghadapi AI dan deepfake.
  • Konvensi menghadirkan sesi tentang polarisasi, krisis komunikasi, AI generatif, hingga regenerasi kepemimpinan; hari kedua berfokus pada Perhumas Muda dan kompetisi Strategic PR serta Creative PR.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surakarta, IDN Times — Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2026 di Solo diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis yang menjadi panduan bagi praktisi hubungan masyarakat. Kepercayaan publik menjadi perhatian utama dalam forum tahunan Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) tersebut.

Mengangkat tema “Humas sebagai Daya Bangsa” dengan subtema “Menenun Kepercayaan dan Menggerakkan Bangsa”, konvensi yang digelar pada 17-18 Oktober 2016 di The Sunan Hotel, Solo ini membahas peran humas dalam menghadapi tantangan komunikasi, perkembangan teknologi, hingga regenerasi kepemimpinan profesi.

  1. 1. Humas perlu ikut mendengar kebutuhan masyarakat.

    IMG_5959.jpeg
    Pembukaan Konvensi Perhumas di Kota Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

    Ketua Umum Perhumas, Boy Kelana Soebroto mengatakan pekerjaan humas tidak cukup sebatas membuat siaran pers dan menyebarkan informasi kepada media. Praktisi komunikasi juga perlu memahami tujuan institusi sekaligus memastikan pesan yang disampaikan selaras dengan tindakan nyata.

    “Dalam berkomunikasi kita harus membangun kepercayaan,” ujar perwakilan Perhumas.

    Kepercayaan tersebut perlu dibangun secara konsisten dan berkelanjutan. Dalam pemerintahan, misalnya, komunikasi perlu diiringi kesediaan mendengarkan kebutuhan masyarakat sebelum sebuah kebijakan diterbitkan.

    Sementara di lingkungan korporasi, komunikasi tidak cukup hanya menonjolkan kinerja bisnis. Perusahaan juga perlu menjelaskan dampak kegiatannya terhadap masyarakat, lingkungan, dan keberlanjutan.

    Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut menjadi perhatian. Teknologi ini dapat membantu pekerjaan komunikasi, tetapi juga berpotensi digunakan untuk membuat informasi keliru hingga konten manipulatif seperti deepfake.

    Karena itu, Perhumas mengingatkan pentingnya etika dalam menggunakan teknologi dan menyebarkan informasi. Informasi yang beredar luas atau disampaikan secara berulang belum tentu benar.

    Praktisi humas dan media pun didorong memeriksa kebenaran informasi serta merujuk sumber yang dapat diverifikasi sebelum menyebarkannya kepada publik.

    Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah masyarakat menerima informasi salah sebagai sebuah kebenaran.

  2. 2. Rekomendasi disiapkan sebagai kompas bagi praktisi humas.

    IMG_5992.jpeg
    Pembukaan Konvensi Perhumas di Kota Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

    Dalam konferensi pers KHI 2026, Boy menyampaikan bahwa kepercayaan merupakan unsur penting yang membutuhkan kontribusi nyata dari praktisi humas.

    Pembahasan sepanjang konvensi diharapkan menjadi bahan penyusunan rekomendasi dan program strategis. Hasilnya ditujukan untuk membantu praktisi humas menentukan arah kerja ke depan.

    “Kalau saya sebut sebagai kompas dan peta jalan buat para pelaku,” ungkapnya.

    Panduan tersebut diharapkan dapat digunakan setidaknya untuk satu tahun mendatang. Penyusunan rekomendasi menjadi salah satu kontribusi Perhumas melalui penyelenggaraan KHI 2026.

  3. 3. Enam sesi hari pertama bahas polarisasi hingga AI.

    IMG_6005.jpeg
    Jumpa pers Pembukaan Konvensi Perhumas di Kota Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

    Sementara itu dikesempatan yang sama, Ketua BPC Perhumas Surakarta, Andre Rahmanto mengatakan konvensi ini membahas bergai hal, ada enam sesi pada hari pertama. Sejumlah topik yang dibahas meliputi narasi kebangsaan di era polarisasi, kolaborasi organisasi profesi, serta integrasi humas di era kecerdasan buatan generatif.

    Forum ini juga membahas penanganan komunikasi pada masa awal krisis melalui sesi bertajuk Golden Hour Crisis Information.

    Berbagai sesi tersebut menghadirkan pembicara dari institusi pemerintah, korporasi, organisasi profesi, dan industri media. Pertemuan lintas bidang ini diharapkan memperluas ruang kolaborasi bagi praktisi komunikasi.

    Hari kedua disiapkan dengan fokus pada Perhumas Muda melalui empat sesi diskusi. Topiknya mencakup “Dari Clickbait ke Aksi Berdampak”, “Bangkit dari Blunder Komunikasi”, “Estafet Kepemimpinan PR Masa Depan”, serta “Menghidupkan Data Menjadi Narasi”.

    Penyelenggara menjadwalkan kehadiran pembicara dari kalangan kreator konten, pelaku industri, pemerintahan, dan praktisi komunikasi untuk berbagi pengalaman.

    Selain diskusi, hari kedua juga akan diisi pengumuman pemenang kompetisi Perhumas Muda. Terdapat dua kategori yang dipertandingkan, yakni Strategic PR dan Creative PR.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More