Ilustrasi sejumlah rumah yang terdampak banjir rob (limpasan air laut ke daratan) permanen di Desa Timbulsloko, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Minggu (21/12/2025). (ANTARA FOTO/Aji Styawan)
Di balik keberhasilan tersebut, transformasi menuju Desa Mandiri Energi (DME) menghadapi tantangan serius. Hariyanto mengungkapkan, kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat membuat kapasitas fiskal desa menyusut. Sebelumnya, Desa Banjarsari mengelola Dana Desa lebih dari Rp1 miliar, namun kini alokasi tersebut berkurang signifikan.
Situasi itu memperberat beban desa yang harus menghadapi bencana penurunan muka tanah dan banjir rob yang kian masif menggenangi permukiman. Di sisi lain, biaya pemeliharaan infrastruktur EBT, termasuk penggantian suku cadang, membutuhkan dana sekitar Rp7--8 juta per tahun. Tantangan lainnya terletak pada penyiapan sumber daya manusia (SDM) lokal.
“Saya ingin ada warga yang dilatih agar ketika terjadi kerusakan kecil tidak perlu memanggil tim dari Semarang,” jelas Hariyanto.
Ia menilai, pengaturan anggaran yang terlalu sentralistik dan kaku menghambat ruang gerak inovasi kepala desa, terutama bagi desa pesisir yang memiliki beban ganda menangani bencana sekaligus melakukan transisi energi.