Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kisah Pelaku UMKM di Banyumas, Jualan Kerupuk, Kini Omset Tembus Puluhan Juta

Kab. Banyumas
3 min read
Kisah Pelaku UMKM di Banyumas, Jualan Kerupuk, Kini Omset Tembus Puluhan Juta
Kayah, wanita 55 tahun asal Garut yang merintis usaha dari jualan kerupuk keliling kini telah punya pabrik sendiri dengan 10 karyawan, Senin (28/9/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
  • Kayah merintis usaha kerupuk di Sokaraja sejak 2004 dengan modal sekitar Rp20 juta, dari berjualan keliling hingga memiliki pelanggan di Banyumas, Purbalingga, Cilacap, dan Banjarnegara.

  • Usaha kerupuk Kayah pernah mencatat omzet hingga Rp50 juta per bulan, dengan produk yang dikenal karena rasa gurih dan teksturnya renyah.

  • Kenaikan harga bahan baku menurunkan produksi harian dari sekitar 1 ton menjadi 5 kuintal, Kayah tetap bertahan demi keluarga dan 10 pekerja sambil berharap harga stabil.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Banyumas, IDN Times – Merantau dari Garut, Jawa Barat, ke Purwokerto, Jawa Tengah, Kayah tak menyangka usaha kerupuk yang dirintisnya sejak 2004 bisa berkembang hingga menjangkau sejumlah daerah di wilayah Eks-Karesidenan Banyumas.

Dengan modal awal sekitar Rp20 juta, ibu rumah tangga ini perlahan membangun usaha dari Desa Sokaraja Kulon, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Dari berjualan secara keliling, produknya kini memiliki pelanggan di Banyumas, Purbalingga, Cilacap, hingga Banjarnegara.

Perjalanan Kayah tentu tidak selalu mulus. Kenaikan harga bahan baku membuat kapasitas produksinya harus dikurangi. Meski begitu, ia memilih tetap bertahan karena usaha tersebut bukan hanya menjadi sumber penghasilan keluarga, tetapi juga memberikan pekerjaan bagi warga sekitar.

  1. 1. Bermodal Rp20 juta, omzet usahanya pernah mencapai Rp50 juta per bulan

    Krupuk rasa cokelat buatan Kayah dan keluarganya tersusun di wadah, siap digoreng pada 28 September 2026.
    Salah satu krupuk rasa coklat hasil buatan Kayah bersama keluarga yang siap untuk digoreng, Senin (28/9/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

    Kayah mulai merintis usaha kerupuk setelah merantau ke Purwokerto pada 2004. Dengan modal sekitar Rp20 juta, ia memulai produksi secara sederhana dan memasarkannya secara keliling.

    Seiring waktu, usaha tersebut berkembang. Kerupuk buatannya mulai dikenal dan memiliki pelanggan di sejumlah wilayah.

    "Awalnya saya merantau ke Purwokerto tahun 2024. Modal pertama Rp20 juta, sampai sekarang omzet bisa Rp50 juta," ujar Kayah kepada IDN Times, Senin (28/9/2026).

    Menurutnya, salah satu hal yang menjadi daya tarik produknya adalah cita rasa yang gurih dan teksturnya yang renyah. "Yang istimewa dari produk kami, rasanya gurih dan enak," katanya.

  2. 2. Kenaikan bahan baku membuat produksi turun setengahnya

    Kayah berdiri di tengah hasil usahanya yang dikerjakan bersama 10 karyawan saat menghadapi kenaikan harga bahan baku.
    Kayah (tengah) dengan hasil usaha yang dibantu 10 karyawan hadapi tantangan besar ketika harga bahan baku naik terus hingga menyesuaikan harga jual yang sepadan, Senin (28/9/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

    Di balik perkembangan usahanya, Kayah kini menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku.

    Sebelumnya, produksi kerupuknya bisa mencapai sekitar 1 ton dalam sehari. Namun, kondisi tersebut berubah seiring meningkatnya biaya produksi.

    "Sekarang menurun, paling lima kuintal, karena bahan bakunya mulai naik dan mahal,"kata dia.

    Penurunan produksi tersebut membuat Kayah harus menyesuaikan aktivitas usahanya. Kenaikan harga bahan baku menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi agar bisnis tetap berjalan.

    Meski kapasitas produksi berkurang hingga sekitar setengah dari sebelumnya, Kayah tidak memilih berhenti. Ia tetap menjalankan usaha dengan menyesuaikan kemampuan produksi dan kondisi biaya yang dihadapi.

  3. 3. Mempekerjakan 10 orang dan berharap harga bahan baku kembali stabil

    Seorang pekerja berada di pabrik kerupuk milik Kayah sambil berharap pemerintah menstabilkan harga kebutuhan.
    Salah satu pekerja di pabrik krupuk milik Kayah juga berharap pada pemerintah agar harga kebutuhan bisa stabil, Senin (28/9/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

    Bagi Kayah, usaha kerupuk yang dijalankan bukan hanya soal mendapatkan keuntungan. Bisnis tersebut juga menjadi sumber penghasilan bagi sejumlah warga di sekitarnya.

    Saat ini, ia mempekerjakan sekitar 10 orang untuk membantu menjalankan usaha.

    Karena itu, keberlangsungan usaha menjadi penting bagi Kayah. Ia berharap harga bahan baku bisa lebih stabil sehingga produksi dapat kembali meningkat.

    "Harapan saya, harga bahan baku bisa stabil, supaya usahanya bisa tambah lancar lagi,"ujarnya.

    Perjalanan Kayah menunjukkan bagaimana usaha yang dimulai dengan modal terbatas dapat berkembang ketika dijalankan secara konsisten.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More