Penyuluh Agama Islam KUA Mijen, Zahrotun Nisa (kiri) mengajarkan tata cara Tayamum kepada Ernawati (kedua kiri), dan kedua anaknya, Arthur (tengah) dan Marco (kanan), yang difabel di Semarang, Kamis (15/1/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)
Selain aspek spiritual, KUA Mijen menyadari ketahanan ekonomi menjadi faktor vital dalam menjaga akidah, terutama bagi keluarga rentan. Penyuluh Agama Islam Kota Semarang yang bertugas di Mijen, Agus Winarno, menekankan pendekatan holistik dalam membina mualaf.
"Di dalam Islam kada al-faqru an yakuna kufra (kefakiran dekat dengan kekufuran). Jadi ekonomi ini bisa kalau orang kepepet (terdesak masalah keuangan), itu lebih bisa gampang menjurus ke kufur," terang Agus.
Agus menjelaskan, pihaknya ikut memetakan (mapping) terhadap latar belakang mualaf. Karena Erna berstatus janda, pendekatan yang dilakukan tidak hanya pengajaran agama, tetapi juga pemberdayaan ekonomi.
KUA Mijen sendiri bermitra dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan menyalurkan zakat profesi untuk membantu kebutuhan keluarga tersebut.
Sementara itu, dalam proses administrasi, Agus memastikan perpindahan agama Erna dan kedua anaknya dilandasi kebebasan memilih dan tanpa tekanan dari pihak mana pun, sesuai dengan prinsip hak asasi manusia (HAM).
"Sebelum masuk Islam itu ada surat pernyataan bahwa tidak dalam tekanan. Agama itu hak beragama manusia dan kebebasan memilih. Kita junjung tinggi itu," pungkasnya.