Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Widiawati dengan model rangkaian buket uang asli, berawal dari hobi dan modal 10 juta kini menghasilkan cuan jutaan rupiah, Rabu (4/11/2026).(IDN Times/Foto : Dok. Widiawati)
  • Widiawati dan Ahmad mendirikan AKILA Florist di Purwokerto pada Februari 2023, mengubah hobi merangkai bunga sejak kuliah menjadi usaha dengan modal awal sekitar Rp10 juta.

  • AKILA membidik mahasiswa, pelanggan premium, dan momen musiman seperti wisuda serta Valentine, dengan produk bunga segar, artificial, dan satin yang menyasar kebutuhan serta harga berbeda.

  • Usaha berbasis rumah ini memperluas layanan ke bunga papan, standing flower, dan papan akrilik, didukung pemasaran digital serta pemesanan-pengiriman 24 jam hingga sejumlah wilayah sekitar Banyumas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banyumas, IDN Times - Merintis usaha tidak selalu harus diawali dengan menyewa toko atau menyiapkan modal besar. Hal itu dibuktikan Widiawati (30) bersama Ahmad Nurhakim melalui bisnis rangkaian bunga bernama AKILA Florist di Purwokerto, Kabupaten Banyumas.

Berawal dari kegemaran merangkai bunga sejak masih kuliah pada 2018, Widiawati perlahan mengembangkan keterampilannya menjadi peluang usaha. Kini, bisnis yang awalnya hanya berfokus pada buket bunga tersebut berkembang dengan menyediakan berbagai kebutuhan florist, mulai dari bunga papan, standing flower hingga papan akrilik.

AKILA Florist resmi berdiri pada Februari 2023, bertepatan menjelang perayaan Hari Valentine. Momen tersebut sengaja dipilih untuk menguji potensi pasar rangkaian bunga di Purwokerto.

Bersama Ahmad Nurhakim sebagai co-founder, Widiawati mengembangkan usaha dengan memadukan keterampilan merangkai bunga dan strategi pemasaran digital.

"Awalnya saya memang suka merangkai bunga sejak kuliah. Dari situ kemudian belajar secara otodidak sampai akhirnya terpikir untuk mengembangkan hobi ini menjadi usaha,"ujar Widiawati.

1. Belajar merangkai bunga secara otodidak, modal awal Rp10 juta

Ketertarikan Widiawati muncul saat masih menjadi mahasiswa Unsoed, ada peluang bisnis ketika dirinya melihat rekannya membawa buket, Rabu (4/11/2026).(IDN Times/Foto :Dok. Widiawati)

Ketertarikan Widiawati terhadap dunia florist bermula ketika masih menjadi mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Pada 2018, tren buket bunga berbahan kain flanel dan pita satin mulai diminati. Widiawati kemudian mempelajari teknik merangkai bunga secara mandiri melalui YouTube dan berbagai situs kerajinan tangan dari luar negeri, terutama Rusia dan Thailand.

Berbekal pengetahuan tersebut, dia mulai menerima pesanan dari teman kuliah hingga mahasiswa di sejumlah kampus sekitar Purwokerto.

"Saya belajar sendiri dari YouTube dan situs-situs kerajinan tangan luar negeri. Waktu itu banyak referensi dari Rusia dan Thailand. Jadi, sambil belajar saya juga langsung mencoba membuat rangkaian bunga," katanya.

Lima tahun kemudian, tepatnya Februari 2023, Widiawati memutuskan mengembangkan keterampilannya menjadi usaha florist yang lebih serius.

Modal awal yang dikeluarkan sekitar Rp10 juta. Dana tersebut digunakan untuk membeli berbagai jenis bunga segar, bunga artificial atau sintetis, serta perlengkapan merangkai bunga.

Dalam menjalankan bisnis, Widiawati memiliki pengalaman langsung sebagai perangkai bunga. Sementara Ahmad Nurhakim membawa pengalaman profesional di bidang digital marketing, termasuk pernah bekerja di perusahaan e-commerce yang bergerak dalam industri hadiah atau gift, FlowerAdvisor.

Ahmad sendiri sebelumnya bekerja di Jakarta sebelum terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 2023. Kepindahannya ke Purwokerto kemudian menjadi momentum untuk membangun usaha bersama Widiawati.

Menurut Ahmad, pengalaman keduanya menjadi kombinasi penting dalam membangun bisnis florist.

"Kami melihat bisnis ini bisa dijalankan dari rumah. Widiawati sudah memiliki pengalaman dalam merangkai bunga, sedangkan saya memiliki pengalaman di bidang digital marketing dan e-commerce. Jadi, keduanya bisa saling melengkapi," jelas Ahmad.

2. Melihat peluang dari mahasiswa hingga pelanggan premium

Rangkaian bunga artificial premium yang di pesan oleh wisudawan telkom university.(IDN Times/Foto : Dok. Widiawati)

Purwokerto menjadi salah satu wilayah yang dinilai memiliki peluang bagi bisnis florist. Keberadaan sejumlah perguruan tinggi menghadirkan pasar potensial, terutama ketika musim wisuda tiba.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat, pada 2024 Kabupaten Banyumas memiliki 17 perguruan tinggi negeri dan swasta di bawah kementerian terkait, dengan jumlah mahasiswa mencapai 63.137 orang.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan AKILA Florist dalam membidik pasar mahasiswa, khususnya untuk kebutuhan buket wisuda.

"Purwokerto memiliki pasar mahasiswa yang cukup besar. Dalam setahun ada beberapa periode wisuda kampus. Itu menjadi peluang karena buket bunga sering menjadi salah satu pilihan hadiah untuk merayakan kelulusan," ungkap Ahmad.

Selain wisuda perguruan tinggi, permintaan juga berpotensi meningkat menjelang kelulusan siswa SMP dan SMA, serta berbagai perayaan seperti ulang tahun, anniversary, Hari Ibu dan Valentine.

Menurut keduanya, permintaan buket memiliki pola musiman. Periode Mei hingga September biasanya menjadi masa ramai pesanan, sedangkan Oktober hingga Desember cenderung lebih sepi untuk produk buket.

Hari Valentine menjadi salah satu momen dengan lonjakan pesanan paling tinggi dibandingkan hari biasa.

Selain mahasiswa, mereka juga membidik pelanggan dari kalangan menengah atas yang membutuhkan rangkaian bunga premium untuk berbagai acara personal maupun keluarga.

Dari sisi produk, AKILA Florist menawarkan tiga jenis rangkaian bunga yang memiliki karakteristik berbeda.

Pertama, bunga segar seperti mawar merah, mawar pink dan lily. Jenis ini banyak digunakan untuk mengungkapkan kasih sayang kepada pasangan maupun orang tua.

Kedua, bunga artificial yang terdiri dari berbagai jenis, seperti mawar, hydrangea, carnation, gerbera, lily, anggrek dan peony. Keunggulannya adalah lebih tahan lama sehingga bisa dijadikan kenang-kenangan dalam berbagai momen, termasuk wisuda, ulang tahun hingga lamaran.

Ketiga, bunga satin yang dibuat secara handmade menggunakan pita satin dan dibentuk menyerupai bunga mawar. Pilihan warnanya beragam, mulai dari merah, pink, biru hingga hitam.

Produk ini menyasar anak muda karena tampilannya menarik dan dapat dibentuk menjadi buket bulat maupun bentuk hati.

"Buket satin cukup diminati anak muda karena harganya lebih terjangkau, tetapi tetap memiliki nilai estetika. Selain itu, bunganya juga tidak mudah layu seperti bunga segar,"kata Widiawati.

3. Mengembangkan layanan 24 jam hingga merambah pasar korporasi

Perjuangannya merintis usaha buket dan rangkaian bunga, kini Widiawati dan Ahmad mampu menembus korporasi terutama di Purwokerto yang merupakan pasar potensial. (IDN Times/Foto : Dok. Widiawati)

Seiring perkembangan usaha, AKILA yang awalnya dikenal sebagai AKILA Buket mulai memperluas layanan menjadi AKILA Florist. Tidak hanya menyediakan buket bunga, bisnis ini juga melayani kebutuhan acara formal dan korporasi melalui produk bunga papan, standing flower serta papan akrilik.

Untuk kebutuhan personal, pilihan produknya meliputi buket bunga segar, artificial, satin, uang, makanan ringan, buket wisuda hingga buket rokok. Sementara itu, produk untuk kebutuhan formal mencakup ucapan selamat, grand opening, pernikahan hingga ungkapan belasungkawa.

Salah satu layanan yang ditawarkan adalah pemesanan dan pengiriman selama 24 jam. AKILA Florist juga menyediakan layanan surprise delivery, termasuk midnight delivery untuk memberikan kejutan ulang tahun menjelang pukul 00.00 WIB.

Jangkauan pengiriman meliputi Purwokerto, wilayah Banyumas, Cilacap, Ajibarang hingga Purbalingga. Pengiriman dapat dilakukan menggunakan kurir internal, layanan Grab atau GoSend, maupun pelanggan mengambil pesanan secara langsung.

"Keunggulan yang ingin kami tawarkan adalah kemudahan layanan. Pelanggan bisa memesan untuk berbagai kebutuhan, bahkan untuk kejutan tengah malam. Kami juga menyediakan layanan pengiriman agar pelanggan tidak harus datang langsung,"jelas Ahmad.

Strategi pemasaran digital turut menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha tersebut. Pengalaman Ahmad di bidang digital marketing dimanfaatkan untuk menjangkau pelanggan tanpa harus bergantung pada keberadaan toko fisik.

Strategi tersebut sejalan dengan perkembangan digitalisasi UMKM di Indonesia. Kementerian Koperasi dan UKM mencatat sebanyak 25,5 juta UMKM telah masuk ke ekosistem digital hingga Juli 2024. Pemanfaatan media sosial dan perdagangan elektronik menjadi bagian dari transformasi pemasaran usaha kecil dan menengah.

Meski demikian, persaingan bisnis florist di Purwokerto cukup ketat. Pesanan tidak selalu datang setiap hari, terutama ketika memasuki periode sepi permintaan.

Bagi Widiawati dan Ahmad, fleksibilitas menjalankan usaha dari rumah menjadi salah satu keunggulan. Selain dapat menekan biaya operasional, mereka juga memiliki keleluasaan melayani pelanggan yang membutuhkan rangkaian bunga untuk berbagai momen.

"Memang tidak setiap hari ada pesanan. Bisnis bunga sangat bergantung pada momen. Namun, dengan menjalankan usaha dari rumah, kami bisa lebih fleksibel dalam mengatur operasional dan melayani pelanggan,"tutup Ahmad.

Dari usaha yang berawal dari keterampilan otodidak, AKILA Florist kini terus mengembangkan produk dan layanan dengan menyasar kebutuhan pelanggan personal hingga korporasi.

Editorial Team

Related Article